Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Dalam gelora Puncak


__ADS_3

🌹VOTE DONG GAIS🌹


🌹P.S : Perawan dilarang baca!!!!🌹


Di kediaman Riganta Praja Diwangsa sangat hangat, mereka berkumpul dengan bayi mungil di tengah yang sedang membuka matanya.


Ayaza tertawa melihat Nadia yang mengeluarkan liur. "Makannya jangan disitu dong, Alden! Liat tuh Nadia ngiler liat kamu."


Sontak saja suara tawa terdengar di sana. "Lapar kali, Mah. Dede mau tidurnya sama siapa? Sama Eyang?"


"Ah, gak mau Eyang!" Protes Madelle saat Abigail memanggilnya begitu. "Tar kembaran sama Eyang Sekar, panggilnya Mbah aja ya, Mas?"


"Terserah kamu," jawab Riganta tidak mengalihkan pandangan dari Nadia sambil tersenyum dan menggenggam tangannya.


"Panggilnya Mbah? Kayak Mbah Mijan dong, Mah?"


"Alden, kamu Mama coret dari KK."


"Mulai deh," ucap Alden memilih keluar dari sana.


"Panggilnya Mbah Kakung sama Mbah Putri, ya kan, Mas?"


"Iya."


"Papa mah iya iya aja ih nurut banget sama Mama."


"Masalah?" Tanya Madelle pada kedua putrinya. "Udah sholat isya belum?"


"Iya, Mah," jawab keduanya pergi dari sana sebelum Madelle kembali marah.


"Elle, sampai kapan Nadia di sini?"


"Nyampe besok sore, Mas."


"Alan lagi ada urusan apa sih?"


"Ih, kamu gak peka banget sih! Mau berduaan lah sama istrinya."


"Dasar," gumam Riganta.


"Jangan caci dia, kamu juga dulu gitu."


"Iya gitu."


Madelle berdecak, dia menggendong Nadia. "Aku tidurin dia dulu ya, Mas. Udah nguap dari tadi."

__ADS_1


"Tidurin di kamar kita aja, Elle."


"Emang mau. Oh ya, Mas, besok kita ke Mall dulu ya beli makanan sebelum ke apartemen nya si Abang."


"Tapi Nadia mau aku bawa dulu ke kantor."


"Ngapain? Jadi bahan hiburan?"


"Mau pamer lah, emang kamu yang tidurin Nadia di tengah terus digerumut banyak orang."


🌹🌹🌹


Tubuh Inanti bergetar, merasakan tangan suaminya menyentuh dadanya. Dan bibirnya kembali turun, membuat tubuhnya panas dingin.


Keringat mulai mendominasi, hawa panas dan geli ketika merasakan benda kenyal itu jatuh di leher dan turun ke dadanya.


"Emmm….. Mas," desahan Inanti meminta Alan menghentikan tindakannya yang membuat Inanti gila.


Dia memejamkan mata sambil menarik rambut belakang suaminya untuk melepaskan dan melampiaskan kenikmatan yang sedang dia rasakan.


Begitu saja, Alan mencium bibirnya, turun ke bawah, kiri dan kanan meninggalkan jejak di mana mana yang bisa membuat istrinya menggila. Sampai Inanti tidak sadar, pakaiannya sudah lepas dari tubuhnya. Pun dengan Alan yang hanya tinggal ditutupi boxer.


Alan masih menindih istrinya, dengan selimut sebatas pinggang yang menutupi keduanya.


Kemudian Alan mensejajarkan kepalanya dengan sang istri, membuat Inanti melihat jelas tatapan seksi yang belum pernah dia lihat sebelumnya dari sang suami. Alan terlihat begitu menggairahkan, dengan rambutnya yang acak acakan bekas jambakan, juga bibir tipisnya yang memerah dan agak bengkak.


Inanti saat itu sudah lupa mana yang benar, tatapannya tidak fokus akibat tangan Alan yang masih berkeliaran di bawah sana menyentuh dada nya.


"Nan… kamu percaya kan sama aku? Bilang kamu percaya sama aku," ucap Alan menjatuhkan kepalanya di ceruk leher istrinya.


Yang mana membuat fokus Inanti semakin buyar.


"Nan… bilang kamu percaya sama aku, bilang kamu percaya."


