Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Melukis kenangan


__ADS_3

🌹VOTEE OAKHEY GAISS🌹


Andria menatap heran pada Delisa yang mabuk. Dia meracau.


"Gue mesti gimana, An? Gue gak punya kerjaan."


Andria menggeleng tidak percaya. Satu per satu orang yang melawan Inanti tumbang. Yang mana membuat Andria memilih peluang paling bagus.


Saat sedang di dalam bar, dia mendapat telpon dari nomor yang sama.


Andria keluar untuk mengangkatnya. "Hallo, Van?"


"Gimana Delisa?"


"Masih sama. Lu ngapain di Belanda? Beneran merit?"


"Hooh dong, sama cowok ganteng bin kaya."


"Udah wik wik?"


"Diem lu taaeeeek! Nih ya tolong kondisiin si Delisa, dia sahabat gue. Udah ya, laki gue pulang nih. Bye!"


Andria mengerutkan keningnya. Saat dia hendak masuk ke dalam mobil, dia melihat Karl keluar dari mobil.


"Karl, kau mencariku?"


"Tuan Alan meminta anda menyiapkan resepsi pernikahan."


"Resepsi pernikahan? Kapan?"


"Saat rumah selesai."


Andria mengangguk. "Akan aku tangani."


Meninggalkan Karl, Andria menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka seorang Alan yang dingin akan jatuh ke pelukan wanita yang ternyata lebih muda darinya. 

__ADS_1


Andria mencoba menghubungi Alan untuk mengetahui apa yang harus dia urus dan bagaimana tema yang diinginkan.


Sayangnya, Alan tidak mengangkat.


Hanya ada pesan berisikan 


Boss besar : Diem.


Andria menelan ludahnya jika Alan sudah seperti ini. "Lagi berduaan ye lu, Boss?"


🌹🌹🌹


"Yank, mau beli mie soba nggak?"


"Cape, Mas. Mau pulang," ucap Inanti mengadah menatap langit yang berwarna biru. "Tapi masih pengen diluar sih."


"Jadi maunya gimana, Nyonya Praja Diwangsa?"


Inanti diam sambil berpikir, kakinya masih melangkah langkah mengelilingi pasar malam. "Udah deh, ayo pulang."


"Aku tau tempat buat nonton bintang, Yank. Mau?"


"Ayo ikut aja dulu," ucap Alan mencium tangan istrinya yang sedang dia genggam dan membawanya kembali menuju parkiran.


Dan saat berada di sana, Alan melihat sosok wanita yang tersenyum dan hendak datang menemuinya.


Seketika Alan menghadapkan Inanti padanya. "Yank, dulu aku sering mabuk ditemenin cewek yang gak aku kenal. Aku mabuk sampe gak inget siapa yang ada di samping aku sampe Andria atau Rizki bawa aku pulang."


Inanti melihat wajah suaminya panik, dia menatap ke arah yang sama dengan sang suami. "Dia salah satu cewek yang nemenin kamu pas mabuk?"


"Gak inget, tapi kayaknya iya."


Inanti mengangguk, dia menggenggam tangan suaminya. "Yaudah sih kan itu dulu. Antepin aja."


Dan saat wanita itu sampai, dia menyapa. "Hallo, Tuan A. Ingat aku?"

__ADS_1


"Tidak."


Inanti melihat ketidaknyamanan Alan, dia segera menghalangi tubuh suaminya. "Hallo, ada keperluan apa dengan suamiku?"


"Owh, kau istrinya? Aku pikir adiknya. Aku hanya menyapa teman minumku."


"Kau sudah menyapanya," ucap Inanti dingin. "Terima kasih atas keramahanmu, silahkan sapa yang lainnya, terima kasih."


Wanita itu tertawa tidak percaya melihat Inanti dan Alan masuk ke mobil. 


Di dalam sana Alan menatap istrinya cukup lama, yang mana membuat Inanti menengok. "Ada apa? Nyalakan mesinnya, Mas."


"Makasih, Sayang."


"Makasih apanya? Katanya mau bawa aku liat bintang."


"Adem deh kalau kamu di samping aku, setan aja pada kabur."


"Orang kamu leadernya."


Alan tertawa, dia mengemudikan mobil menuju suatu tempat.


Dan semakin lama berkendara, Inanti semakin khawatir. Dia ingat jalanan yang dilewati ini pernah memberikan ingatan buruk padanya.


"Mas…," ucap Inanti.


"Liat bintang, Sayang. Aku janji."


Dan benar saja, mobil berhenti di depan hotel tempat Inanti pernah bekerja. Atau lebih sialnya lagi, ini tempat Alan memperkosa dirinya.


Ketika melewati lobi, menaiki lift sampai akhirnya menelusuri lorong. Inanti merasa gugup saat pintu yang sama kembali terbuka.


"Mas… kenapa kita ke sini?"


Alan menggenggam tangan istrinya sebelum menciumnya. "Aku tidak bisa mengubah masa lalu, Sayang, tapi aku bisa menciptakan kenangan baru."

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC.


__ADS_2