
🌹Emak sayang kalian🌹
🌹igeh emak : @RedLily123🌹
🌹selamat membaca🌹
Sesampainya di rumah, Oma Asih beristirahat di kamarnya. Sebenarnya dia merasa lemas bukan karena sakit perut, tapi karena perasaan bersalahnya yang telah membohongi Vanessa.
Tidak terbayang bagaimana rasanya mengetahui orang yang kita sayangi ternyata sudah meninggal, dan sudah terkubur begitu saja.
Oma Asih ingin cucunya cepat pulang sehingga tidak terjadi masalah, Oma tidak ingin ada pertengkaran yang malah membuat calon cicitnya ikut merasakannya.
Sebelum Vanessa masuk ke kamar, Oma mengambil ponselnya untuk menghubungi Judi. Namun sayangnya, pria itu mematikan ponselnya sehingga sulit dihubungi.
"Oma," ucap Vanessa membuka pintu kamar sambil membawa cemilan. "Udah mendingan? Si Bibi bikin air jahe gula anget."
"Makasih, Van."
Vanessa tersenyum, dia sudah tahu kalau Oma sakit, dia tidak ingin ditinggal sendiri dan selalu ingin keramaian. Setidaknya ada satu orang yang menemani.
"Oma mau nonton?"
"Nyalain aja TV nya."
Vanessa melakukannya, dia menyalakan TV dan duduk di karpet bawah samping ranjang. Dekat tempat duduk Vanessa, ada perapian yang terhalang kaca. Karena diluar hujan gerimis, Vanessa menyalakannya.
"Duduknya di atas, Van."
"Mau ngemil, Oma. Nanti banya semut di sana," ucap Vanessa yang memang betah di kamar Oma. Jika di kamarnya, dia malah teringat dengan suaminya yang dia rindukan. "Mas Judi jarang nelpon."
Kalimat tiba tiba itu membuat Oma Asih terdiam. "Jarang gimana?"
Vanessa tertawa. "Biasanya kan sejam sekaali. Tapi bukannya Vanessa mau gitu, heran aja sekarang enggak."
"Lagi banyak kerjaan kayaknya, Van."
"Iya, Mas Judi bilang juga bilang kayaknya sebulanan paling lama di sana."
__ADS_1
Sebulan? Oma bertanya tanya dalam pikirannya sendiri. Bagaimana bisa dia sebulan menahan Vanessa tidak bertemu ayahnya.
"Van?"
"Kenapa? Oma mau tidur?"
"Enggak, biasanya juga kalau mau tidur mah tinggal merem. Itu dong…"
"Kenapa, Oma?"
"Mau telur dadar, tapi buatan kamu ya."
Vanessa mengangguk dan tanpa banyak bicara keluar dari kamar.
Kesempatan itulah yang dipakai Oma untuk menghubungi Tante Metry supaya anaknya bisa membantu menyadarkan Judi. Setidaknya pulang dulu untuk menyelesaikan masalah dan membuat Vanessa tenang sebelum mengetahuinya dari orang lain.
"Hallo assalamualaikum. Kenapa, Bu?"
"Waalikum salam. Met, ibu mau cerita."
🌹🌹🌹
"Jud, lu di sini?" Tanya teman Judi yang juga besar di Belanda.
Sama sepertinya, dia adalah blasteran Belanda-Indonesia. Dulu mereka sekolah bersama di Amsterdam.
"Sean, gue pikir lu udah pindah negara lagi."
"Broo! Gue di sini terus," ucap pria bernama Sean itu bersalaman layaknya sahabat pria. "Gimana kabar lu?"
"You can see."
"Yeah! Masih ganteng, masih pinter 'kan? Gue udah tamat S2 dua jurusan."
Judi terkekeh. "Lu kira gue enggak?"
"***** lah saingan mulu sama gue!"
__ADS_1
Keduanya tertawa, dan duduk di bangku. "Lu netep di sini, Jud? Katanya lu udah nikah, sama bule lagi?"
"Blasteran. Kok lu tau?"
"Emak gue tukang arisan, tau lah. Entah dari mana."
"Ah, Bu Lilis kan emak lu? Gue pernah ketemu sama dia, keknya dia ngomong sama lu."
"Dia bilang gue harus kayak lu, cepet cepet nikah. Well, gue masih dua dua tahun."
"Gue denger bokap lu meninggal."
"Well, yes."
"Kok lu malah ketawa?"
"Warisan punya gue dong, anak satu satunya."
Judi menggeleng tidak percaya.
"Gue juga kabur dari Indo, mau nemuin cewek gue. Tapi sekarang males."
"Tobat lu, teruss aja jadi fuc* boy."
"Bukan gue yang badboy, ceweknya gak asa yang sreg. Bikin males aja."
"Gila lu."
Dan saat mereka sedang berbincang bincang, terdengar teriakan, "Judi!"
Kedua orang itu menengok. "Itu istri lu?"
"Tante gue, bangke."
🌹🌹🌹
To Be Continue
__ADS_1