
🌹VOTE🌹
Inanti menatap Nadia yang terlelap dalam gendongannya, dia menyusui secara langsung.
"Nan?"
"Hmm?" Inanti melirik Alan sebentar sebelum dia mengambil pashmina dan menutup dadanya dengan itu.
"Nadia tidur?"
"Iya, dia tidur terus. Gak papa emang ya?"
"Kan dokter bilang kemarin gak papa, Nan."
"Iya sih."
Inanti diam saat Alan duduk di depannya kemudian menciumi pipi Nadia. Dan itu membuat Inanti menahan napas, dadanya hampir menyentuh bibir Alan. Pria itu seolah sengaja mendekatkan wajahnya ke pipi Nadia yang terjepit dadanya.
"Ih! Mas sengaja ya biar deket sama dada aku."
"Enggak ih, orang mau cium dede juga."
"Sengaja itu, mau noel dada aku kan?"
Alan malah menyeringai jenaka. "Mau ditoel beneran ya?"
"Enggak, ih. Apaan sih! Jangan mesum kamu, Mas."
"Ini kan suami kamu, ya boleh boleh aja lah."
"Ih, gak mau! Mundur mundur!"
"Cantik, cantik," ucap Alan malah menyanyi.Â
"Mas ih!"
"Udah ih jangan nyium terus, nanti muka kamu kena sama dada aku."
"Ha ha ha ha, sensitif banget sih punya bini," ucap Alan merebahkan diri di samping Inanti.
Membuat Inanti terdiam tidak suka. Dan lamunannya membawa Inanti pada hari hari yang lalu di mana dia dan Alan pergi ke makam Adam. Karena tidak ingin meninggalkan Nadia terlalu lama dalam pengasuh, makannya Inanti agak cepat. Sebenarnya dia masih ingin menjenguk Adam.
Jika sendirian, Alan tidak mengizinkan. Bahkan untuk keluar ke bawah saja, Inanti harus izin dan ditemani seseorang jika Alan tidak di apartemen.
TOK.
TOK.
TOK.
"Sarapan anda, Tuan."
Alan membukanya dan menerima nampan berisi banyak makanan.
"Bawakan juga buah naga."
"Baik, Tuan."
Setelah pintu tertutup, baru Alan memasang wajah tengil. "Naaaaannn…. Sarapan sehat bergizi."
"Bentar."
"Tidurin aja dede nya."
"Gak mau lepasin put*ng nya."
Alan menyimpan nampannya di meja, dia mendekat dan melihat Nadia yang masih menggerakan bibirnya meski pun terlelap.
"Sini aku tarik."
"Gak mau ih!"
__ADS_1
"Nadia nya, bukan enen nya. Geer banget sih kamu."
"Iiihhh," ucap Inanti kesal dan mencubit lengan Alan. Pria itu malah terkekeh.Â
"Sini, Sayang, sama Papa yang wangi. Sini… digendong Papa yang ganteng."
"Gak ngaruh kali kamu narsis gitu."
"Itu dilepasin enen nya."
Seketika Inanti memasukan kembali dada nya. Dan membiarkan Alan menggendong Nadia sebelum akhirnya menidurkannya di ranjang.
"Makan yuk."
"Kenapa gak makan di bawah aja?"
"Ribet, Nan. Lagian Nadia gak boleh ditinggal," ucap Alan beralasan. Padahal kenyataannya dia tidak ingin Inanti bertemu banyak orang sebelum dirinya memperingatkan.
"Eyang Sekar?" Tanya Inanti, karena biasanya tradisi jika orang bertamu wajib ke kamar Eyang yang ada di samping kamar Inanti sekarang. "Mas?"
"Nanti aja lah, santai, Nan."
"Yaudah," ucap Inanti menatap nampan di depannya. "Kok cuma satu porsi?"
"Biar romantis berdua gitu, Nan."
Inanti mengerutkan keningnya. "Kok gitu? Gak kenyang dong aku, Mas."
"Liatin aku aja udah kenyang."
"Masih gesrek," gumam Inanti mulai memakan sarapan di depannya.
Ada dua sendok, yang membuat mereka makan bersamaan.
Tanpa disadari Inanti, keduanya menjadi lebih dekat. Dan itu membuat Alan sangat bahagia. "Mau ayamnya."
"Alot, Nan."
"Aku gigit gimana?"
Inanti diam sebentar.
"Nan?"
"Coba."
Karena tidak mempan oleh sendok dan garpu, Alan menggigit ayam nya lalu memuntahkan sesudah dia mendapatkan daging.
