Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Mengikuti Alur


__ADS_3

🌹VOTEEE YHEE GAIS🌹


🌹Baca juga : -Stuck with an arrogant CEO dan - Kakakku suamiku🌹


"Mas, besok datang kan sama Nadia? Liat aku masak?"


Alan yang sedang memakai kemeja itu menengok, menatap istrinya yang sedang memakaikan baju pada bayi mereka. Wajah Inanti berbinar meskipun kucal karena belum mandi.


Inanti disibukan dengan perannya menjadi ibu rumah tangga. Setelah subuh Inanti tidak tidur, dia mencuci pakaian Nadia dan menyiapkan baju untuknya bekerja. Ditambah dengan beres beres dan juga menyiapkan makanan.


"Mas? Kok ngelamun? Kamu datang 'kan?"


"Akhir pekan ini 'kan?"


"Iya. Katanya bakal dijadiin dua pekan. Pertama seleksi sepuluh besar sampai menyatakan pemenangnya."


Alan tersenyum melihat binar mata istrinya, Alan mengangguk sambil mengancingkan sisa kemeja sebelum mendekat dan mencium puncak kepala istrinya.


"Ish… jangan cium cium, Mas. Aku belum mandi."


"Gak ngaruh," ucap Alan menggendong Nadia yang sudah siap berjemur. "Aku pulangnya agak sorean deh, Yank."


"Ada banyak kerjaan, Mas?"


"Iya, ada meeting yang aku tunda seminggu ini."


"Mau aku bawain makan siang gak ke kantor?"


"Gak usah, meeting nya sambil makan siang," jawab Alan membawa Nadia keluar kamar lebih dulu.


Di sana Inanti membawa jas dan dasi untuk dipakai suaminya saat selesai sarapan nanti. Wajah Inanti tersenyum melihat Alan yang sangat menyayangi Nadia. 


"Sarapan dulu, Mas."


"Bentar, Yank." Alan menidurkan bayinya di bawah sinar matahari dengan memberi mainan untuk digigit di sana. "Masak apa, Yank?"


"Jamur pedas, suka?"


"Segala aja pedas, mentang mentang punya suami kaya. Nanti sakit perut loh, Yank. Jangan keseringan ah."


Inanti tersenyum. "Enggak, ini cabe nya dikit kok. Aku bikin sayur buat kamu."


Makanan di sini didominasi oleh sayuran. Sarapan bersama membuat hati Inanti berdesir. Dia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi, di mana Alan menerimanya. Dirinya tidak lagi menunggu sisa makanan suaminya.


"Mamah juga dateng, Yank?"

__ADS_1


"Iya, Mas. Kan acara masak nya itu barengan sama pasar makanan, jadi mau jajan katanya. Mamah juga mau ajak Papah."


Alan tersenyum tipis, membuat Inanti mengira suaminya tidak suka dirinya ikut kompetesi itu. "Mas… kalau kamu gak izinin aku gak akan ikutan kok."


"Enggak, Sayang. Aku izinin kamu kok."


"Wajah kamu kayak gak mood gitu kalau aku ngomongin ini, Mas. Kenapa? Kalau ada yang bikin gak nyaman sama kamu, ngomong sama aku. Jangan jutekin aku," ucap Inanti memelan.


Yang mana membuat Alan menggeser kursi istrinya sehingga menatapnya. "Maaf kalau wajah aku kayak jutek, tapi bukan karena itu, Sayang."


Senyuman kembali mengembang saat Alan mengusap pipinya.


Setelah sarapan, Inanti memasangkan dasi dan jas suaminya. Tidak lupa dia mencium tangan Alan kemudian dirinya mendapatkan kecupan di kening.


Alan bermain beberapa saat bersama dengan Nadia dahulu.


"Mas, nanti telat loh kamu."


"Iya, Yank. Aku berangkat ya, Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Inanti menghela napasnya dalam, dia bersiap untuk beres beres di rumah. Bi Idah pulang kampung karena anaknya sakit lagi, dan Inanti harus siap sendirian.


🌹🌹🌹


"Tidak." Akhirnya Alan bergerak memakai jas nya. "Aku akan pulang. Siapkan dirimu, kau yang akan menggantikanku besok."


"Baik, Tuan."


"Sudah beli yang diminta?"


"Ini, Tuan." Karl memberikan papper bag pada majikannya.


Alan turun menuju basement, mengendarai mobilnya tapi tidak untuk pulang ke apartemen.


Alan menuju ke makam Adam, di sana dia berdoa dan mengaji untuk putra sulungnya.


Setelah membacakan surat yasin, Alan menatap dan mengusap nisan anaknya. "Abang, doain Papa ya supaya bisa jaga Mama terus."


Jujur saja, kegelisahan akan istrinya selalu saja menghantui. "Papa janji akan jaga Mama, buat Mama bahagia sebisa Papa. Ridhoi Papa ya, Bang. Biar nanti Papa sama Mama bisa kumpul sama Abang, sama adik adik Abang juga di syurga-Nya."


Alan lama berdiam di sana. Yang mana membuat Inanti di apartemen khawatir.


Alan tidak dapat dihubungi, padahal sebelumnya dia mengatakan jam delapan malam sudah pulang. Tapi sekarang hampir jam sepuluh malam.

__ADS_1


"Kok Mas Alan gak aktif sih?" 


Perasaan Inanti sangat peka, dia tahu ada yang salah dengan suaminya dan itu bersangkutan dengan impiannya menjadi seorang koki terkenal. 


Inanti menghubungi mertuanya. "Hallo Assalamualaikum, Mah."


"Waalaikum salam. Gimana, Nan?"


"Mah, Inan gak jadi ikutan kompetesi deh, Mah."


"Loh kenapa?"


"Eum….." Inanti binging menjelasakannya.


"Pokoknya jangan ambil keputusan buru buru, Nan. Mamah udah daftarin loh, kalau nanti ditarik lagi, terus kamu berubah pikiran mau ikutan lagi kan gak bisa."


Inanti diam.


"Udah, ngomong dulu sama sumber masalahnya ya. Assalamualaikum."


Madelle menutup panggilan.


Dan beberapa menit setelah itu, Alan pulang.


"Assalamualaikum. Yank? Kok belum tidur? Nadia udah tidur?"


"Waalaikum salam." Inanti mencium tangan suaminya dulu. "Udah, Mas. Kok kamu telat?"


"Iya, tadi ke makam Abang Adam dulu. Nunggu ya? Cieee yang kangen."


"Mas…"


"Kenapa, Yank?" Alan menyimpan sepatu di rak. "Kok mukanya masam gitu?"


"Apa aku gak usah ikutan lomba masak itu ya, Mas?"


"Loh kok gitu, aku udah pesenin khusus loh baju masak buat kamu," ucap Alan memberikan papper bag di tangannya.


Yang mana membuat Inanti terkejut saat melihatnya.


"Makasih, Mas!" Inanti memeluk erat suaminya.


Yang dibalas kecupan oleh Alan. Dia meyakinkan dirinya, bahwa semuanya akan baik baik saja. Cukup ikuti rencana Allah.


🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC.


__ADS_2