Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
OTW


__ADS_3

🌹VOTE YA GAISSS🌹


"Assalamualaikum, Yank… aku pulang," panggil Alan pada istrinya. Alan menyimpan makanan yang dibeli di atas nakas. "Yank….?"


Tidak adanya jawaban membuat Alan masuk kamar dan mendapati Inanti sedang menyusui Nadia di sana. Alan mendekat hendak memeluk dari belakang.


Namun, tindakannya terhenti oleh kalimat, "Cuci tangan sama cuci kaki juga sebelum naik ke sini, apalagi peluk aku, Mas."


"Ya ampun," guman Alan. "Aku nggak tau kamu begitu peka, Sayang. Kedatangan aku dari jauh pun sudah kamu rasakan."


Inanti yang membelakangi memutar bola mata. "Cuci tangan sama cuci kaki."


"Iya, Sayangku yang bawel."


Sebelum Alan selesai membasuh tangan dan kaki, Nadia selesai menyusu. Dia melepaskan dot alaminya setelah kenyang dan terlelap. Buru buru Inanti memasukan kembali dadanya.


"Nan."


"Ya?" Inanti berbalik menatap suaminya. "Kenapa?"


"Kok belum pake lingerie yang itu?"


"Kan aku belum makan makanan yang kamu beli. Dibeli semua?"


"Oh, iya dong. Aku kan kaya, kamu mau apa pun bisa aku beli, termasuk hati, jiwa dan nyawa aku, Sayang."


Inanti tersenyum. "Mas mau?"


"Makan makanan setan itu? Gak mau, isinya mercon semua, bikin gigi copot."


Inanti cemberut. "Berarti aku setan dong?" Tanyanya dengan nada kesal.


"Ya kalau kamu mah enggak, tapi nanti efeknya bakalan ada mulas setan."


"Tau ah," ucap Inanti kesal, dia keluar lebih dulu. Itu menjadikan kesempatan Alan untuk memindahkan bayinya ke dalam box. "Dede nya diem dulu di sini ya, Sayang. Nanti Papa gendong lagi. Papa nya mau minta ampun dulu sama Mama."


Alan kemudian bergegas menyusul Inanti yang sedang meminum susu dari kulkas sambil duduk membelakangi.


"Yank…."


"Tau ah."


"Ih liat." Alan mengambil kantong kresek yang berisi makanan pedas semua. "Ada pentol pedas loh. Enak banget. Pentol ini mah kalau di makan sama kamu pasti bahagia, beda kalau dimakan sama orang sebelah. Yang mantul itu loh yang, malah pergi."


"Kamu suka nonton vlog dia?" Tanya Inanti tidak percaya Alan sering menonton konten YouTube.


"Apaan, enggak ih. Itu si Abigail kan haters nya dia, kalau ngomong suka ngomongin dia."

__ADS_1


"Oh, kirain," ucap Inanti masih dengan raut wajah kesal.


Dia kembali membalikan badannya.


Alan kembali mendekat. "Yuk, makan yu."


"Gak mau, itu kan makanan setan."


"Yank… bercanda. Maaf ya….," Ucap Alan mendekat dan duduk di samping istrinya. "Yuk…. Yank…"


"Yaudah," ucap Inanti membalikan badannya dan menatap Alan yang sudah menuangkan makanan di piring. Inanti menelan ludahnya kasar.


"Sini aku suapin ya."


"Gak mau, Mas. Biar aku aja."


"Eitsss…" Alan mengangkat sendoknya. "Aku yang suapi, biar sosweet gitu."


"Gak mau ah."


"Gak boleh gitu. Ini yang suapin Mas Alan loh, yang paling ganteng seantero jagad raya."


"Sejagad sunda empire kali ah."


"Cieee… yang udah bisa diajak bercandaan. Love you deh ah, Yank."


🌹🌹🌹


"Udah siap, Yank?"


Inanti berbalik, menatap Alan yang rapi 


dengan rambut yang acak.


"Kok rambutnya gitu, Mas?"


"Seksi ya?"


"Acak acakan tau."


"Biar seksi, Yank. Lagian nanti juga pake toga."


Inanti diam sesaat, dia tersenyum tanpa makna lalu membawa penggendong untuk menggendong Nadia. Kata toga meningatkan Inanti pada impiannya, di mana dia bisa memiliki gelar untuk membuat bangga ibunya.


Saat sedang menggendong Nadia ke gendongan, Alan memeluknya dari belakang. "Kursi kamu di depan kok, Yank. Aku nyumbang lima ratus juta biar kamu deket terus di hati aku. Bersebelahan, cuma terghalang jalan lewat."


"Tukang pamer, segala pake uang."

__ADS_1


"Lah, buat kamu mah apa aja. Aku jadi miskin, jelek, gendut, tonggos pun gak masalah."


"Aku lah yang masalah, mana mau kalau kamu gitu."


"Tuhkan! Aku buktiin cinta dan kasih sayang aku malah gitu."


Inanti tertawa. "Pake logika kali, Mas. Ayo ah, udah siang."


"Boss mah bebas."


Mereka turun ke basement menuju mobil. Inanti embawa tas ukuran sedang berisi dompet, ponsel, susu Nadia dan popok untuk berjaga jaga.


"Tas nya gede amad, Yank."


"Kan keperluan Nadia, aku juga bawa air takut nanti haus."


"Kita pergi ke wisudaan aku yang elite loh, bukan ke hutan."


"Kamu tuh boros, Mas. Segala hal gak penting dibeli," ucap Inanti menyindir lingerie nya yang harganya dua kali lipat bayar smesteran kuliah. 


"Abisnya kalau beli sama kamu diskonan terus."


"Ya kan menghemat, boros itu gak disukai Allah loh, Mas."


"Gak disukai kamu juga?"


"Iyalah, nan….," Ucapan Inanti menggantung saat sadar Alan mempermainkannya. Dia menengok menatap pria yang tertawa di sampingnya. "Mas!"


"Senang akutuh kalau kamu cerewed kaya gini, rame kaya petasan."


"Tau ah."


Alan kembali tertawa melihat istrinya yang cemberut. Dan sisa perjalanan adalah keheningan, pasalnya Nadia sedang menyusu dan hendak tidur.


Bersamaan dengan Nadia selesai, mobil berhenti di parkiran.


"Undangannya dibawa kan, Yank?"


"Dibawa," ucap Inanti ragu saat turun.


Dia ingat betul tempat ini menjadi saksi bisu saat dirinya menelan rasa pahit dengan mendapatkan semua hujatan buruk dari mereka yang membencinya. Menyebutkan murahan, penjual tubuh, wanita malam bahkan ejekan ejekan binatang.


Bukan hal aneh jika Alan banyak yang menyukai, dan itu membuat mereka menyerangnya tanpa ampun, apalagi adik tingkat yang menyukai dan menjadi fans dari Vanessa. Mereka menyebutnya pelakor.


Dan Alan menyadari kegelisahan istrinya. Dia melingkarkan tangan di pinggang istrinya kemudian berkata, "Jangan khawatir, Sayang, kita ke wisudaan aku, bukan ke pemakaman mantan kamu. Jangan tegang, lagian aku bawa basoka kok."


🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2