Dan Inanti tanpa komplain menerima suapan dari Alan.
"Enak?"
"Bumbunya keasaman, coba deh, Mas."
Alan melakukannya. "Jangan masak yang kyak gini, Nan."
"Mau lagi," ucap Inanti sambil menyuapkan nasi untuknya.
Dia kembali menerima suapan daging ayam yang digigit oleh Alan.
Dan pagi itu adalah pagi yang paling membahagiakan bagi Alan. Pasalnya dia bisa lebih dekat dengan sang istri. Meskipun Inanti tidak menyadari apa yang dia lakukan, Alan tetap bahagia bisa bertatap muka dengan istrinya dan lebih dekat dari sebelumnya.
Sebuah kemajuan yang pesat.
"Lagi?"
"Coba ayam satunya, Mas."
🌹🌹🌹
Acaranya akan dimulai, dan Inanti baru turun sekarang bersama Alan sekarang.
__ADS_1
Sejak tadi, banyak pihak yang mempertanyakan keduanya.
Dan saat Inanti turun, para kerabat Eyang Sekar menatapnya tidak suka.
Alan menyadari itu, membuatnya menatap tajam satu per satu mata yang merendahkan Inanti sampai akhirnya mereka menundukan pandangan. Alan juga melingkarkan tangannya di pinggang Inanti.
"Bang Alan! Eyang mau ketemu, sama Abang doang tapi," ucap salah satu sepupu Alan yang bernama Angkasa, dia seumuran dengan Alan.
"Ayo ikut, Nan."
"Dia maunya ketemu sama kamu doang, Mas."
"Aku gak bisa ninggalin kamu."
Tiba tiba sebuah suara mengatakan, "Gak papa, Al. Biar Tante Poppy yang jaga, kamu temuin aja Eyang."
Alan sedikit ragu. Pasalnya kedua orangtuanya tidak diketahui keberadaanya di rumah luas ini.
"Gak papa, Mas. Lagian aku mau makan semangka."
"Kalau ada apa apa susul aku ya, atau bilang sama Alden di sana. Jangan sama yang lain."
"Iya, Mas."
Setelah kepergian Alan, tante Poppy yang seumuran dengan Madelle itu terkekeh. "Posesive banget ya, Nan."
"Iya, Tan."
"Eh, masih inget kan sama Tante?"
"Inget."
"Duduk di sana yuk, acaranya belum mulai kok. Anak anak tante juga ada di sana lagi ngerumpi."
Sebenarnya Inanti malas bergabung dengan orang seumurannya, mereka selalu nyinyir. "Di sini aja deh, Tan. Mau makan semangka."
"Masa di dapur? Di sana aja, nanti tante minta si mbok yang bawain semangka. Lagian tante mau gendong bayi kamu. Boleh kan?"
"Em… boleh, Tan."
Tante Poppy menarik tangan Inanti.
"Hei, anak anak. Inget gak sama Mbak Inanti? Ini istrinya Mas Alan. Kasih salam."
Dua perempuan remaja itu menatap malas Inanti, begitu pun dengan pria yang sepertinya agak muda dari Alan.
Salah satu anak perempuan tante poppy berucap. "Hai."
"Yang bener dong, Mel."
"Apaan sih, Ma? Jangan ganggu deh, kita lagi maen game bareng. Lagian kenapa harus sopan sopan amat, toh dia di sini bikin orang lain eneg, masa nama Praja Di…..," ucapan perempuan itu tertahan saat melihat Alan di belakang Inanti.
Menatap tajam dan terlihat menakutkan. Membuat perempuan itu menepuk kedua saudaranya. Dan mereka langsung salah tingkah karena ketakutan.
"Ma… maaf, Mbak. Kita gak bermaksud."
Lalu Inanti menoleh ke belakang, di sana Alan mendekat ke arahnya. "Sayang, aku udah siapin es krim semangka di dapur. Coba liat."
Inanti menatap tante poppy ragu, "Inan ke sana dulu ya, Tan."
"Iya, Nan."
Dia meninggalkan suaminya di sana.
Tante Poppy segera memasang wajah khawatir. "Al, anak anak tante nggak bermaksud bikin istri kamu gak nyaman. Ya kan kamu tau, aneh aja tiba tiba dia datang lagi ke sini. Orang semua kerabat taunya nantinya kamu bakalan cerai sama dia, dia kan peru……"
Tante Poppy menghentikan ucapannya saat melihat wajah Alan. Apalagi saat pria itu berkata, "Jauhkan mereka dari istriku."
🌹🌹🌹
TBC.
__ADS_1