Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Mendapatkan secara paksa


__ADS_3

🌹VOTEEE YEEE GAIIISS🌹


"Bu?"


"Iya, Bi?" Inanti yang sedang menyusui sambil menonton TV di ruangan keluarga menengok. "Bibi mau pulang?"


"Ibu masih ada yang perlu Bibi bantu?"


"Enggak kok, Bi."


"Katanya Ibu mau bikin sayur lodeh."


"Bisa sendiri kok, Bi. Makasih ya, besok tolong bawain pakis."


"Baik, Bu. Bibi pulang dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," ucap Inanti dengan senyuman masih terpatri di wajahnya.


Manik Inanti kembali menatap Baby Nadia yang membuka matanya. "Baaa…, dede kenapa gak tidur? Mau ketemu Papa ya?"


Nadia tetap anteng menyedot asi ibunya, dengan tatapan mereka yang tidak terlepas.


Gemas dengan pipi chubby milik bayinya, Inanti menciuminya berulang kali. Dan itu membuat Nadia merengek.


"Gemesh tau, dede itu gemesin. Mau digigit sama Mama? Sini Mama gigit."


Nadia yang mungil menutupi wajahnya dengan tangannya seolah menghindari serangan. Namun, itu membuat Inanti gemas dengan pipinya yang mulai membesar.


Mereka berdua cekikikan sampai Inanti ingat sesuatu.


"Kita chat Papa ya, De."


Inanti mengambil ponselnya di nakas, dia mengirimi pesan pada suaminya. 


ME : Mas, udah mendarat?


Belum ada jawaban selama lima menit, membuat Inanti berpikir bahwa suaminya masih dalam perjalanan.


"Nanti deh mandinya, Mas Alan juga masih di pesawat kayaknya."


Setelah tempur masak sekian banyak, Inanti belum mandi mempersiapkan kedatangan suaminya. Dia malah bermain main bersama Nadia.


Jika mandi pun, biasanya Inanti membukakan pintu kamar mandi supaya Nadia bisa terawasi.

__ADS_1


Ada telpon, itu ternyata dari Madelle.


"Hallo Assalamualaikum, Mah?"


"Waalaikum salam. Nan, bener si Abang pulang?"


"Iya, Mah. Inan juga nanti sore enggak less deh, soalnya ada Mas Alan. Beberapa hari ke depan juga kayaknya sama, biar berduaan dulu sama suami," ucap Inanti malu malu.


Membuat Madelle terkekeh di sana. "Iya, iya Mamah ngerti. Butuh diculik gak Nadia?"


"He he, enggak Mah. Lagian Mas Alan pasti kangen sama anaknya."


"Yaudah, kalau ada apa apa telpon Mamah ya. Kalau si Abang masih maksa mau bikin bayi terus kamunya gak mau, pentung kepalanya pake panci."


Inanti tertawa kuat. Dia mengakhiri panggilan dengan mertuanya.


Dan karena mengira suaminya masih lama datang, Inanti memilih memejamkan matanya sebentar. Adonan pie tinggal di panggang, donat tinggal digoreng. Dan udang saus asam tinggal dipanaskan dengan beberapa masakan lainnya juga.


🌹🌹🌹


Alan tersenyum melihat pesan yang Inanti kirim, dia terus menanyakan keberadaannya.


"Karl?"


"Ya, Tuan?"


"Saya pikir keselamatan suaminya."


"Barang."


Karl berpikir sebentar. "Barang khas tempat yang dikunjungi?"


"Aku membeli satu koper besar buah tangan dari Jambi," ucap Alan menatap koper di belakang yang isinya adalah oleh oleh untuk istrinya. Namun, dia masih belum merasa puas dengan hadiah itu. "Apa kau ada saran?"


"Ya, Tuan."


"Katakan."


"Karena tidak tahu apa yang diinginkan Nyonya, mungkin sebaiknya bertanya padanya dan pergi keluar bersama."


Alan mengangguk menerima saran itu. Sampai dia ingat tentang tupperware yang tinggal penutupnya saja, Alan menelan ludahnya kasar.


Percuma saja dia membeli yang baru, dia tidak tahu apa yang ditulisakan istrinya di bawahnya. Dan jatuhnya hanya ada kebohongan juga. 

__ADS_1


Alan tidak ingin, lebih baik dia dimarahi istrinya daripada memulai lagi semua kebohongan. Lagipula ini hal sepele.


Ketika sampai di apartemen, Karl membantu membawakan barang sampai ke depan pintu.


Setelahnya Alan masuk. Tahu tidak ada yang menyambut, Alan pikir istri dan anaknya tidur.


Dia diam diam masuk sambil membawa koper berisi buah tangan ke kamar. Dan benar saja, di sana Inanti dan Nadia terlelap.


Alan tersenyum lebar, dia medekat pada Nadia terlebih dahulu dan berbisik, "Anak Papa Sayang, pindah dulu ke box ya, Sayang."


Sambil memindahkan, Alan menciumi putrinya yang sudah tumbuh terasa cepat. Segera saat Nadia hampir terbangun, Alan menidurkannya lagi sambil menepuk pantatnya.


"Tidur ya, Sayang."


Setelahnya, tatapan Alan fokus pada istrinya. Dia merangkak naik ke atas ranjang sebelum akhirnya memeluk istrinya dari belakang.


"Euh…." Inanti melenguh merasakan ada yang salah. Dia menengok ke belakangnya. "Mas Alan?"


"Assalamualaikum, istriku."


"Mas!" Teriak Inanti tidak percaya dan memeluk suaminya.


"Kangen ya, Yank?"


"Kok gak bilang udah nyampe sih?"


"Sengaja biar ngejutin kamu."


Dan saat itulah Inanti sadar dirinya belum mandi. Inanti hendak menjauh, tapi Alan menahan pinggangnya. "Mau ke mana, Yank?"


"Mau mandi, aku belum mandi, Mas. Lepasin dulu ih."


"Gak mau, maunya pelukan sama kamu."


"Tapinya aku belum mandi," ucap Inanti berusaha melepaskan diri.


Kenyataannya, Alan tidak melepaskannya. Dia malah memeluk semakin erat. "Gak peduli, belum mandi juga kamu tetep istri aku, istrinya Mas Alan yang ganteng paripurna. Jadi wajib kalau pulang dari mana mana harus pelukan, terus….."


"Terus……?" Inanti mengadah menatap suaminya.


"Terus di kiss."


CUP….. Alan mendaratkan bibirnya di bibir istrinya. "Aseeek, dapet."

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC.


__ADS_2