
🌹VOTE🌹
Alan menatap undangan wisuda S2 Ekonomi Manajemen miliknya. Dia ragu memberikananya pada Inanti, Alan sendiri tahu mungkin istrinya belum siap menghadapi banyak keramaian dengan orang orang yang pernah menyakitinya.
"Mas?"
"Hmmm?" Alan membalikan badannya saat Inanti masuk ke ruang kerjanya. Undangan itu dia sembunyikan, Alan tidak ingin membahasnya lagi. "Kenapa?"
"Ngapain?"
"Kirim email. Ada kerjaan."
"Besok kamu kerja? Keluar gituh?"
"Iya, kenapa emang?"
"Em… aku ke bawah ya, mau beli jajan."
"Telpon aja, Nan," ucap Alan melangkah menuju istrinya.
"Itu di bawah pedagang asongan, mana bisa di telpon."
"Dagang apa sih?"
Inanti menarik tangan Alan menuju balkon, tangan Inanti menunjuk pedagang yang ada di luar gerbang besar. Di trotoar ada pedagang rujak. "Mau beli itu. Aku ke sana ya."
"Gak usah, aku aja."
"Kamu kan lagi kerja."
Inanti yang hanya sebatas dagu Alan membuat pria itu merangkul istrinya yang mungil. "Tunggu aja, lagian kerjaannya bisa ditunda kok. Tungguin Nadia aja, dia lagi tidur?"
"Heem."
"Diem di sini, jangan kemana mana," ucap Alan masuk dan memakai jaket untuk bersiap ke depan. "Jangan keluyuran cari perhatian Mas Alan."
"Siapa yang suka cari perhatian kamu," ucap Inanti tidak terima.
Membuat Alan terkekeh. "Kemaren juga kakinya katanya sakit, eh diperiksa kata dokter gak kenapa napa. Kamu mau digendong sama Mas Alan ganteng ini kan."
"Gak ada begituan," ucap Inanti kesal. "Orang di mobil udah kamu pijat. Lagian gitu doang ngapain ke dokter."
Alan terkekeh. "Tunggu sebentar ya, Sayangku. Mas Alan keluar dulu. Mau berapa cabe nya?"
"Yang banyak pokoknya," jawab Inanti ketus.
"Sini peluk dulu dong."
Inanti mendekat malas, dia melingkarkan tangannya di pinggang Alan.
"Udah berapa bintang yang penuh, Nan?"
Sebenarnya sudah penuh, Inanti tidak bisa berlarut larut dalam rasa marah. Namun, dia tidak ingin dan tidak siap jika harus tidur bersama Alan sebagai kewajibannya melayani suami.Â
Untuk dipeluk seperti ini pun, Inanti sering kali mengingatkan pada hati dan pikiran kalau Alan sudah berubah dan semuanya akan baik baik saja.
"Penuh belum?"
"Dikit lagi kok."
"Cieee… bentar lagi dong."
"Apa sih ih!" Inanti melepaskan pelukannya. "Udah sana."
"Iya iya, Sayang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullah."
__ADS_1
Inanti tersenyum saat pintu tertutup. Alan begitu baik dan terlihat jelas menyayangi dirinya dan Nadia. Terlepas apa yang pernah dia lakukan, selama Alan akan menempuh jalan yang benar bersamanya, Inanti akan mengikhlaskan semua yang telah terjadi.
Di sisi lain, Alan berjalan menuju gerbang luar apartemen. Karena apartemennya ada di bagian puncak, membuat Inanti sering melihat pedagang kaki lima di bagian luar.
"Pak, beli rujak dua bungkus ya. Yang satu pedes yang satu enggak."
"Baik, Pak."
Tidak menunggu lama, akhirnya pesanan selesai.
"Berapa, Pak?"
"Sepuluh ribu."
Alan memberikan uang seratus ribu pada kakek tua itu.
"Aduh, Pak, maaf belum ada kembaliannya. Gak papa ambil saja dulu, saya di sini tiap hari kok."
"Buat bapak aja kembaliannya."
Sebelum mendapat tolakan, Alan pergi dari sana. Dan tepat di luar gerbang, ada seorang pedagang asongan lainnya.
"Jualan apa, Bu?"
"Jajanan pasar, Pak. Ada cente, jiwel, cetil, onde onde, klepon sama urab jagung."
