
🌹VOTEEE YEEE GHAISSS🌹
"Selamat ya, Nan."
"Makasih, Mamah." Inanti memeluk Madelle sambil menangis, tidak menyangka dirinya akan sampai di titik ini.
Bagaimana orang orang bersorak senang untuknya dan bertepuk tangan mengucapkan selamat. Setidaknya dia membuktikan pada dunia kalau dirinya memiliki potensi.
Inanti menyalami Riganta yang tengah menggendong Nadia.
"Selamat ya, Nan."
"Makasih, Pah."
Dan ketika melihat ke sisi kiri, Inanti melihat Ayaza yang membawakan buket cokelat. "Congratulation, Mbak Inan."
"Makasih."
"Nih, cokelat batangan. Ayaza mau yang tadi dibuat."
Madelle berdecak. "Ada maunya, dasar."
"Ke rumah Mbak Inan yuk, makan makan Mah."
Mereka tertawa riang dan sama sama menuju apartemen milik Inanti. Dengan bercanda tawa, mereka memasak bersama sama.
Ayaza, Inanti dan Madelle berada di dapur. Sementara Riganta dan Alden bermain bersama dengan Nadia di balkon.
Saat semua masakan hampir siap, Inanti pergi ke kamar dulu. "Mah, ke kamar bentar ya."
"Oke, Nan."
Inanti mendekati Nadia dahulu yang menagis. "Haus kali, Pah."
"Iya nih, nangis nya kenceng banget. Nanti kalau udah ke siniin lagi ya, Nan."
__ADS_1
"Iya, Pah."
Inanti mengangguk, dia membawa bayinya ke kamar untuk disusui di sana. Sambil menyusui, Inanti mencoba menghubungi suaminya yang tidak lagi memberi kabar.
Keningnya berkerut saat dia tidak mendapatkan jawaban, nomor Alan mati. Membuat Inanti sangat khawatir.
"Nan, Mamah masuk ya?"
"Iya, Mah."
Madelle masuk menemui menantunya, dia duduk di samping Inanti. "Kenapa wajahnya masam? Alan gak jawab telpon?"
"Iya, Mah. Sibuk kali ya?"
"Paling juga gituh," ucap Madelle. "Eh, Mamah mau tanya tentang study itu. Kamu mau ambil? Nanti Mamah yang urus."
Jantung Inanti berdetak kencang membicarakan hal itu. "Ke luar negri, Mah?"
Madelle sadar apa yang dibicarakannya. "Berat ya, Nan?"
Inanti mengangguk. "Kayaknya kalau ninggalin Mas Alan sama Nadia aku gak bisa deh, Mah."
🌹🌹🌹
Alan menatap ponselnya yang sudah mati sejak kemarin. Entah berapa pesan dan panggilan yang mungkin telah dia dapatkan. Alan tidak ingin menghadapi kenyataan.
Bahkan saat sampai di bandara, Alan terdiam dan duduk sendirian di caffe bandara sampai akhirnya Andria datang menemani.
"Al, lu kenapa sih?" Andria menyimpan kopi favorite Alan yang dipesankannya. "Nih minum, daripada ngelamun. Gak bayar lagi, nanti diusih lu."
Alan menerimanya. "Thanks."
"Kenapa sih?"
"Bingung gue gak beli apa apa buat Inan."
__ADS_1
"Beliin aja cokelat."
"Udah manis."
"Oh iya, tar lu gak mau berhenti cipoook doi terooos."
"Omongan lu di saring," ucap Alan kesal. "Gue mau pulang."
Di sana Karl sudah menunggunya seperti biasa. Wajah sedih Alan ditutupi dengan wajah dinginnya. Dia hanya menatap tanpa arah sampai lupa bahwa dirinya telah sampai.
Tanpa berkata apa apa lagi, Alan menaki lift dan berjalan menuju apartemennya.Â
Ketika membuka pintu, Alan mengucapkan salam dalam hati. Dia tidak mendapati siapapun, yang membuatnya masuk ke kamar di mana ada Inanti yang sedang menggendong Nadia memebelakanginya.Â
"Yank...."
Inanti membalikan badan perlahan, matanya berkaca kaca melihat pria yang seharian kemarin tidak bisa dia hubungi. Inanti menidurkan Nadia sebelum berjalan perlahan ke arah suaminya.
"Kemana aja kamu?" Tanya Inanti dengan air mata yang mulai turun. "Aku bilang kalau ada masalah sama aku ngomong baik baik, Mas. Jangan hilang gitu aja."
Alan merangusap air mata istrinya. "Maaf."
"Maaf? Seharian kemarin aku khawatir, Nadia rewel. Kamu sebenernya kemana?" Tanya Inanti menepis pelan tangan Alan.
"Aku takut," ucap Alan pelan.
Membuat Inanti mengerutkan keningnya. "Takut? Takut apa?"
"Aku takut kamu ninggalin aku buat kuliah lagi. Aku takut kamu nemuin dunia yang lebih baik di sana, yang lebih baik dari aku."
Inanti tertawa tidak percaya. "Mas…."
"Aku takut kamu jauh dari aku, ninggalin aku sendirian."
Inanti menarik napasnya dalam, saat itulah dia merangkup pipi suaminya dan memaksanya menatapnya. "Mas…., Kuliah dan dapat gelar memang impianku. Tapi ada impian yang lebih besar, yaitu jadi istri yang sholehah. Aku mau pergi kemana demi ninggalin syurga? Mas, gak ada tempat untukku selain kamu."
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC