
🌹VOTEEE YEEE KALIEEN🌹
Alan masih belum bisa masuk, dia berada di luar kamar mencoba membujuk istrinya. "Nan? Aku bisa jelasin."
Tidak ada suara apa pun di sana, diyakininya istrinya sedang menangis. Alan menyandarkan kepalanya di pintu, berharap istrinya membuka pintu itu.
"Nan…"
Kenyataannya Inanti tidak menghiraukan, yang mana membuat Alan memilih menjelaskan dari sana. "Aku salah, Nan. Iya aku jahat, aku gak mikirin kamu, mikirin si kembar."
Di sana Inanti menangis dalam diam sambil memeluk Nadia. Apalagi penuturan Alan semakin membuat dadanya terasa sesak.
"Aku salah banget, jahat, gak punya hati. Dan aku nyesel, Nan. Aku benci diri aku yang dulu, aku berdosa sama kamu sama anak anak kita. Aku br*ngsek pernah punya pikiran sampai sejauh itu. Tapi gak ada yang bisa aku lakukan, Nan."
Itu dia, halangan untuk Alan berdamai dengan dirinya adalah masa lalunya itu sendiri. Alan membenci dirinya, dia belum bisa berdamai dengan dirinya, dengan masa lalu yang dia perbuat.
"Kamu ngomong sama aku, kamu mau aku gimana. Aku pasti bakal nurutin apa mau kamu, asal jangan suruh aku pergi, Nan. Aku gak bisa…."
Inanti menangis di sana mendengar suara suaminya yang parau menahan sesuatu. Sekuat apa pun Inanti menangis, menjerit, masa lalunya tidak bisa berubah. Rasa sakitnya akan tetap ada, dan terus membayanginya.
"Gak ada yang bisa ngulang waktu, Inanti. Maka dari itu kasih aku kesempatan, beri aku jalan buat tebus semua dosa dosa aku, Nan."
Hingga akhirnya terdengar suara dari dalam, "Aku mau sendiri, Mas."
Alan mengangguk dari luar sana, dirinya memilih masuk ke ruang kerjanya. Di sana Alan menjambak rambutnya sendiri, dia memukul cermin di sana hingga retak dan tangannya berdarah.
Wajah Alan pucat pasi, semua pemikiran negatif tentang Inanti dan Nadia yang akan meninggalkannya menghantui.
Alan menelpon Madelle di sana.
"Assalamualaikum, Mah?"
Madelle yang ada di sana sadar, anaknya dalam masalah berat. Suara napasnya bahkan terdengar lain. "Waalaikum salam. Abang kenapa?"
Dan Alan mulai menceritakan semuanya, tentang masa lalunya yang berani melamar Vanessa. Alan juga menceritakan keberadaan Vanessa yang kini di Belanda dan sudah menikah. Suara Alan semakin memelan menahan ledakan emosi, dia menyesali semuanya.
"Abang harus gimana, Mah?"
Madelle diam, dia sendiri bingung.Â
"Abang punya kunci cadangan? Abang boleh masuk kamar?"
"Jangan, Bang. Biarin Inanti sendirian dulu. Kasih dia waktu."
__ADS_1
"Abang takut Inanti bakalan pergi."
"Abang berdoa sama Allah, supaya Inanti gak pergi. Mamah tau kok Inanti itu baik, dia sekarang cuma lagi butuh waktu."
"Abang mesti gimana, Mah?"
"Tutup masa lalunya, bukan berarti sembunyi sembunyiin. Tapi sebelumnya, bacakan isinya. Apa yang Abang sama Vanessa pernah lakuin, pernah rencanain. Supaya Inanti gak kaget lagi kalau ada orang yang bilang sesuatu."
"Kalau Inanti pergi gimana, Mah?"
"Jujur dulu, Abang. Damai sama masa lalu, sama diri Abang sendiri. Insyaallah, niat kita toh baik. Allah maha melihat, dia akan kasih jalan untuk hamba-Nya. Abang percaya 'kan?"
