Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Baju Baru Inanti


__ADS_3

🌹VOTE🌹


"Nan?"


Inanti diam, dia melamun saat kembali dalam perjalanan. Ada hal yang membuatnya jengkel sekali pada Alan.


"Inanti?"


Inanti tetap diam dan fokus menyusui Nadia.


"Nan, itu enen nya keliatan."


"Mesum," ucap Inanti segera menutup bagian yang terlihat dengan hijabnya. "Liatin lagi saya colok kamu."


"Gak salah? Harusnya saya yang colok kamu tau."


Inanti kesal. "Colok aja sana ke lubang semut."


"Tar gatel dong, Nan."


"Bodo ah."


Alan terkekeh melihat Inanti yang masih memasang sifat jutek padanya. "Lagian kan saya beli rumah makan iti juga buat kamu."


"Si*ting kamu, saya gak mau rumah makan itu."


Benar, itulah yang dilakukan Alan sampai Inanti murka. Dia membeli rumah makan itu, katanya khusus untuk Inanti jika ingin makan semua yang ada di dalamnya.


"Ya kan katanya kamu mau uji kekayaan saya. Saya kaya, Nan. Jakarta aja bisa saya beli."


"Beli sana, sama banjir banjirnya juga."


"Galak amat."


Inanti memilih diam, dia fokus pada jalana.


"Pegel ya, mau gantian gendong Nadia?"


"Kamu mau saya bawa ke akherat kalau saya yang jadi supir?"


"Gak bisa ya, Nan? Nanti tiap akhir minggu belajar yuk, biar kamu juga bisa naik mobil."


"Ini lagi naik mobil."


"Selera humor kamu receh banget, ya maksudnya kamu yang nyetir, Cantik."


"Jangan panggil saya begitu!" Ucap Inanti ketus.


Membuat Alan gemas dan mencolek dagu Inanti.


"Ih… apaan sih!"


"Gemes saya liat kamu marah marah, energic gitu, agak ganas ganas gimana gitu, agresif."

__ADS_1


"Nanti malam saya makan kamu, biar kamu makin suka sama saya."


"Boleh, nanti Nadianya di titipin sama Mama ya? Kita ke hotel."


Inanti menatap tidak percaya pada Alan. Pria yang selama ini dingin, menjunjung tinggi harga dirinya, tidak pernah bicara sebanyak itu, kini berubah menjadi orang pecicilan dan juga mesum. Raut wajahnya tidak memperlihatkan lagi wibawanya. Dan itu membuat Inanti sedikit bergidik.


Inanti bergumam, "Gesrek kamu, apa jangan jangan kamu kemasukan?"


"Kamu aja yang dimasukin saya."


"Astagfirullah."


"Nah gitu dong, sering sering istigfar."


"Inallilahi."


"Siapa yang mati, Nan?"


Inanti mengusap wajahnya merasa kesal dengan Alan. Sampai saat lampu merah, tiba tiba sebuah motor menabrak bagian belakang mobil.


Alan segera menepi, begitu pun dengan pengendara motor itu.


"Kamu gak papa?"


Inanti menggeleng, dia menatap Alan yang keluar menemui pengendara motor itu.


"Hei! Kamu harus ganti rugi! Motor saja jadi penyok!"


"Maaf, tapi anda yang menabrak saya."


"Saya berhenti karena di sana lampu merah."


"Siaaallan ya!"


Alan menghindar saat pria itu hendak memukulnya, dia terkekeh dingin.


"Mas!" Teriak Inanti keluar. "Ayo pulang, Mas."


Alan segera mengeluarkan uang lembaran seratus ribu. "Pergi dari sini."


Alan kembali ke dalam mobil diiikuti oleh Inanti. Di dalan mobil, Alan menelpon Karl.


Dia berucap dengan suara sinisnya. "Plat motor nomor Z 4129 WK."


"Baik, Tuan."


Dan Inanti melihat, Alan tidak berubah. Dia hanya bersikap seperti itu padanya.


🌹🌹🌹


Inanti menatap kediaman barunya, apartemen satu lantai tapi fasilitas sangat mewah. Belum pernah Inanti rasakan sebelumnya, semuanya serba modern.


"Nan, rapihin barang ya, saya mau nidurin Nadia dulu."

__ADS_1


"Iya."


"Masya allah nurut banget bini tersayang."


Inanti menepis tangan Alan yang mengusap kepalanya.


"Baik baik ya, Sayang."


"Apasih? Jangan manggil kaya gitu."


"Orang ngomong sama dede ih, geer. Ha ha ha."


Inanti merenggut kesal, dia menatap banyak kantong dan dus di dekat sofa.


Inanti mendesah pelan, dia membuka kulkas untuk minum.


Sayangnya di sana tidak ada apa pun.


"Kok kosong?"


Dan itu membuat Inanti membongkar barang belanjaan sambil duduk. Dia terkejut saat mendapati ada thong (Celana dalam perempuan yang berenda. Biasanya yang transparan atau bolong tengahnya itu loh, Bun😂). 


Inamti melotot tidak percaya. "A--apa ini? Kenapa banyak benda seperti ini?"


Dan masih banyak lagi, bahkan ada puluhan lingerie.


Dan Alan yang baru saja keluar kamar itu bersiul.


"Kamu beli ini?"


"Iya."


"Buat apa?"


"Ya buat kamu lah masa buat saya jualan."


"Alan, sa--"


"Mas… panggilnya mas."


"Ogah."


Alan terkekeh, dia mengambil sekaleng soda dari papper bag.


"Saya gak mau pake yang beginian."


"Gini ya, Sayang. Body kamu itu bagus, meski pendek, tapi bagian belakang sama dada kamu gede sekarang. Gak tepos lagi. Empuk kali ya kalau saya peluk?"


"Gesrek kamu!"


"Ha ha ha, nanti malem pake ya, Sayang."


Alan pergi lagi ke kamar meninggalkan Inanti yang masih jengkel.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Tbc.


__ADS_2