
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹FOLLOW JUGA IGEH EMAK DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
Karena merasa kasihan dengan Judi, Tante Metry mengemasi barang barangnya. Dia yakin Judi akan kalang kabut dan penuh dengan kekhawatiran. Tapi Tante Metry juga ingin memberinya pelajaran.
Judi memang sesekali harus mendapatkan pelajaran supaya dia tahu kalau dirinya tidak boleh egois.
Dan saat Tante Metry mendengar deru mesin mobil, dia segera turun ke lantai bawah dan duduk dengan tenang di sofa. Tante Metry juga menikmati harinya sambil meminum teh hangat di sana.
Judi yang baru saja datang langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya. Dia masih mencoba menelpon Vanessa dan Oma Asih, tapi tidak ada satupun yang menjawab.
Tante Metry memberi isyarat agar Mile mendekat ke arahnya. “Apa dia tahu kalau Vanessa mengetahui kebenarannya?”
Mile mengangguk.
Membuat Tante Metry berdecak. “Dia terlihat kalang kabut.”
“Nyonya Vanessa dan Nyonya Besar tidak meresponnya.”
“Kau tahu ini akan terjadi, Mile. Tolong jaga dia dengan baik di perjalanan supaya Vanessa sendiri bisa memberinya pelajaran.”
“Baik, Nyonya.”
Di sisi lain, Judi mondar mandir mencoba menelpon Vanessa ataupun Oma, sayangnya telponnya tetap tidak diangkat. Judi masih mengkhawatirkan janin yang ada di dalam perut Vanessa, dia takut sesuatu terjadi pada calon anaknya.
Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, Judi baru sadar kalau dia bisa menelpon supir di sana.
“Hallo, Assalamualaikum?”
“Waalaikum salam, ini siapa ya? Kok nomornya aneh?” tanya supirnya yang bekerja di rumahnya.
__ADS_1
“Ini saya Judi.”
“Oh maaf, Tuan. Tak kira siapa.”
“Gimana keadaan istri saya? Dia baik baik saja?”
“Kemarin sudah pulang dari rumah sakit, Tuan. Kata si Bibi sudah membaik kok.”
“Bayinya?”
“Kandungan Nyonya juga baik baik saja dan stabil, itu yang saya dengar saat Nyonya Besar dan si Bibi sedang bicara.”
“Oh syukurlah,” gumam Judi, karena dalam pikirannya, masih bayinya yang terpenting. “Terima kasih, Mang.”
Ketika ketenangan mulai Judi dapatkan, dia menyadari kalau barang barangnya sudah dikemas. Dia segera turun. “Mile, bawa barang barangku.”
“Baik, Tuan.”
“Judi pulang dulu, Tan.”
“Iya, perbaiki kesalahanmu. Jelaskan pada Vanessa dan tolong mengerti jika dia marah padamu.”
Judi terdiam.
“Lain kali dengerin omongan orangtua.”
“Iya, tante.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Vanesaa turun ke lantai bawah untuk sarapan. Meskipun dia kembali berbaur, tapi Vanessa masih jarang bicara. Apalagi dengan Oma Asih. Vanessa menghindari pertengkaran dengan Oma.
Dia ingin suaminya sendiri yang menjelaskannya, Vanessa akan memecahkan rasa marahnya pada suaminya yang memang salah.
__ADS_1
“Makan yang banyak, Van.”
“Gak nafsu, Oma,” ucap Vanessa memainkan makanan dengan sendok. “Udah kenyang.”
“Mau Oma buatin pecel gak? Atau rujak?”
Vanessa menggeleng. “Vanessa mau ke kamar dulu,” ucapnya meninggalkan Oma sendirian di sana.
Melihat kepergian Vanessa membuat Oma semakin merasa bersalah.
“Saya harus bagaimana, Bi?”
“Kata Nyonya Metry, Tuan Judi sedang dalam perjalanan. Tuan akan menjelaskannya, semoga saja bisa membuat Nyonya Vanessa tidak menyendiri lagi.”
“Itu yang saya harapkan,” ucap Oma mulai khawatir.
Sampai Oma mendengar suara mobil masuk, dia yakin itu Judi.
“Assalamualaikum,” ucap suara yang membuat Oma kesal akhir akhir ini.
“Waalaikum salam,” jawab Oma masih kesal.
“Oma.” Judi mendekat dan memberi salam pada Oma. “Vanessa mana?”
“Ada di kamarnya.”
“Bayinya gak kenapa napa ‘kan?”
Oma menggeleng tidak percaya. “Bayi kamu gak papa, tapi hati istri kamu terluka, Judi.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
__ADS_1