
🌹Vote ya ghaisss.🌹
🌹Jangan kasih kendor yak, sama follow igeh emak juga di @REDLILY123🌹
🌹Ay Lope Yu, Anak anak.🌹
Setelah sekian hari mereka lewati dengan banyak bersenang senang, mereka berjalan jalan menggunakan mobil sewaan ke berbagai tempat. Dan Vanessa sadar, dia mengeluarkan banyak uang perharinya. Dia menghabiskan banyak uang milik sang suami, satu hari saja melebihi lima juta termasuk makan di berbagai tempat dan memasuki berbagai destinasi.
Saat mereka menghentikan mobil untuk makan siang, Vanessa merasa kasihan melihat adanya pengamen di sana.
Dia mengeluarkan selembar uang pecahan lima puluh ribu dan memberikannya.
Segera setelah melihat Vanessa memberikannya, penjaga resto di sana mengusirnya.
Dan Vanessa terdiam di sana merasa kasihan, sementara dirinya bersenang senang setiap harinya.
“Kenapa, Yank?” tanya Judi yang melihat istrinya terdiam.
“Kasian tau, Mas. Liat yang kayak gitu.”
“Iya,” jawab Judi santai.
“Emang kamu gak mau ngasih gitu?”
“Huh?” tanya Judi tidak paham.
Mereka bicara sambil berjalan, Judi menggenggam tangan istrinya. “Kenapa, Yank?”
“Maksudnya kita kebanyakan main loh.”
Judi terkekeh saat paham. Ketika dirinya duduk, Judi segera memperlihatkan pengeluarannya melalui m-banking pada sang istri.
Di sana Vanessa melihat rincian kalau Judi mengeluarkan 20 juta untuk pembangunan madrasah di sekitar sini.
__ADS_1
Malu dengan apa yang dikatakannya, Vanessa terdiam.
“Biasa aja dong mukanya.”
“Aku juga biasa,” ucap Vanessa sensi. “Abis kamu gak bilang, ya aku nyangkanya kamu maen terus gak ada bagi baginya sama mereka.”
“Masa harus diumbar sih, Yank.”
“Diumbar sama aku aja gak papa.”
“Nanti kamu malah ngira aku pamer.”
“Akumah biasa aja,” ucap Vanessa. “Nanti juga aku bakalan nyumbang nyumbang gitu ah, biar dapet tabungan.”
“Bagus itu,” ucap Judi sambil menerima menu makan siang dari pelayan yang datang.
Vanessa meyakinkan diri akan giat menabung untuk kematiannya nanti. Lagipula dia dijatah oleh Judi tiap bulannya cukup banyak, jadi Vanessa rasa itu lebih dari cukup.
“Samain deh kayak kamu.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kembali ke villa, ini adalah malam terakhir dirinya bersama sang suami berada di sini. Karena besok sore, Vanessa akan kembali ke Bandung. Dia akan mendatangi rumah barunya dan mendesain.
“Eh, Mas.”
“Hm?” tanya Judi yang baru selesai sholat ashar. “Kenapa?”
“Nanti pas kita desain rumah, kita tidur di mana?”
“Ya di rumah itu aja.”
“Kan belum ada alat alat masak dan sebagainya.”
__ADS_1
“Kamu maunya dimana?” tanya Judi sambil melipat sejadah. “Soalnya hotel jauh dari situ, Van. Paling kontrakan kecil, mau?”
Bukannya gengsi atau merasa tidak level, tapi Vanessa juga merasa kasihan pada suaminya jika harus terdiam di tempat seperti itu. Maka darinya dia menggeleng.
“Lagian kan dua lantai, nanti kita bolak balik aja liat perkembangan rumah.”
“Kamu yakin interior mau aku yang desain?” tanya Vanessa memastikan, karena memang dia mendapat nilai bagus dengan cara tidak jujur.
Kemampuannya hanyalah khayalan semata.
“Itu rumah kita, aku tau kamu pasti lakuin yang terbaik.”
CUP.
Judi mencium kening istrinya yang duduk di pinggir ranjang. “Sana mandi, kan kamu belum mandi.”
“Hih, mentang mentang udah mandi,” ucap Vanessa mengerucutkan bibirnya.
Gemas dengan tingkah istrinya, Judi mencubit bibir Vanessa.
“Aduh sakit, Mas.”
“Sana mandi dulu.”
“Iya ini otewe mandi.”
Masuk ke kamar mandi, Vanessa membuka pakaiannya dan membasuh diri. Sampai dia sadar sesuatu. “Eh, udah gak merah?”
Dan saat itulah Vanessa sadar, malam ini dirinya tidak akan bisa tidur.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
TBC
__ADS_1