
🌹Jangan lupa kasih emak vote sebelum membaca ya anak anak kesayangan emak. Rating lima, ulasan maknyus sama tambahkan ke favorite. Jangan lupa juga untuk ajak yang lain baca ya, kecuali mantan sih soalnya takut ngajak ribut.🌹
🌹Follow juga igeh emak di : @REDLILY123.🌹
🌹Emak sayang kalian, jadi selamat membaca ya kesayangan emak semua.🌹
🌹BTW, maaf pendek ya, soalnya Emak udah mulai kuliah lagi. Jadi sibuk, apalagi sambil ngurus anak. Tetep diusahain tiap hari update kok.🌹
“Menurut Oma gimana?” tanya Vanessa saat keluar dari pengajian.
“Kamu mau ribut sama Judi?”
“Ehehehe, enggak sih,” ucap Vanessa yang membuatnya segera berhenti melangkah, membuat Oma mengerutkan kening. “Kenapa berhenti?”
“Mau bilang kalau aku gak bisa ikut sama Bu haji.”
Oma tersenyum melihat itu. Oma tahu kalau Vanessa masih memiliki jiwa bebas yang mana membuatnya ingin mengembara ke tempat tempat baru. Sisi liarnya akan selalu ada, tapi kini dia berani menundukannya dan diam di rumah menjadi istri yang baik.
“Oma tunggu,” teriak Vanessa menyusul Oma Asih yang berjalan dulu.
Oma Asih mengerutkan keningnya melihat Vanessa yang senyum senyum sendiri.
“Kenapa senyum senyum?”
“Oma akutuh bersyukur banget tinggal di sini, sama Oma lagi. Oma jangan tinggalin aku ya.”
“Emang Oma mau kemana lagi? Sumber uang juga ada di Judi.”
Vanessa terkekeh. “Nanti aku mau periksa kehamilan.”
“Nyetir sendiri?”
__ADS_1
“Enggak lah sama supir aja, cari aman.”
“Pinter,” ucap Oma.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Seperti biasa, sebelum tidur Judi selalu memberi kabar kepada sang istri dan mencurahkan kerinduannya. Dia menelpon, Judi enggan melakukan video call. Akhir akhir ini dia bahkan malas bercukur, membuat janggut dan kumisnya sedikit tumbuh. Dan dapat dipastikan jika melakukan video call, Vanessa akan mengetahuinya. Bahkan dari tatapan saja, istrinya mudah memahami.
Menunggu beberapa detik sampai akhirnya panggilan diangkat sang istri.
“Hallo, Assalamualaikum Mas?”
“Waalaikum salam, Sayang. Lagi sibuk enggak?”
“Enggak, ini baru beres ngaji kok.”
“Katanya gak jadi les jahit?”
“Enggak ah di rumah aja.”
“Pinter,” puji Judi yang diyakininya membuat sang istri tersipu sipu di sana.
“Mas….,” bujuk Vanessa yang diyakini Judi akan meminta sesuatu.
Judi yang sudah mencium aroma aroma permohonan itu segera berdehem memberi tanda.
Vanessa langsung terkekeh di sana. “Mau pamer kok, gak bakalan minta izin.”
“Pamer apa?”
“Kan kataya ibu ibu pengajian mau ziarah, lah aku gak ikut dong. Hebat kan? Nurut banget sama suami.”
__ADS_1
“Pinter,” puji Judi dengan senyuman.
Saat sedang enak enak menelpon, tiba tiba Mile mengirimkan pesan bahwasanya dia ingin bicara dengan Judi di luar. Judi terpaksa mengatakan, “Sayang, maaf aku harus keluar. Mile ingin bicara denganku.”
“Oh tentu, Mas nanti kalau mau telpon chat aja dulu ya.”
“Enggak deh, mungkin nyampe malem. Kamu tidur duluan aja ya.”
Vanessa menghela napas. “Aku sayang kamu, jangan kangen. Bentar lagi juga pulang kok.”
“Aku juga sayang, Mas. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Judi segera turun dari ranjang, dia bersiap menemui Mile di caffe bawah.
Saat Judi ke sana, Mile sudah menunggu di meja pelanggan.
“Tuan, anda ingin memesan sesuatu?”
“Tidak, katakan apa yang terjadi.”
“Kemungkinan kita mungkin akan kalah.”
Tanpa basa basi, Judi meminum minuman milik Mile di sana sambil menggelengkan kepalanya. “Jadi kita tidak punya pilihan selain kembali ke Belanda?”
“Belanda dan Indonesia adalah pusatnya, kita harus memperkuat⸻”
“Aku paham,” ucap Judi. Dia tidak yakin istrinya akan menerima keputusan jika harus kembali ke Belanda dan tinggal di sini. Apalagi di sini Vanessa sudah betah dengan lingkungannya. “Tapi jangan putus harapan, terus berusaha sampai keputusan akhir keluar.”
“Baik, Tuan.”
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE