Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Semanis Madu


__ADS_3

🌹VOTE DONG GAIS, MAMA LELAH BEGADENG🌹


"Sini makan, Yang."


Inanti berbalik. "Kamu manggil aku Eyang, Mas?"


"Ya Sayang lah, gila kali manggil kamu Eyang. Gak mau kata 'Yang.'? Maunya apa dong? 'Say.' aja?"


"Geli ih," ucap Inanti membuka kembali kerudungnya lalu duduk di sofa, menatap lautan makanan di meja. Dirinya benar benar di manjakan.


Ketika tangannya mengambil kulit ayam crispy di atas meja, Alan berdehem.


"Kenapa, Mas?"


"Kamu gak mau mandi dulu?"


"Emang harus?"


Alan mengangkat pundaknya. "Ya… Gak papa, kali aja mau mandi dulu."


"Berangkatnya juga nanti 'kan?"


"Ya kan biar cantik."


"Berarti sekarang gak cantik gitu?"


"Baper amat," ucap Alan menarik istrinya untuk duduk di sampingnya. Dia cengengesan lalu menyajikan makanan dengan menuangkan saus di atas kulit crispy itu. "Buat sayangku."


"Pasti ada maunya," gumam Inanti.


"Tau aja."


"Mau apa? Aku mah gak punya apa apa."


"Punya bibir yang indah."


"Mau cium kan?"


"Nah itu tau, Nan."


"Gak mau, Mas," ucap Inanti mendorong dada bidang Alan. "Aku mau makan dulu."


"Abis itu kiss ya."


Inanti diam.


"Kiss doang, cuma nempel."


"Liat nanti aja ih!"


"Iya, iya, jangan marah dong. Nanti cantiknya ilang. Mau makan apa?"


"Kulit dulu," ucap Inanti mengambilnya dengan tangan lalu memakannya. Rasanya sangat enak dan gurih, apalagi dengan saus sambal goreng bawang bombai.


Dan ketika keduanya menikmati itu, terdengar suara ketukan pintu.


"Biar aku aja," ucap Alan yang membukanya.


"Eh, Bang Alan," ucap orang yang ada di luar terkejut dengan Alan yang membukanya. 

__ADS_1


"Kenapa, Mi?"


"Ini mau ngasih onde onde."


Sebelum menerimanya, Alan memanggil dulu dari ambang pintu. "Sayang….. mau onde?"


"Mau, Mas."


Alan mengambilnya. "Makasih."


"Iya, Bang. Kalau ada apa apa panggil kita aja ya."


Alan hanya mengangguk lalu masuk kembali.


Dia terkekeh saat berjalan menuju istrinya. 


"Kenapa kamu ketawa, Mas?"


"Aneh aja, mereka bilang kalau ada apa apa panggil mereka aja katanya."


"Terus? Anehnya yang sebelah mana?"


Alan terkekeh, dia menyimpan piring berisi onde di depan Inanti. "Heran aja sama mereka, katanya kalau ada apa apa bilang, nanti emang kalau ada maling terus aku panggil mereka, mereka bakalan datang ke sini bak super hero? Yang ada pada ngacir."


🌹🌹🌹


Inanti menyusui Nadia dengan tatapan tidak lepas dari bayinya itu. Alan melihatnya, bagaimana Inanti menyentuh putri mereka dengan penuh kasih sayang. Alan tahu umur istrinya masih belum matang, tapi Inanti memperlihatkan jelas dia dewasa untuk menjadi ibu.


"Yang, aku ke bawah dulu ya."


"Mau ngapain? Pergi lagi? Tar kamu pulang aku digantung mau?!"


Alan tertawa melihat tingkah istrinya yang melotot tajam. "Ke bawah mau ngerokok, masa di sini. Aku kan sayangnya sama jiwa dan raga kamu, Nan. Nanti Nadia sama kamu hirup udara rokok, nah kan bahaya."


"Abis sama kamu gak di kasih kiss."


"Hih," ucap Inanti kesal.


"Mau ngasih gak nih?"


"Enggak."


"Yaudah aku ke bawah bentar ya, gak akan keluar area ini kok. Kalau aku keluar pun nanti ada alarm darurat berbunyi."


"Serius, Mas?"


"Bohong lah, kok kamu percaya sih."


Inanti semakin kesal. "Nyebelin ih!"


"Mau kiss, Nan."


"Gak mau!"


"Yaudah aku keluar nih, daahh, Sayang."


Dan ketika Alan pergi, baru Inanti merasa kesepian dan hampa. Dia mendorong suaminya terlalu jauh dan terlalu menjunjung rasa gengsi nya. Inanti seharusnya membiarkan suaminya mendekat secara perlahan, ciuman di bibir rasanya tidak keterlaluan untuk mereka lakukan. Lagi pula suaminya melakukan itu untuk menghilangkan traumanya. Dan tidak dapat dipungkiri, Inanti memang nyaman saat Alan berada di dekatnya.


Hingga sekarang dia baru sadar kehilangan suaminya.

__ADS_1


"Mas….?" Panggil Inanti pelan berharap Alam ada di luar sana.


Namun, kenyataannya Alan turun ke lantai pertama. Dia membuat penghuni di lantai itu sedikit gundah.


Alan memilih merokok di halaman belakang mansion besar ini.


Dia berdiri sambil menatap kolam ikan, dengan rokok yang dia nikmati.


Seseorang tiba tiba berdiri di sampingnya, Alan sudah tahu siapa itu.


"Kapan mau tengok Eyang, Bang?" Tanya Benua.


"Nanti maleman."


"Kita semua?" Benua menggantungkan pertanyaannya.


"Kenapa?"


"Sampai kapan kita nganggur?"


"Kenapa tanya ke Abang?"


Dan saat Alan hendak berbalik, Benua menahannya. "Bang, jangan egois. Kasihan sama yang lain."


"Yang lain turut andil, mereka harus dapat pelajaran bahwa sebuah nyawa sangat berharga. Khususnya Inanti dan anak anakku."


Kemudian Alan masuk, dia berdiam di dapur sesaat sambil meminum soda.


Tidak ada yang berani mendekat. Jika dibalas dengan kalimat dingin, maka mereka memilih mundur.


Sekitar setengah jam an berada di lantai bawah, Alan kembali menaiki lantai dua. Dan saat membuka pintu, Inanti tidak menyadari kedatangan suaminya.


Alan menatap istrinya yang sedang mencoba mengambil buku dari sebuah rak di atas. Dia tersenyum melihat tangannya yang tidak sampai.


Membuat Alan mendekat lalu membalik Inanti secara tiba tiba, sepersekian detik Alan mendudukan istrinya di lesmer pinggir televisi.


"Astaga, Mas!"


Alan dengan santainya mengambil buku itu dan memberikannya pada Inanti yang duduk di depannya.


"Makasih. Mas, minggir, aku mau turun."


"Kiss dulu, Nan."


"Ih!"


"Nempel doang, kayak gini." Alan memperagakannya dengan jari. "Ya, mau ya?"


"Kamu nya merem."


"Hah?"


"Merem, Mas!"


"Asekkk," ucap Alan segera memejamkan matanya, dia menunggu saat saat istrinya menciumnya.


Alan pikir Inanti bercanda, tapi kemudian Alan merasakan sebuah benda kenyal di bibirnya. Lalu tidak lama kemudian, bibir keduanya saling bergerak menjadi lum*tan hingga menghisap satu sama lain.


Di sela sela ciuman, Alan berguman, "Bibir kamu manis, Sayang."

__ADS_1


🌹🌹🌹


Tbc.


__ADS_2