Alan berjongkok untuk melihat. "Masing masing empat ya, Bu."
Dan saat kembali ke apartemen, Alan membawa banyak makanan.
"Assslamualaikum, eh.. dede udah bangun." Alan melihat Nadia di gendongan Inanti.
"Banyak banget, kamu mau bagi bagi ke tetangga?"
"Iya, bagiin rujak. Terus nanti mereka mules, nanti bagi bagi lagi deh obat diare."
Alan tertawa, dia menyimpannya di meja dan mengambil alih Nadia. "Uh… sayang Papa udah bagun. Abis nangis ya? Kangen sama Papa iya? Mau jadi saingan Mama nih kagen terus sama Papa."
"Dasar geer," ucap Inanti membuka kantong kresek. Dia tersenyum lebar.Â
"Kau beli mas?" Tanya Inanti dengan riang.
"Enggak, Sayang. Aku rampok pedagang kaki lima di depan."
Seketika senyuman Inanti memudar. "Nyebelin."
"Kasih peluk dulu dong."
"Gak mau ih!"
Alan tahu Inanti terlalu tinggi menjunjung harga dirinya. Maka darinya, Alan yang me dekat lalu memeluk dan mencium kening Inanti. "Dasar si gengsi tingkat dewa."
🌹🌹🌹
Inanti menatap ponsel barunya, dengan nomor baru lagi. Rasa sakit itu tidak bisa dihilangkan, hanya saja dia mencoba mengikhlaskan.
"Nan?"
"Iya. Kenapa?" Inanti keluar kamar. Melihat Nadia yang menangis di pangkuan Alan. "Mau mimi kali, Mas."
Dan saat memberikan p*ting nya, Nadia menolak. "Loh kok?"
"Gak demam kan, Nan?"
"Enggak, Mas."
"Kesel kali di sini."
__ADS_1
"Masa iya bayi bisa nawar."
"Yakali."
"Paling juga kamu yang mau keluar jalan jalan kan."
Alan tersenyum nyengir. "Nah kamu tau."
"Stok makanan kita penuh loh, Mas. Masa mau makan di luar terus, emang masakan aku gak enak?"
"Enggak gitu, Sayang. Ya mumpung aku di sini kan."
"Emang kamu mau ke mana?"
Alan terlihat ragu, dia mengalihkan perhatian dengan mengambil alih Nadia ke gendongan. "Tuh, sekarang mah diem. Dede jadi maunya gimana hmm?"
"Kamu mau ke mana, Mas?"
Alan ragu.
"Mas ih! Aku kutuk ya kamu jadi batu."
"Ha ha ha, sadis amat. Sini duduk dulu di sini."
Inanti menurut. "Apa?"
"Sebenarnya ada proyek di Jambi. Aku mesti ke sana."
"Kapan?"
"Besok, tapi kayaknya aku gak bisa ajak kamu, Nan. Soalnya di sana juga aku pindah pindah tempat cari lokasi pembangunan baru."
"Kerja kamu apa sih? Buruh bangunan?"
Seketika Alan tertawa keras, yang membuat Nadia tergelonjak kaget.
"Mas ih!"
"Suami kamu ini orang penting. Masa punya gelar empat jadi tukang bangunan, yang angkat semen gitu?"
"Yang jadi bata kali."
Alan malah mencubit pipi istrinya. "Gemes banget sih kamu."
"Ih, jangan noel. Jawab aku dulu."
"Suami kamu ini yang punya hotelnya, Sayang. Sekarang lagi cari lokasi yang strategis, sembari deketin investor di daerah sana."
Inanti hanya menghela napas, dia tidak ingin ditinggalkan Alan.
"Aku suruh Bi Idah nginep kok buat nemenin kamu."
"Apaan di suruh nginep, gak usah."
"Udah, nurut sama suami," ucap Alan membuat Inanti mengerucutkan bibir.
Saat hendak bicara, ada telpon di ponsel Alan dari Alden.
"Hallo, Bang. Abang dimana?"
"Udah di apartemen dari kemaren juga. Kan abang udah ngomong, jangan hubungi abang dulu."
"Bang, Eyang masuk rumah sakit. Kondisinya memburuk, dia mau ketemu sama Abang, sejak Abang pergi Eyang nangis terus."
🌹🌹🌹
TBC.
__ADS_1