
🌹VOTE DONG GAISSSS🌹
"Mamah gak makan di sini?" Tanya Inanti melihat mertuanya berkemas.
"Enggak deh, nanti Bapaknya si Abang nyari nyari. Lagian Mamah ada barang yang harus di bawa."
"Makan dulu, Mah. Masa Mamah udah masak banyak gak makan."
"Lah iya dong, masa iya Mamah gak makan dulu."
Inanti tersenyum sambil menyusui Nadia. Seharian ini Madelle terus memberinya perawatan, mulai dari memotongkan kukunya, sampai memberinya kutek arab.
"Mas Alan suka jengkol, Mah?"
"Nah itu dia anehnya, dia mah sukanya airnya doang. Jadi gini, Nan. Bikin sambel goreng jengkol, tapi jengkolnya gak dimakan. Bilangnya bau, dimakan sambelnya aja."
"Tapi sambelnya juga beraroma jengkol kan, Mah?"
"Tau ah, Mamah udah pusing sama si Abang. Apalagi Abigail sama Ayaza udah minta uang buat smesteran lagi."
Inanti ingat, si kembar tiga tahun usianya di atas dirinya. Sementara Alden dua tahun lebih tua dari Inanti. Tapi kini mereka sangat menghormatinya, dan semua itu berkat Alan.
"Kuliah di mana emang, Mah?"
"Bali, kalau Alden katanya mau pindah ke Yogya."
"Tadinya?"
"Tadinya di Bandung, tapi gak tau kenapa mau pindah. Mamah sih kalau sama Alden terserah aja. Dia kan kayak Alan, punya usaha sendiri. Eh, Mamah mau bikin limun, mau gak?"
"Mau, Mah."
Sambil membuat limun, Madelle dan Inanti saling bercerita.
"Oh ya, Nan. Kamu pinter masak, Bi Idah kerjanya beres beres doang dong?"
"Iya, Mah. Soalnya Inan lagi suka masak, biar Mas Alan betah di rumah."
"Bagus itu, tapi gak gitu juga si Abang mah tetep betah di rumah, Nan."
Inanti terkekeh, dia menerima air limun dari Madelle.
"Gimana?"
"Enak, Mah. Pake madu?"
"Iya, rutin ya minum ini. Biar tubuh kamu terjaga, Nan."
"Iya, Mah. Mas Alan juga beli daun kelor kering, katanya biar mendetox tubuh. Tapi Inan gak suka, sepat banget."
Dan ketika mereka bercengkrama, saat itulah Alan datang. "Assalamualaikum, Bidadariku…. Mas Alan datang. Kangen gak?"
Dan ekspresi senyum Alan luntur saat melihat adanya sang ibu. "Mamah masih di sini?"
"Dasar anak kurang baik," gumam Madelle.
"Apa itu, Mah?"
"Segala tanya apa, bilang aja mau."
"Ehe he he he, Mamah tau aja," ucap Alan mengambil gelas dari tangan Madelle kemudian meminumnya.
"Enak?"
"Enggak."
"Gak enak tapi abis!"
"Ha ha ha ha."
Setelah itu dia mendekati istrinya, membuat Inanti memberi salam padanya yang dia balas dengan….
__ADS_1
CUP.
Di bibir.
"Mas," ucap Inanti merasa malu dengan keberadaan Madelle.
Madelle berucap, "Gak papa, Nan. Anak kurang baik emang kaya gitu."
"Mah, tolong pisahin jengkolnya, Abang mau sambelnya doang."
"Kenapa gak sama jengkolnya sekalian, Bang?" Tanya Madelle saat anaknya berjalan menuju kamar.
"Ogah, bau."
"Sambelnya juga beraroma kali, Bang!"
"Beda, Mah. Mamah mana tau."
🌹🌹🌹
Sambil menggendong Nadia di pangkuannya, istrinya ikut bersandar di bahunya.
Malam telah tiba, dan mereka menonton TV sambil memakan buah buahan bersama.
Beberapa kali Alan terdapati sedang memberi lelucon pada Nadia.
"Baaa… anak cantik Papa. Uh… gemes," ucap Alan sambil terus menciumi bayinya.
Membuat Inanti yang bersandar padanya terus bergerak. Dan itu membuat istrinya kesal sehingga memilih menegakan badan.
