Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Masih jadi pengganggu


__ADS_3

🌹VOTE YA GAIS, MAAF PENDEK.🌹


🌹INSTAGRAM AKU ADALAH.. @Redlily123🌹


"Loh, jadi Mas Alan juga…..?"


"Iya, Nan, dulu kita gak beneran nikah. Ehh… udah tekdung Mamah terus pindah agama, terus nikah deh. Terus ya, Bokap nya si Abang itu ternyata bucin, pecicilan, mana tengil lagi. Persis kayak Abang sekarang kan?"


Inanti menganggung, Madelle semakin semangat menceritakan sampai tidak sadar bahasanya campuran. "Pokoknya abis nikah, Mamah satu minggu gak bisa keluar. Terusssss aja dipepet sama Bokapnya si Abang. Sampe sampe Mamah pernah ngancem mau telpon polisi."


"Mamah…., Suka sama Papah sekarang?"


"Dari dulu juga suka sih, tapi sekarang makin suka. Soalnya dia tunjukin jati dirinya di depan Mamah aja. Kalau di depan anak anak, di depan kerabat bahkan orangtuanya, gak pernah tuh. Kayak Abang kan?"


Inanti mengangguk tersenyum. "Mamah pikir si Abang gak kayak Bapaknya yang gituh…. agak miring. Eh taunya lebih lebih, makannya Mamah suka jailinnya, he he he."


Nadia melepaskan sumber susu, membuat Inanti menimangnya saat bayinya terlelap.


"Panggilannya ganti, Nan. Jangan dede, masa iya gak mau punya lagi."


"Eum… kalau Inan terserah Mas Alan sih, Mah."


"Jangan terserah si Abang!" Teriak Madelle yang membuatnya membungkam bibirnya sendiri seketika. Kemudian berbisik, "Jangan terserah si Abang, nanti dia minta kesebelasan tim sepak bola loh. Kamu mau?"


Inanti menggeleng. Kalau sebanyak itu dirinya tidak mau. Jika boleh menawar pada yang Maha Kuasa, Inanti ingin dua saja. Dan itu satu jodoh. 


"Tidurin, Nan. Sini sama Mamah."


"Di box, Mah."


Madelle menurut, dia menidurkan cucunya di sana. "Ya Allah, cucunya Mbah Putri cantik banget. Jangan petakilan kayak bapakmu ya, Nak."


Inanti menatap aneh doa yang dipanjatkan Madelle di sana.


Dan saat itulah Alan masuk tanpa mengetuk. "Abang! Kalau cewek lagi out times dengan sesama jangan diganggu."


Alan menjawab dengan santai, "Nanti makanannya dingin."


Seketika wajah Madelle berubah. "Asyikk… ayo, Nan. Eh, gak bisa jalan yah? Gendong, Bang! Tanggung jawab kamu."


"Sini, Sayang."


"Gak perlu, udah mendingan kok."


"Asli?" Tanya Alan seolah senang.

__ADS_1


Dan itu membuat Inanti yang hendak berdiri mengurungkan niatnya. "Gendong, Mas."


Madelle mendahului ke meja makan, dia tersenyum melihat banyak makanan yang dihidangkan Alan.


"Harus kayak gini dong, Bang. Masak yang enak enak. Masa sama Inanti doang, sama Mamah enggak. Jahat kamu, durhaka ya."


"Oh, Mamah mau Abang masakin? Yaudah, nanti jatah jajan nya diganti jadi masakan Abang ya, Mah."


"Eh, jangan deng. Makin durhaka kamu kalau gitu."


"Orang dulu Abang bilang mau dimasakin enggak, Mamah malah jawab mau mentahnya, mau uangnya."


"Udah jangan dibahas! Tuman kamu," ucap Madelle mengabil udang asam manis.


Dan saat Inanti menyajikan makanan untuk suaminya, bel kembali berbunyi.


Alan berdiri dan membukanya. "Papah?"


Dan satu gangguan lagi datang.


🌹🌹🌹


Keheningan melanda makan malam di sana, kedatangan Riganta membuat hening. Alan dan Riganta memiliki sifat yang sama, keduanya tidak ingin menunjukan sifat asli kecuali di depan pasangan mereka.


Madelle berkata, "Tau gak, Mas? Ini anak kamu yang buat loh."


Dan Riganta menjawab dengan dingin. "Tau, kamu mana bisa masak."


Madelle menatap spechless. "Nan, Mamah ada les masak. Mau ikutan?"


"Apaan ikutan, less sama Abang kalau Inanti."


"Kalau sama Abang bukan less masak yang ada. Yuk, Nan. Dipanggil ke rumah kok."


"Gak usah, biar sama Abang aja."


"Apasih, Mamah ngomong sama Inanti, bukan sama Abang."


Dan saat itu Riganta menyimpan garpu di meja hingga menimbulkan suara.


Inanti bertanya, "Kenapa, Pah?"


"Papah kenyang, mau lihat Nadia."


"Nadia di kamar, lagi tidur."

__ADS_1


Riganta pergi ke sana, yang membuat wajah dan bahasa tubuh tegas Alan hilang. "Mah, sana pulang dulu. Papah itu mau ngapain? Bangunin Nadia? Udah Mamah pulang dulu ya."


"Dasar anak kurang baik," ucap Madelle menyelesaikan makanannya. "Mamah mau lihat Nadia."


Meninggalkan Inanti dan Alan di sana.


"Yank….. mau berduaan."


"Nanti ih, Mas. Masa kamu mau usir orangtua kamu? Tar kamu durhaka beneran kayak kata Mamah."


"Mereka juga kalau lagi berduaan aku suka diungsikan ke rumah Eyang dulu."


"Ini mah beda, mereka kangen sama cucu nya."


"Tapi aku kangen juga sama kamu. Emang kamu enggak gituh? Padahal kalau lagi kuda kudaan kamu yang sering meluk aku duluan loh."


"Ah, gak mau denger," ucap Inanti menyuapkan makanan ke mulut Alan. "Makan dulu yang bener, Mas."


Membereskan bekas makan oleh Alan dan Inanti. Dan ketika Inanti sedang mencuci piring, Alan memeluknya dari belakang.


"Mas ih, ada orangtua kamu," ucapnya penuh penekanan.


"Tuh kamu bisa jalan, Yank…."


"Mas ih, ja--"


Dan keduanya langsung berhenti melakukan sesuatu saat Riganta keluar.


"Papah mau ke mana?" Tanya Alan.


"Mau keluar, Mamah kamu tidur. Awas kalau kamu bangunin, Bang. Nanti aja berduaan nya."


Alan dan Inanti sama sama terdiam saat Riganta keluar.


Inanti menggeleng. "Wah… kamu mirip Papah, Mas."


"Orang anaknya. Aku lihat Mamah dulu ya, Yank," ucap Alan memeriksa Madelle di dalam.


Dan tanpa diduga, dia melihat Madelle yang tertidur dengan mulut terbuka. Dengan Nadia yang membuka mata menatap Mbah Putri nya di sana.


"Gak papa, Sayang, Papa datang. Dede kaget ya liat Mbah Putri mangap? Papa akan tolong, ayo Papa gendong."


🌹🌹🌹


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2