🌹🌹🌹
Sampai tengah malam pun, Inanti masih enggan membuka pintu. Dia diam di dalam kamar bersama Nadia sambil memeluknya.
Bayi mungilnya terlelap, sangat damai sekali.
Ini alasan Inanti tidak ingin menanyakan tentang Vanessa, dia takut semua kenyataan itu meyakitinya. Namun, semua itu akan datang pada kenyataannya.
Inanti menarik napas dalam, dia menidurkan Nadia. "Bentar ya, De. Mama mau wudhu dulu."
Untuk yang kesekian kalinya, Inanti kembali berwudhu untuk menenangkan diri.Â
"Assalamualaikum, Mah?"
"Waalaikum salam, Nak. Kenapa?"
"Mamah… udah denger dari Mas Alan?"
Madelle mengangguk di sana. "Iya, Mamah denger. Tadi Abang cerita ke Mamah, minta solusi."
"Menurut Mamah gimana?"
"Apanya, Nak? Kamu apa Abang nya?"
"Inan?" Tanya Inanti menahan air mata. "Inan harus gimana, Mah?"
"Gini, Mamah mau nanya. Kalau Abang emanh nyakitin kamu, mending suruh Abang pergi aja dari hidup kamu."
Inanti menggeleng. "Enggak, Mas Alan baik."
"Nah, berarti yang buruknya masa lalunya kan?"
__ADS_1
Inanti diam.
"Hadapi bersama, Nan. Kalau kalian menghadapi masa lalu sendiri sendiri, yang ada tumbang oleh rasa sakitnya. Tidak ada yang saling menguatkan, menggenggam tangan untuk menciptakan keluarga sakinah, mawadah dan warahmah ke depannya."
Inanti menangis di sana.
"Mamah gak bela Abang, dia emang salah banget udah jahat sama kamu. Itu yang membuat Abang belum bisa damai sama dirinya sendiri, masa lalunya kelam, Nan. Dia butuh keberanian kamu untuk menghadapinya."
"Inan…." Inanti tersedu sedu saat hendak mengatakan sesuatu. "Inanti takut…."
"Takut kenapa? Masa lalunya? Masa lalu bukan alasan membuat kamu tumbang, Nan. Mereka alasan buat kamu untuk bahagia. Minta sama Alan apa aja, kasih sayangnya, uangnya, perhatiannya. Jangan jadikan masa lalu itu penghancur. Kamu sama Abang lagi adem sebelumnya, mesra mesraan, manja manja. Mau itu hilang atau bertambah?"
Inanti tetap diam.
"Kamu sendiri yang bilang udah ikhlas, Nak. Jangan hanya ikhlas melepaskan rasa sakit kamu, tapi juga ikhlas menerima masa lalu suami kamu."
Inanti mengangguk sambil menahan isakan. "Inan ngerti, Mah."
"Udah, jangan nangis lagi ya. Kalau kalian masing masing gini, masalah gak akan selesai."
Inanti mengangguk, dia mengakhiri panggilannya dengan Madelle.Â
Tangannya mengusap air mata yang menetes. Inanti menarik napas dalam untuk keluar.
Dia tidak boleh egois.
Saat keluar, Inanti tidak mendapatkan lagi cincin ataupun surat di meja sana.Â
Dan saat itulah, Alan keluar dari ruangan kerjanya. Tatapan mereka bertemu, sampai akhirnya Inanti yang luluh lebih dulu. "Maaf, Mas."
Alan mendekat, dia membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Maaf, Mas."
Alan menggeleng, dia berulang kali mencium puncak kepala istrinya.Â
Inanti melihat luka di tangan Alan sebelumnya. Dia sadar, seharusnya dirinya tidak membiarkan Alan sendirian dan kembali berperang dengan dirinya sendiri.
"Aku gak akan ninggalin kamu," ucap Inanti.
🌹🌹🌹
TBC
__ADS_1