
🌹VOTE🌹
"Tapi kan Inanti gak salah, Tan. Inanti gak mau kejadian itu, Inanti gak mau putus kuliah, Inanti gak mau…" Suara Inanti tersendat. "Inanti gak mau dibenci mereka."
"Emang, yang tante liat itu salahnya Alan," ucap Tante Rini menyalakan rokok yang lain. "Makannya Tante males bersosialisasi sama Riganta atau Alan, mereka tuh dipandang Dewa di sini. Khususnya Alan, tante gak suka sejak dulu. Apalagi pas akad nikah sama kamu, dia cuekin kamu kan? Orang g*blok kayak gitu. Emang dia tanggung jawab secara fisik dengan dinikahin, tapi batin kamu tertekan kan? G*blok emang."
Inanti tersenyum, masih ada orang yang menganggap Alan salah selain kedua mertuanya. "Tapi yang lain gak berpikir gitu, Tan."
"Mereka primitif, Nan."
Inanti mulai menikmati percakapan, dia duduk di kursi rotan di sana menatap Tante Rini yang berdiri merokok sendirian. Ada tatto di tangannya. Yang Inanti tahu, Tante Rini selalu nyentrik dan agak berbeda dari yang lainnya. Sedikit agak liar.
Tante Rini melanjutkan. "Otak mereka masih berpikir kalau yang kaya harus sama yang kaya, yang miskin harus sama yang miskin juga. Harusnya gak gitu, kalau yang kaya sama yang kaya, yang ada malah beradu ego. Tapi, Nan, bukan Tante rendahin kamu, orang kayak kamu emang yang dibutuhin Alan buat jadi pawangnya."
"Pawangnya?"
"Dia awalnya gimana sama kamu? Jutek kan?"
Inanti mengangguk.
"Sekarang?"
"Dia baik banget, Tan."
"Nah kan, kesabaran kamu yang ubah dia, keikhlasan kamu yang bikin Alan berubah, meskipun berubah untuk kamu doang. Mereka yang di dalem katro, biarin aja mereka, Nan. Kita mah hidup selama gak nyusahin orang ya hepi hepi aja, toh kita gak minta nyawa sama dia juga."
Inanti tersenyum tipis dalam lamunannya.
"Contohnya aja si Benua tuh. Dia dapetin anak komisaris, buktinya sekarang apa? Ceweknya minta cerai karena nafkah yang dikasih Benua lebih kecil daripada penghasilannya sebagai model. Hidup tuh di syukuri, Nan. Jangan cuma liat paitnya doang."
Tante Rini menyedot rokoknya kembali.
"Yang penting urusan kamu sama Tuhan baik, kamu sama orang lain baik, sisanya biar Tuhan yang atur, biar Tuhan yang nilai. Dilirik sinis mah biasa aja, dipecat semua sama Alan juga mereka bakalan sujud minta ampunan dari kamu."
Inanti terkekeh senang mendengar penuturan iti dari Tante Rini.
"Gak mau masuk lagi, Nan?"
__ADS_1
"Di sini bentar lagi, Tan. Ngadem dulu."
🌹🌹🌹
Kenyataannya, Inanti diam di sana cukup lama. Dia mendengarkan Tante Rini yang menceritakan perjalanan cintanya dengan Om Guntur. Tante Rini merupakan mantan kriminal penyabotase mobil yang mana membuat Om Guntur yang sedang kebosanan dengan hidupnya yang sempurna.
"Jadi waktu itu, Guntur pikir Poppy terlalu sempurna."
"Tante sendiri suka sama Om Guntur?"
"Untuk pribadinya Tante suka, cuma untuk keluarganya kan kebanyakan g*blok. Mereka kebanyakan lebih memuja harta."
Dan Alan yang kehilangan istrinya terlalu lama itu menyusul dan mendapati Inanti sedang bercengkrama dengan Tante Rini.
"Nan?"
"Mas, kok ke sini?"
"Wow, suamimu sepertinya kehilangan kamu terlalu lama, Nan. Tante mau ke atas dulu, mau ambil anggur."
Alan diam saat Tante Rini melewatinya.
Inanti diam.
"Nan…"
"Mas, aku gak nyaman berada di antara mereka. Aku jauh berada di bawah mereka, mungkin ini bukan tempatku," gumam Inanti mengeluarkan kegelisahannya.
"Kamu bagian dari keluarga ini, Nan."
"Tapi aku gak nyaman, Mas. Mereka belum menerima aku sama Nadia."
Saat itu pula Alan menarik Inanti ke dalam pelukannya. Alan sadar ini salahnya karena dulu dia membenci Inanti, dan membuat aura kebenciannya menebar ke mana mana. Apalagi keluarganya berpikir jika Inanti yang menggodanya dan hanya menginginkan hartanya saja.
"Maaf," gumam Alan.
Alan melepaskan pelukannya. "Besok pagi kita pulang."
__ADS_1
Inanti mengangguk.
"Ngomong apa tadi sama Tante Rini?"
"Hem? Cuma percakapan ringan aja."
Inanti masih belum bisa menatap wajah Alan.
"Nan, kenapa?"
"Waktu Eyang Diningrat meninggal…. Kamu di sini kan?" Karena seingat Inanti, Alan pergi dari rumah keesokan hari setelah akad nikah.
"Iya."
Inanti menelan ludahnya kasar.
"Kenapa, Nan?"
"Eyang Diningrat meninggal karena aku?"
"Apa?" Alan terlihat terkejut. "Siapa yang bilang begitu?"
"Tante Rini, dia bilang Eyang Diningrat meninggal karena… kejadian itu… dia benci sama aku, kan?"
"Enggak, Nan," ucap Alan mengatakannya dengan jelas. "Eyang udah sakit sedari dulu. Kamu tau apa yang dia bilang sama aku sebelum meninggal? Eyang minta aku buat jaga kamu, buat jadi tameng kamu dari anggota keluarga yang lain. Eyang nangis, dia takut gak ada yang lindungi kamu, Eyang tau betul keadaan keluarga ini."
"Tapi… Tante Rini bilang…."
Alan kembali memeluk Inanti seketika. "Jangan percaya siapa pun selain suamimu, Nan. Mengerti?"
Inanti mengangguk dalam pelukan Alan.
"Eyang sayang banget sama kamu. Inget waktu dia peluk kamu lama? Dia takut ninggalin kamu yang nggak punya perlindungan apa pun. Dan maaf, Nan. Aku baru bisa…. menjalankan perkataan Eyang. Maaf."
Inanti tidak menjawab, tapi dia membalas pelukan Alan. Inanti tidak membutuhkan janji dan perkataan, yang Inanti butuhkan adalah tindakan.
🌹🌹🌹
__ADS_1
TBC.