"Anak Papa gemesnya kebangetan. Uh… utuk utuk utuk…. Sini Papa sun dulu."
Nadia tertawa mendapatkan ciuman beruntun dari sang ayah.
"Makan buahnya, Mas."
"Iya nanti," ucap Alan tidak mengalihkan pandangannya.
Dan itu membuat Inanti mendesah pelan, dia memilih mengambil cemilan lain dalam kulkas dengan malas. Jujur saja, Inanti iri saat Alan menghabiskan lebih banyak waktu dengan anaknya. Setidaknya Alan memberinya perhatian juga, tapi tidak jika sudah bersama Nadia.
"Dede tunggu sebentar ya, Papa mau bujuk Mama dulu, kayaknya iri sama ade," bisik Alan pada bayinya, dia menidurkan Nadia di sofa.
Alan mendekat pada istrinya dan memeluk dari belakang.
"Nyari apa, Yank?" Tanya Alan memberikan ciuman di puncak kepala Inanti.
"Cari cemilan."
"Kamu mau apa? Aku beliin."
"Udah malem, Mas."
"Deket kok, kamu mau apa hm? Cantiknya Mas Alan, bidadarinya Mas Alan, syurganya Mas Alan, mau apa? Ayo bilang. Mas Alan kan tajir."
Inanti membalikan badan, membuat Alan otomatis langsung mengecup bibirnya lama.
"Mas, modus kamu."
"Mau apa? Pancake durian?"
Inanti mengangguk perlahan. "Mas mau keluar? Di grab aja atau apa."
"Gak usah lah, nanti tukang ojeg nya pingsan liat harga yang aku pesen. Lagian kasihan kalau dia gak punya uang."
"Dasar tukang pamer."
Alan hanya tertawa dan memakai jaket bersiap keluar. "Kiss dulu dong, nanti berangkat."
"Gak mau, nanti kalau udah ada."
"Alaaaaaahhh… aku tau kok kamu mau. Pipinya merah gitu, Nan. Aku tau ya apa yang kamu mau. Termasuk pake yang gergaji itu."
__ADS_1
"Apasih, Mas! Eng--"
CUP…… Alan mencium lama dan dalam. "Nah, kan udah punya bekel ke luar. Kamu juga jangan kangen aku ya."
"Siapa juga yang kangen kamu."
"Ha ha ha ha, bikin Nadia tidur ya, Nan, kalau aku pulang. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Setelah Alan keluar, Inanti menggendong Nadia. "Maaf ya, Anak Mama. Abis Papa nya cium dede terus."
Lalu Inanti mencium pipi putrinya. "Tuhkan, bau mint kayak bibir Papa. Heum…"
Nadia malah tertawa di sana, membuat Inanti setidaknya meluapkan rasa bersalahnya ke udara. Dan tanpa dia sadari, dirinya berucap, "Dede tidur ya sebelum Papa pulang."
Kemudian menyusui putrinya.
Dan saat itulah, Inanti menginginkan sesuatu yang pedas.
Me : Mas?
Mas Alan Tersayang : Iya, Yank? Baru nyampe ini. Kangen? Tahan dulu. Pake lingerie aja dulu ya.
Me : Apasih, bukan itu tau.
Mas Alan Tersayang : Lha…. Jangan menipu diri sendiri, Sayangku.
Me : Bukan itu ih, Mas.
Mas Alan Tersayang : Mau apa hmmm? Bilang. Mas Alan ini bnyak duitnya, Yank.
Me : Mau makanan pedes.
Mas Alan Tersayang : Yang kayak gini?
Me : Waaaaah…. Iya, Mas🤩
Mas Alan Tersayang : Gak boleh.
Me : ih, kok gitu sih.
Me : Mas, jawab dong.
Me : Mau itu, Mas Alan.🥺
Mas Alan Tersayang : Tapi abis itu minum daun kelor.
Me : Iya.
Mas Alan Tersayang : Sama temenin aku gadang.
Me : Iya, kerja lembur lagi?
Mas Alan Tersayang : Iya nih, bagian lembur buat bikin adeknya Nadia.
Mas Alan Tersayang : Pake yang warna item ya, yang gak ada bra nya, Yank.
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC