
🌹VOTEE YEEE GAIISSSHH🌹
Madelle menatap Riganta yang baru pulang tanpa pemberitahuan.
"Salah kamu, Mas. Harusnya ngomong apa gimana gitu."
"Aku nelpon, telpon siapa yang mati?" Tanya Riganta lalu keluar dari kamar.
Madelle menegang mendapati suaminya marah besar. "Alamak gawat."
Dan benar saja, saat Madelle mengecek ponsel khusus untuk Riganta saja, ada banyak panggilan di sana. "Duh, kemarin kan sibuk ngurusin si Abang."
Riganta yang kesal membuar Madelle panik, bisa bisa jatah uang jajannya berkurang.
Sampai seorang pelayan mengetuk pintu kamar. "Bu, ada kiriman dari Tuan Alan."
"Hah? Kiriman apaan?" Gumam Madelle keluar dari rumah.
Di sana dia mendapati ada mobio box. Kenal pada sekretaris Alan, Madelle mendekati Karl. "Hallo, Karl."
"Nyonya."
"Apa yang Alan kirimkan?"
"Kursi pijat, Nyonya."
Mata Madelle melotot saat melihat kursi pijat limited edition yang dia dambakan sejak seri pertamanya hadir.
Dia menggeleng tidak percaya. "Apa Alan mengirimkan pesan lain?"
"Tidak, Nyonya."
"Yang benar?" Madelle memastikan kalau Alan ingin dia melakukan sesuatu. "Benar?"
"Iya, Nyonya. Tuan hanya menyuruh saya mengirimkan ini."
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih," ucap Madelle masuk mengejar kursi pijatnya. "Letakan di kamar saya, Bi."
"Baik, Bu," ucap pelayan yang mengatur tukang membawa barang.
Madelle girang di sana. "Pasti si Abang mau bikin adiknya Nadia, jadi nyogok pake ini. Kebeneran banget, bapaknya lagi ngamuk. Asyiiikkk bawa Nadia ke sini ah."
🌹🌹🌹
Setelah berbelanja, Inanti memilih milih DVD yang dia beli untuk ditonton bersama dengan Alan. Suaminya begitu memanjakannya, memberikan apa yang dia inginkan. Salah satunya sekian banyak tontonan yang belum pernah dirasakannya.
"Gak mau ke bioskop aja, Yank? Biar yang kayak malam mingguan."
"Enggak ah, di sini aja. Biar Nadia ikutan."
Alan menatap bayi yang ada dalam gendongannya sedang membuka matanya.
"Kamu masak sekarang, Mas?"
"Sholat dulu ya, udah dzuhur. Nadia aku ajak, mau ngaji bentar."
"Iya," jawab Inanti kembali fokus pada film yang akan dia tonton.
Pernah sekali Inanti nebeng nonton TV di rumah tetangganya saat masih SD, saat itu ayahnya marah besar karena membuat malu dengan mengemis tontonan.
Sejak itu, Inanti jika ingin menonton TV selalu pergi ke kebun belakang tetangganya dengan beralibi meminta buah lobi lobi yang jatuh.
Bahkan, dia pernah dikurung di kamar mandi hanya karena menghabiskan separuh telur milik ayahnya. Saat itu Inanti pulang sekolah saat maghrib, bertepatan dengan dirinya yang puasa.
Hidupnya begitu pedih. Dan saat air matanya akan menetes, Inanti mendengar suara indah milik suaminya yang mengaji. Inanti tersenyum mendengarnya.
Saat sedang melamun, terdengar suara bell. Inanti membukanya.
"Mamah?"
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikum salam, masuk Mah."
"Si abang mana, Nan?"
"Lagi ngaji sama Nadia." Inanti mencium tangan mertuanya. "Masuk dulu, Mah."
"Abis belanja."
"Iya, ceritanya Mas Alan mau masak katanya, Mah."
"Waahhh mau pamer dia," ucap Madelle duduk di sofa. "Banyak amat DVD."
"Hehe, mau nonton bareng, Mah. Soalnya Mas Alan ngajak ke bioskop. Mamah mau minum?"
"Enggak, Nan. Eumm… sebenernya…."
Inantu duduk mendekat saat melihat logat bicara mertuanya berbeda. "Kenapa, Mah?"
"Mamah mau bawa Nadia boleh?" Tanya Madelle malu malu. "Mbah Kung nya Nadia lagi BadMood, kalau Nadia ikut pasti dia seneng lagi. Lagia kan ini akhir pekan, Nan. Nanti minggu pagi kalian ke rumah Mamah, makan makan di sana. Hari ini kamu berduaan aja sama si Abang Alan ya?"
"Kalau Inanti sih terserah Mas Alan mah, Inan sendiri boleh aja."
Ketika suara mengaji selesai, Alan keluar.
"Mamah? Kenapa ke sini?"
"Mau bawa Nadia," ucap Madelle sambil mengedipkan matanya berulang. Sebagai kode kalau dirinya akan membawa Nadia, Madelle pikir dia diberikan kursi pijat untuk menyogok agar membiarkan Alan dan Inanti berduaan. "Oke, Bang?"
Alan menatap heran di sana. "Bawa Nadia ke mana?"
"Nginep di rumah Mamah," jawab Madelle masih mengedip ngedipkan matanya.
"Mamah main sama siapa sih? Kok cacingan?"
"Durjanah kamu, Bang!"
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC