Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Bimbang


__ADS_3

🌹Vote hooh gaissshhh🌹


Makan malam di Depok dihiasi dengan canda tawa. Untuk pertama kalinya, Inanti tertawa lepas bersama keluarga yang benar benar menerimanya apa adanya.


Ditambah pemanis oleh Nadia yang seringkali menangis merengek, keluarga Praja Diwangsa begitu meriah.


"Yakin mau pulang, Bang?" Tanya Madelle menyusul ke belakang saat Alan sedang mencuci tangan. "Diem aja di sini, kasian Nadia udah malem juga."


"Pulang ah, mau berduaan sam--"


"Sama Inanti? Mamah tanya tadi sama Inanti katanya perih anu nya. Kamu jangan keterlaluan tau, Bang."


"Dulu juga gitu pas pertama kok, besoknya kuat kuliah. Inanti itu wanita kuat, Mah."


Mendengar itu, seketika Madelle memukul punggung putranya.


BUK!


"Adaw, Mah! Nanti Abang cacingan!"


"Biarin aja cacingan, biar tau rasa." Madelle mendengus kesal. "Istri tuh dirawat."


"Ini juga baru sekali, orang Abang tadi mau bilang berduaan sama Nadia wleeee."


BUK!


"Mamah ih!"


"Jangan buat dia pegel pegel, Bang."


"Kan kalau pegel yang mijit juga Abang, Mah."


"Dasar modus."


"Yee, mirip siapa emang?"


Alan kembali menemui istrinya yang sudah bersiap siap untuk pulang. Alan mengusap kepala Nadia sebelum mencium kening istrinya. "Udah pamit sama Papah?"


"Udah, Mas."


"Aku belum, kamu temuin Mama dulu ya."


"Iya," ucap Inanti menuju dapur mencari keberadaan Madelle yang ternyata sedang membungkus makanan ke dalam tupperware. "Mah?"


"Eh, Nan, ini Mamah bawain makanan ya, biar besok pagi gak masak."


"Ih, itukan tumis kesukaannya Papah, Mah."

__ADS_1


"Biarin, nanti Mamah bikin lagi kok. Kamu kan abis beres haid, takutnya nanti gak bisa apa apa lagi," ucap Madelle menyusunnya menjadi rantang. "Mamah bawain ke mobil ya? Eh, sini itu tas biar Mamah yang bawa."


"Gak usah, Mah. Ini berat banget."


"Nah makannya Mamah yang bawa, kamu gendong Nadia aja."


Inanti tersenyum melihat mertuanya yang sangat baik. Memang badai tidak akan selamanya ada, segala sesuatu akan ada akhirnya termasuk kesedihan.


Berbeda dengan kebahagiaan yang bisa dipertahankan, dengan pondasinya yaitu beramal shaleh, sholat dan menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.


"Makasih ya, Mah."


Madelle memeluk Inanti sebelum menatap cucunya. "Duhhh…, anteng banget yang tidur. Mana mangap lagi."


Saat itulah Alan keluar. "Tas nya mana, Yank?"


"Udah Mamah bawain," ucap Madelle. "Tuh bikin tangan Mamah pegel tau."


"Pasti Mamah ada maunya ya?" Tunding Alan membuat Madelle mengelak.


"Enggak lah, emang Abang."


"Yakin gak mau apa apa?"


"Em, bujuk Papah kamu biar potong rambut, Bang. Takut jadi sarang kutu."


"Yakali aja, Papah kan kalau disengat lebah suka gak kerasa. Bisa jadi digigit kutu juga gak kerasa, soalnya kepala Mamah gatal gatal ini."


"Mamah gak keramas kali, pantesan bau minyak orang aring."


"Tuman kamu, Bang!"


BUK!


"Aduh, Mah! Tar Abang cacingan."


"Bodo ah!"


🌹🌹🌹


"Yank, Nadia demam deh."


"Masa?" Tanya Inanti, dia mendekat untuk mengecek. "Anget dikit, Mas. Pantesan rewel."


"Mau mimi kayaknya nih."


Inanti menggendong bayinya, dia menimang dan memberikan asi untuk Nadia lewat sumbernya. Tapi, anaknya malah menolak.

__ADS_1


"Uh.. sayang, ini mimi dulu, Nak. Hei, liat Mama."


"Gak mau dia, Yank?"


Inanti menggeleng.


"Aku ke bawah ya, beli kompres dulu buat Nadia."


Inanti mengangguk, dia terus menimang bayinya yang terus menangis.


"Hei, Sayang… udah dong, ini mimi ya. Dede?"


Inanti yang menjadi ibu di usia muda seringkali mengalami kepanikan, dia takut tidak bisa menjadi ibu yang sempurna untuk Nadia dan mengecewakan Alan.


"Yank?"


"Di sini, Mas."


Alan mendekat dan menempelkan gel dingin di kening anaknya. 


"Kita bawa ke dokter, Mas?"


"Nanti dulu, Yank. Tenang, Nadia baik baik aja kok," ucap Alan melihat kepanikan di wajah istrinya. "Aku gendong lagi ya."


Saat itulah Alan membuka pakaiannya kemudian menimang Nadia di dadanya sambil diselimuti selimut yang tebal.


"Udah, Sayang."


Dan ketika Alan mulai melantunkan sholawat, tangisan Nadia perlahan mereda.


Inanti menarik napasnya dalam.


"Gak papa, Sayang. Sini," ucap Alan mencium kening istrinya. "Biar aku tidurin Nadia ya."


Inanti mengangguk, membiarkan Alan pergi ke kamar dengan bayi di dadanya. Alan berbaring hingga Nadia tengkurap di sana, sholawat terus melantun di bibirnya.


Sesekali dia mencium puncak kepala bayinya. 


Sampai suara dering ponsel terdengar, Alan mengangkatnya.


"Hallo, Assalamualaikum Mah?"


"Waalaikum salam. Bang, Eyang Sekar meninggal. Permintaan terakhirnya mau Abang yang anter dia ke makam."


Alan diam, dia terkejut dan belum bisa juga menyanggupi. Pasalnya bayinya baru saja terlelap, dan dia tidak bisa meninggalkan istri dan anaknya ketika keadaan Nadia sedang seperti ini.


🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2