
🌹VOTE🌹
Alan mencium Inanti semakin dalam. Raupan bibirnya menyapu dengan hangat, saling menggelitik di dalam sana.
Sampai Inanti merasakan jantungnya berdetak kencang, tubuhnya bergetar ketakutan. Dia ingat semua kejadian menakutkan itu, rasa sakit di setiap detiknya, Inanti mengingat semua itu.
"Kak… jangan….," Guman Inanti saat ciuman mereka terlepas.
Jarak yang sangat dekat diantara mereka membuat Alan melihat jelas bagaimana istrinya memejamkan mata menahan ketakutan. Yang mana membuat Alan segera membawanya ke dalam pelukan.
"Kak…."
"Sayang, hei… tenang," ucap Alan merasakan tubuh Inanti bergetar, dia memeluk dan mengusap punggungnya berulang.
Sampai akhirnya pikiran Inanti kembali pada kesadaran, dia membuka matanya perlahan. Dia sadar dirinya ada dalam pelukan Alan, bagaimana pria itu menenangkannya.
Inanti masih trauma, dia menarik napas dan membalas pelukan Alan sebagai permintaan maaf.
"Maaf, Sayang….," Gumam Alan dalam pelukan.
Inanti lebih banyak diam, dia sendiri merasa bersalah belum bisa memberikan apa yang Alan inginkan. Terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu, kini suaminya telah berubah.
"Maaf, Mas.. aku belum siap."
"Gak papa," ucap Alan benar benar dalam hatinya. "Tidur ya, aku peluk."
Inanti mengangguk, dia membalas kembali pelukan Alan. Membuat Inanti menghirup dalam aroma suaminya, aroma maskulin yang pernah dia dambakan untuk terus berada di sampingnya.Â
Sebuah tangan yang Inanti harapkan dulu, kini mengusap rambutnya penuh kasih sayang. Wajah dinginnya yang selalu memberi rasa sakit, kini berulang kali mengecup puncak kepalanya. Alan berubah, Inanti mencoba mengingat hal itu.
"Mas…."
"Tidur, Sayang. Udah jangan mikirin apa apa lagi."
Dalam situasi seperti ini, Alan tahu dirinya harus bersikap lebih dewasa. Sampai Inanti terlelap, Alan bangkit untuk mengecek ponselnya.
Dia pergi ke ruang tengah untuk melihat, sampai di sana Alan membuka semua nomor yang dia blokir.
"Siall," gumamnya saat banyak pesan dan panggilan tidak terjawab yang membuat ponselnya sedikit lelet.
Sampai pesan terakhir datang, ada telpon dari Madelle saat ini.
Alan mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Bang?"
"Waalaikumsalam."
"Ya Allah, Abang kenapa nomor Mama sama Papa di blokir?"
"Maaf, Ma. Alan lagi kesel."
"Nak, Mama tau kamu kesal sama Eyang. Tapi jangan begini, semua manusia pernah khilaf. Datang ke sini, Eyang mau ngomong sama kamu."
__ADS_1
"Besok Alan datang kok, sama Inanti."
"Sama Nadia juga?"
"Alan gak bisa ninggalin mereka di sini. Kalau Eyang mau minta maaf, dia harusnya minta maaf pada Inanti lebih dulu."
Madelle terdiam sesaat. "Bang, kamu pecat kerabat kamu?"
"Pecat itu kata yang menyedihkan, aku hanya memulangkan mereka pada asalnya. Alan juga memberi mereka uang sebagai… Mama tahu itu."
"Segera ke mari."
"Aku mengerti."
"Bagaimana keadaan Inanti dan Nadia?"
"Mereka sudah tidur, dan baik baik saja."
"Oke. Mama harus pergi melihat Eyang lagi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Alan menarik napas dalam, dia mengambil soda dari dalam kulkas. Saat hendak meminumnya, terdengar panggilan.
"Mas….?"
Alan tersenyum sambil meminum soda di sana, dia senang istrinya mencarinya. Inanti memang ratu gengsi yang selalu menolak, tapi saat dirinya melangkah mundur, istrinya selalu mencari.
🌹🌹🌹
"Kamu mau ditinggal di sini terus aku dicantol sama cewek cantik di sana?"
"Ish!" Inanti kesal, dia melemparkan bantalan sofa pada Alan. "Kalau ada cewe cantik terus aku gak ada, kamu bakal ngapain?"
"Ngapain? Ya diem aja. Ceweknya, Nan, yang suka nyantol sama aku. Jadi aku was was kalau kamu gak ikut."
"Yakali ngaku aja kamu udah nikah gituh."
"Maunya diaku sama kamu dong, Sayang. Kaya istri lain yang selalu bilang gini, 'Heh! Ini suami saya! Ngapain liat?!' Kayak gitu, Nan."
Inanti menatap heran suaminya yang kembali bertingkah menjengkelkan.
Untuk barang bawaan, Alan sendiri yang menyiapkannya.
"Banyak banyak amat, kita mau nginep lagi?"
Alan mengangguk.
Dan itu membuat Inanti gelisah.
"Jangan kemana mana."
"Enggak, makannya kamu nya nempel sama aku."
__ADS_1
"Mau kamu itu mah."
"He he, tau aja sih, Sayang. Kiss dulu dong."
"Kiss apaan ih, itu belum beres, Mas," ucap Inanti yang sedang menyusui Nadia.
"Kayaknya enak banget ya Nadia minum susu."
"Apasih kamu! Dasar Omes!"
"Emang aku bilang gimana? Yeee… Ge'er banget sih, siapa yang mau omesin kamu? Orang aku mau ambil susu," ucap Alan mempermainkan istrinya.
Yang mana membuat Inanti kesal dan melemparkan kembali bantalan sofa di kamar.
Alan malah tertawa dan keluar dari kamar untuk mengambil susu.
"Nyebelin kamu!"
"Ha ha ha."
Inanti menarik napas dalam, dia menidurkan Nadia di box bayi guna dirinya bisa membereskan sisa pakaian.
"Nan?"
"Apaan?"
"Sini deh."
"Apa?" Inanti berbalik. Dia tidak dapat berkata kata ketika melihat kotak cincin di tangan Alan. "Apa itu?"
"Sok gak tau aja, ini cincin lah."
"Cincin aku banyak, kan kamu yang beliin."
"Ini mah beda. Ini cincin pernikahan, di desain khusus dong sama aku," ucap Alan mengeluarkannya dan memasukannya ke dalam jari Inanti.
Sebuah cincin berbentuk simple, hanya garis lalu ada ukiran di dalamnya.
"Kamu pake?"
"Cowok gak pake emas, Sayang."
"Terus? Orang bisa tau kamu udah nikah gimana?" Tanya Inanti tidak terima.
"Ya kan aku juga bilang, kamu harus nempel sama aku terus."
"Ya kali aku ngintil kaamu ke mana mana, yang ada berabe. Gak adil lah, orang tau aku udah nikah, sementara kamu ke mana mana di sangka masih lajang. Nanti disambet cabe cabean gimana?"
"Aku mah setia, Sayang."
"Tapi kalau nanti si cabe godain gimana? Lagian punya muka tuh gak usah ganteng ganteng amat, biasa aja." Inanti menaikan nada bicaranya.
"Cieeee…. Yang udah ngaku aku ganteng, sini dong….., Kiss dulu Mas Alan yang ganteng paripurna ini. Sini, Sayang, sini sama Mas Alan."
__ADS_1
🌹🌹🌹
To Be Continue