
🌹VOTEEE YAAKKKK🌹
SATU BULAN KEMUDIAN….
"Mbak Inan?!"
"Ya?"
"Handuk Ayaza dimana?"
"Mana tau," ucap Inanti yang sedang memandikan Nadia. "Kan tadi dijemur!"
"Gak ada!" Teriak Ayaza dari luar kamar.
"Jatuh kali!"
"Pinjem yak!"
"Ambil aja yang baru di laci, Za!"
"Oke!"
Dan selama beberapa minggu terakhir, Ayaza yang menemani Inanti di apartemen. Dia datang saat malam, menginap lalu pergi lagi pagi karena ada agenda di luar.
Mertuanya tidak bisa datang karena sangat sibuk. Madelle juga sedang merintis butik barunya, jadi ke sini hanya saat less saja lalu pulang lagi.
Selesai memandikan Nadia, Inanti keluar untuk menjemur bayinya.
"Sekarang kemana, Za?"
"Gak tau nih. Aku makan roti di meja, Mbak."
"Makan aja, itu buat kamu."
Ayaza sangat ambisius menjadi seorang Youtuber. Katanya supaya lebih banyak jalan jalan menghasilkan uang. Ayaza enggan bekerja kantoran, dia ingin bermain tapi uang tetap mengalir.
"Ayaza berangkat ya, Mbak. Doain supaya dapet banyak penonton."
"Aamiin, hati hati dijalan."
"Yo! Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Dan sejauh ini, Ayaza begitu baik padanya. Ayaza juga seringkali bercerita masalah pacarnya yang mengabaikannya. Berbanding terbalik dengan Abigail yang kuliah di luar negara, Ayaza tidak betah dan memilih kembali menjadi Youtuber.
Sambil menjemur Nadia, Inanti sholat duha, kemudian mengaji di samping putrinya yang kini mulai tumbuh besar. Nadia harus diawasi terus menerus, dia seringkali tengkurap lalu tidak bisa kembali ke asal.
Seperti saat ini, membuat Inanti yang mengaji berhenti sesaat. "Uh… anak Mama geleng geleng mulu. Bangun ya?"
Inanti membuka penutup matanya. "Baaaa… udah anget dijemur? Dede suka? Sini gendong, Mama ngaji ya buat dede."
Namun, Nadia tidak diam. Dia terus bergerak membuat Inanti mengakhiri kegiatan mengaji.
"Hei hei… anak Mama kok nangis? Dede mau apa? Mimi iya?"
Dan Nadia malah menolak.
"Kok gak mau? Ayo mimi, Sayang."
__ADS_1
Ketika penyakitnya seperti ini, Inanti mendesah pelan. Sebab penawarnya adalah Alan.
Dia mengmbil ponsel mencoba menghubungi suaminya.
"Dede kangen ya sama Papa?"
Sayangnya video call pertama tidak terjawab.
"Bentar ya, Sayang, Papa nya belum angkat."
Sampai akhirnya…. "Hallo…. Anak Papa. Assalamualaikum, Cantik."
Inanti mengarahkan kamera ke wajah Nadia.
"Nih, Mas, dia kangen sama Papa nya."
"Uuuuhhhh, yang kangen sama Papa ya? Baaa… ih dede emesh banget sih. Mau sun dong, kiss Papa, De. Mana anyun nya gimana? Ih pinter!"
Inanti tersenyum melihat interaksi keduanya. "Mama cantiknya mana, De? Lagi kangen ya dia sama Papa?"
"Enggak," ucap Inanti mengarahkan camera pada dirinya dan Nadia. "Mas kapan pulang?"
"Lusa deh, Yank."
"Katanya besok," ucap Inanti agak ngegas. Dia kesal Alan terus mengulur waktu. "Mas gitu ih! Kalau ditunda lagi aku sama Nadia mau kabur dari rumah, biar kamu kesepian lagi."
"Jangan gitu dong…., Aku kan kerja buat kamu, Sayang. Liat nih, Mas Alan ganteng jadi punya mata panda karena gadang, soalnya biar bisa pulang sama kamu."
Inanti cemberut. "Tapi jangan diundur lagi ya."
"Iya, Sayang. Kiss dong dulu sama Mas Alan."
"Janji ya?"
"Iya, makannya cepet pulang."
Alan yang tengil tersenyum. "Aseek, kiss sama pelukan ya."
🌹🌹🌹
Kali ini Alan makan siang bersama Rizki. Namun, dia datang lebih dulu, menunggu temannya untuk berdiskusi.
"Al?! Sore gue lama, he he. Tadi abis kenalan sama cewek cantik."
"Lu bawa apa yang gue mau?"
"Iya," ucap Rizki mengeluarkan berkas dari tasnya. "Lu mau beli perum?"
"Iya."
"Buat pembantu lu?"
"Buat gue."
"What the…. Lu mau beli perum? Gak bikin, Al?"
"Ini gue mau beli tiga, nanti diruntuhin mau bikin sendiri."
"Lah…, bikin aja sendiri napa."
__ADS_1
"Gue butuh lingkungan yang bagus."
Rizki mengangguk angguk mengerti. "Pantesan lu minta yang didalemnya ada pesantren. Ini semua lingkungan perum islami. Tapi kebanyakan gaya rumahnya terbuk gitu. Halamannya nyatu, gak ada pager nya."
"Tau," jawab Alan dingin.
"Tar lu mau ganti jadi gimana?"
"Yang halaman depan sama belakang luas. Biar anak anak gue main."
"Pake pager?"
"Yang pendek aja, biar bertetangga juga," ucap Alan sambil melihat satu per satu lingkungan yang akan dia pilih untuk ditinggali.
Sampai pilihannya jatuh pada lingkungan yang menurutnya sangat strategis. Jalanan di depan perum bukan jalanan umum, jadi aman meskipun anak anak main di sana. Mesjid ada di seberang jalan, juga ada sekolah PAUD yang menyatu dengan mesjid.
Ada toko di sebelah kanan terhalang lima perum lainnya. Posisinya juga pas, tidak terlalu depan ataupun belakang. Juga, ada banyak pepohonan yang membuat suasana terlihat sejuk.
"Gue di sini. Lu yang urus."
"Sama semua perataannya juga? Lu serius mau beli tiga unit? Satu lagi lumayan tuh buat kolam renang?"
"Emang gak ada yang punya ini?"
"Nggak."
"Yaudah, tar gue kirim desainnya."
"Oke," ucap Rizki menandainya. "Lu katanya mau resepsian lagi sama bini lu?"
"Nunggu bapaknya keluar dari penjara."
"Njiirr, tuh kenapa lagi?"
"Maling, tapi buat makan anaknya. Makannya sekarang gue lagi berusaha ngeluarin dia."
Memang benar, Alan menyewa beberapa pengacara untuk membantu membebaskan ayahnya Inanti.
"Eh, besok lu jadi pulang?"
"Jadi, bini gue kasian ditinggal lama."
"Beda banget, Njiirr, kalau dah punya bini."
Sampai Alan ingat sesuatu. "Tupperware gue mana?"
"Tuppe apa?"
"Yang jadi wadah buat pie kentang, yang bini gue bikinin."
"Oh itu… gue buanglah, kan kotor."
"Apa? Lu buang?!"
"Gu… gue buang box nya soalnya pecah. Tutupnya masih ada kok," ucap Rizki takut melihat ekspresi Alan. "Lu kenapa marah sih?"
"Itu petuah bini gue."
🌹🌹🌹
__ADS_1
TBC.