Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Bibir


__ADS_3

🌹Vote dong ya, Ghais.🌹


🌹Jangan lupa ajak pacar dan mantannya untuk membaca karya receh dari emak ini ya.🌹


🌹Emak sayang kalian, jadi jangan lupa juga follow igeh emak : @RedLily123🌹


“Ngapain deketin?” tanya Vanessa was was saat Judi mendekat padanya dengan tatapan tajam. “Ngapain?”


“Mau ambil minum ih, napa sensi banget sih?” Judi mengambil botol air minum yang ada di depan Vanessa, Judi memicingkan matanya melihat Vanessa yang menatap dengan mata tajam. Pria itu mengusap kilat hidung istrinya dengan cepat. “Sama suami jangan jutek, biasanya juga mupeng. Kemana perginya itu muka?”


Vanessa diam, dia memilih melanjutkan makannya. Sampai lima menit kemudian, dia merasa kenyang.


“Udah kenyang?” Tanya Judi yang membuat Vanessa was was seketika.


Masa abis makan langsung wik wik? Itu yang ada dalam benak Vanessa. Yang ada dirinya akan kembali memuntahkan makanan yang ditelan, apalagi itu tidak sedikit.


Mencari cara menghindar, Vanessa mengeluarkan ponsel barunya. “Mau nelpon Oma sama Tante Metry ya.”


Judi memberi izin lewat tatapan.


Vanessa segera pergi ke balkon untuk menghubungi Oma Asih. Sebenarnya dia malu menghubungi Tante Metry dan Oma Asih, apalagi kemarin lusa Vanessa sudah berpamitan dengan menulis surat segala.


Tapi Vanessa segera menggeleng. “Ngapain malu? Biasanya juga malu maluin. Lagian ini mau hubungin Oma Asih supaya gak khawatir.”


Vanessa duduk di sofa balkon, dia menghubungi Oma Asih.


Dan hanya menunggu beberapa detik, Oma Asih mengangkatnya.


“Hallo Assalamualaikum, Oma?”


Oma Asih tidak menjawab di sana.


“Hallo, Oma? Assalamualaikum?” tanya Vanessa lagi.


Namun Vanessa baru sadar kalau Oma Asih ternyata mengalihkan panggilan pada videocall. Dia segera memberi izin.


Seketika wajah yang terpampang di sana adalah wajah Oma Asih dan Tante Metry, keduanya saling berdesakan memenuhi layar.


“Van!”


“Astagfirullah,” gumam Vanessa kaget melihat keduanya.


“Assalamualaikum, Oma.”


“Waalaikum salam, ya allah, Van. Jangan kabur kaburan lagi, kamu pikir ini lagi maen perepet jengkol apa?”


“Perepet jengkol sih apa, Oma?”


“Ibu,” ucap Tante Metry memperingatkan di sana. Dia berdehem dan menatap Vanessa. “Van, pokoknya kamu jangan kemana mana lagi ya. Jangan kabur dari Judi, kasian loh Judi udah cari cari kamu dpas pulang dari Kuala Lumpur.”

__ADS_1


Vanessa diam, dia hanya tersenyum kecil.


“Kamu sehat kan?” tanya Tante Metry lagi.


Vanessa mengangguk.


Setelahnya Oma kembali mengambil alih pembicaraan, “Van, dengerin Oma. Judi it⸻”


“Ibu!”


Namun Tante Metry memotong pembicaraan mereka, dia memberi tatapan penuh makna. “Enggak kok, pokoknya kamu pulang sama Judi ya.”


Vanessa mengangguk, dia menyangka keduanya akan memarahinya, tapi ternyata Tante Metry dan Oma Asih sangat mengkhawatirkannya. 


Berbeda dengan orangtuanya dulu, mereka selalu marah jika Vanessa berbuat salah. Padahal dia memiliki alasan melakukan itu.


“Van….,” ucap Tante Metry. “Kami sayang sama kamu. Kalau kamu sayang sama Tante, sama Oma juga, maka pulang dan buat kami senang.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Setelah menelpon dengan Oma Asih dan Tante Metry, Vanessa diam sesaat di balkon. Dan ternyata dia menangis diam diam, dia sangat terharu dengan mereka yang benar benar menyayanginya.


Ketika Vanessa kembali ke dalam kamar, dia mengerutkan kening tidak mendapatkan Judi ada di dalam. Begitu juga dengan sisa makanan, yang membuat Vanessa yakin kalau suaminya itu keluar.


Vanessa ikut keluar untuk mengecek, tapi yang dia lihat hanyalah lorong kosong.


“Mile!”


“Iya, Nyonya?” Mile mendekat. “Ada yang bisa saya bantu?”


“Kemana Judi?”


“Tuan sedang di bawah.”


“Apa yang sedang dia lakukan?”


“Kita akan pindah hotel, Nyonya. Anda bisa bersiap siap.”


“Ah…. Kenapa kita pindah?”


“Tuan menginap di sini karena jaraknya terdekat dengan pemakaman itu.”


“Oh iya, bagaimana dia bisa tau aku akan berada di sana?”


Mile diam sebagai jawaban, dia tidak ingin membuat Vanessa merasa bodoh.


“Oh iya aku tau, dia pemilik tanah sebelumnya di sana?”


“Tidak ada hubungannya dengan itu, Nyonya. Dulu saya pernah mengantar anda ke sana, dan Tuan me⸻”

__ADS_1


“Ya, ya, aku paham,” ucap Vanessa. “Terima kasih, kau boleh pergi.”


“Baik, Nyonya.” Mile pergi menjauh.


Dan ketika Vanessa hendak masuk kembali ke dalam kamar, dia melihat Judi datang.


“Waah…. Apa itu?” tanya Vanessa menunjung tas plastic yang dibawa suaminya. “Makanan?”


“Tau aja sama makanan.”


“Asek, apasih itu?” tanya Vanessa ikut masuk ke dalam. “Kue?”


“Cokelat, pie cokelat.”


“Mau dong.”


“Nih.”


Vanessa girang, dia menerimanya. Sementara Judi membuka jaketnya. Dia menggeleng melihat Vanessa yang makan banyak. “Dulu gak doyan makan mau diet.”


“Gampang, nanti olahraga aja. Daripada nyiksa diri nahan laper.”


“Nah itu tau, itu sadar. Akhirnya insaf juga.”


Vanessa memakan itu di sofa panjang, membuat Judi ikut bergabung duduk di samping istrinya.


Dan ketika Vanessa kenyang, dia menyimpan potongan terakhir. Saat itulah dia sadar bahwa suaminya terus menatapnya. “Kenapa liatin?”


“Ada cokelat tuh di bibir.”


“Mana?” vanessa mencoba membersihkannya, tapi dia tidak kunjung mengenai bagian itu. “Udah?”


“Masih ada.”


“Mana sih?”


“Mau aku bersihin.”


“Nih.”


Tanpa diduga…… CUP.


Kemudian bibir Judi bergerak melum*t bibir Vanessa dan menyesap cokelat itu. Sapuan benda kenyal dan hangat itu membuat jantung Vanessa berdetak kencang. Apalagi saat suaminya menggapai pinggangnya.


Vanessa terbuai, dia mengikuti gerakan suaminya sampai dia tidak sadar kalau dirinya sudah ditindih di atas sofa.


🌹🌹🌹🌹


To Be Continue ya…. Jangan mupeng gitu dong, dikit lagi kok. Awok awok awok. 

__ADS_1


__ADS_2