Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Ketakutan Alan


__ADS_3

🌹VOTE YA GAIS🌹


🌹YOU MAU TAU MY IG ➡️ @Redlily123🌹


Les memasak sudah dimulai, dengan chef yang datang ke apartemen. Dari selepas ashar sampai pukul lima. Supaya makanan itu bisa termakan saat makan malam.


Madelle dan Inanti bersantai di kursi menikmati kue yang mereka buat sambil menatap senja, tentu dengan Nadia yang tertidur di antara mereka.


"Puddingnya enak loh, Mah."


"Masa? Mamah mau coba."


Inanti menyuapi Madelle dengan pudding rasa cokelat yang mereka buat tadi.


"Gimana, enak kan?"


"Mayan, tapi Mamah gak suka kalau gak manis. Coba kalau ditambah madu, Nan."


"He he, madunya abis dipake Inanti masak steak."


"Yaela," gumam Madelle kembali memakan kue. "Nan, kalau kamu kuliah lagi…., Mau jurusan apa?"


"Hah?" Inanti bingung.


"Ya kan kuliah kemarin itu kamu karena beasiswa, Ibu kamu pernah ngomong sama Mamah kalau jurusan itu sebenernya enggak kamu inginkan. Tapi karena beasiswa, jadi kamu ambil."


Inanti mengangguk sedih mengingat ingat masa kepedihan dulu


Dan Madelle melihat itu, dia mengusap pundak menantunya. "Yang udah mah udah. Gak papa nengok ke belakang, tapi jangan lupa dimana kita sekarang."


Inanti tersenyum samar, dia membalas tatapan Madelle. "Kalau Inan maunya jurusan yang masak masak gini, Mah. Mau belajar masak di kampus kayak orang lain, terus bikin masakan yang disukai semua orang."


"Toh…, pantesan dulu si Abang bilang kamu sering bikin gosong dapur pas di rumah itu," ucap Madelle tidak sadar menyinggung prilaku Alan yang menyakiti Inanti. "Eh, maaf, Nan. Mamah gak bermaksud."


"Gak papa, Mah. Lagian kan sekarang Mas Alan udah baik banget, yang lewat mah gak papa. Jadiin pelajaran."


"Tapi kalau ada kesempatan kamu kuliah lagi mau?"


"Mau banget, Mah. Itu impian Ibu, beliau ingin Inan menempuh bangku kuliah."


"Udah pernah bilang sama Alan?"

__ADS_1


Inanti menggeleng.


"Loh kenapa? Itu kan amanat Ibu kamu, Nan. Lagian kalau gak ketemu si Abang kamu udah setengah jalan kuliah loh. Jadi menurut Mamah si Abang harus tanggung jawab."


"Tapi Inan takut Mas Alan gak izinin."


"Masa gak izinin, emang kamu mau pergi ke mana?"


Inanti bergumam, "Di sini kuliah khusus memasak jarang, Mah."


"Emang sih." Madelle bingung. "Tapi itu impian kamu sama Ibu kamu, Nan. Kalau ada kesempatan kamu mau?"


Inanti mengangguk sambil tersenyum. "Mau banget."


Saat itulah Nadia menangis, memecah percakapan diantara mereka. "Uhh… cucunya Mbah Nti dah bangun. Mau mandi, Nak? Yuuu, dimandiin Mbah Nti yu."


"Gak papa biar Inan aja, Mah. Nadia kalau mandi suka nangis."


"Mamah ajalah," ucapnya menggendong Nadia. "Kamu fotoin Mamah ya lagi mandiin Nadia, biar Papanya si Abang gak gila kerja."


"Loh, apa hubungannya, Mah?"


🌹🌹🌹


Untuk yang kesekian kalinya, Alan merebahkan diri di kasue hotel yang berbeda. Beberapa lokasi dia datangi, belum ada yang cocok untuk pembangunan.


Alan mendesah malas mendengar ketukan, dia terpaksa membukanya. "Ngapain?" Tanya Alan.


Andria mengangkat alkohol di tangannya. "Mau minum gak lu?"


"Nggak, sana."


"Weiii…." Andria menahan pintu. "Gue bawa rokok kok, bincang bentar napa, Al."


Andria masuk begitu saja saat ada kesempatan. Dia membua balkon dan duduk di sana sambil meletakan apa yang dibawanya.


"Kalau lu cape, gak papa besok gue sama si Rizki yang OTW."


"Nggak, gue tau selera lu sama Rizki jelek kalau tentang lokasi."


"Njiiirr, nyes banget kena ati," ucapnya memberikan sebatang rokok pada Alan. "Lu udah nelpon bini?"

__ADS_1


"Udah." Saat itulah Alan sadar. "Ngapain lu nanya bini gue?"


"Tenang, Al. Gue cuma nanya, terus mintain sama bini lu dong cariin gue pasangan, yang kayak dia tapi. Yang sabar, cantik iya, muslimah juga."


"Lu ngaca napa."


"Hah?"


"Jodo tuh cerminan diri."


"Lu gembeeel ah," gumam Andria. "Keluar malem pulang pagi, dugeman, mabok. Pernah kan?"


"Ya, but….., gue nyesel lakuin itu."


Andria menggeleng tidak percaya. "Lu asli udah insyaf. Kalau gitu kasih gue bonus gajian ya."


"Enggak."


"Galak banget jadi boss." Andria menuangkan alkohol ke gelasnya. "Lu gak mau kuliahin bini lu lagi?"


Alan diam sesaat. "Gue takut dia minta itu, tapi nanti kalau dia minta, gue juga gak mungkin halangin dia."


"Lu takut kenapa?"


"Gue gak mau dia jauh dari gue."


"Kampus kan ada yang deket sama kantor lu."


"Gue gak bisa ninggalin dia tanpa pengawasan. Lu tau bini gue rapuh, kalau ada yang nyinyir gimana?"


"Lu takut ada yang nyinyir atau dia ketemu cowok lain yang kasih kesan pertamanya bagus sama dia? Nggak kayak lu dulu?"


Alan diam, sebenarnya itu alasan dia sebenarnya. Selain alasan jarak yang menjauh, Alan juga tidak mau hati mereka jauh.


"Lu tau bini lu setia, dia gak mungkin begitu."


"Tapi jahatnya gue ke dia akan dia ingat selamanya. Kesan pertama gue yang fu*k off. Gue takut dia jauh dari gue."


🌹🌹🌹


TBC.

__ADS_1


__ADS_2