Dan karena itu, Inanti menganggukan kepalanya dalam setitik kesadaran. Yang mana membuat Alan membuka celana boxernya.


Inanti menunduk sesaat, dia menahan napasnya melihat kejantanan Alan yang sudah mengeras layaknya batang pohon. Begitu kokoh dan besar.


Inanti merinding, dia ingat benda itu yang merobek kewanitaannya dulu, dan menghentak tanpa ampun.


"Mas…"


"Aku janji bakal pelan," ucap Alan kembali mencium istrinya.


Sementara di bawah sana, dia membuka paha istrinya kemudian mengarahkan kejantanannya ke sana.

__ADS_1


"Eungghhhhh hmmmppphh.….." Inanti melenguh dalam ciuman saat ujung kepala kejantanan Alan digesek gesekan dengan permukaan kewanitaannya.


Rasanya begitu geli, membuat Inanti menginginkan lebih. Dengan didorong oleh suhu tubuh semakin memanas, dan ciuman yang semakin dalam.


Gesekan Alan yang pelan membuat Inanti gila dalam ciuman. Sesekali napasnya tercekat saat ujung kepala kejantanan itu menyentuh kacang kecil di kewanitaannya kemudian memutarkan batangnya yang keras di sana.


Alan seolah sengaja melakukannya dengan pelan, seolah slow motion.


"Mas… eunghhh…." Inanti menarik napas dalam saat ciuman terlepas dan bibir suaminya beralih ke bagian samping lehernya.


Hal itu bersamaan dengan ujung batang Alan yang mulai masuk ke lubang kewanitaan istrinya. 


Hanya baru beberapa mili masuk, tubuh Inanti tersentak kaget mengingat hal yang telah berlalu.


"Hei… sayang…, aku janji bakal pelan," ucap Alan meyakinkan.


Hal yang membuat Inanti kembali merebahkan kepalanya dan berpangutan kembali dengan bibir suaminya yang seksi.


Dalam kesempatan itu, Alan mendorong pinggulnya perlahan. Dan sialnya, gerakan pelan itu membuat Inanti merasakan di setiap detiknya bagaimana kulit kewanitaannya terbelah membesar dimasukan oleh batang yang begitu besar.


Rasanya sesak dan kuat, basah dan lengket. Kewanitaan Inanti dipaksa mengulum dan menelan semua batang Alan yang membuatnya merasakan jelas bagaimana diameter lubangnya membesar saat itu.


"Akkh… Mas," ucap Inanti saat semuanya masuk dengan hentakan pelan. 


Keduanya telah bersatu, kewanitaan Inanti berdenyut merasakan batang Alan yang membesar di dalam sana, padahal suaminya tidak bergerak sama sekali.


Ditambah dengan ciuman yang semakin panas, dengan dimulainya gerakan Alan di pinggulnya, napas Inanti memendek. Dia frustasi dengan semua rasa ini, semuanya berlawanan dengan rasa sakit yang dia rasakan sebelumnya. Kini Inanti merasakan…. Nikmat dan lengket di bawah sana, di tambah dengan kelihaian bibir Alan, juga tangannya yang menahan kakinya agar terbuka.


"Eunghhh…. Akkhhhh…."


Inanti memalingkan wajahnya sambil menggigit bibir bawahnya merasa malu ketika Alan melepaskan pangutan bibir mereka.


"Jangan ditahan, Sayang…. Mendesah  saja," ucap Alan lalu kembali mencium istrinya sambil menambah ritme gerakan.


Suara pergulatan mereka membuat tubuh Inanti semakin mendidih, dia tidak bisa lagi menahan gejolak aneh di perut bawahnya, apalagi dia merasakan sangat jelas bagaimana batang itu maju mundur bergesekan dengan kulitnya yang halus dan licin.


"Mas…."


"Gak papa, Sayang… keluarkan saja…"


"Akhh….." Inanti menjerit kecil sambil mencakar punggung suaminya, dadanya yang membusung membuat Alan meraup ujung dadanya. Dan itu semakin membuat Inanti mengejang lebih lama, tubuhnya bergetar, kewanitaannya berdenyut.


Sampai Inanti merasakan hal itu sebanyak tiga kali, baru Alan memuntahkan lahar panas di dalam kewanitaan istrinya.


"Aakkhh…. Pan--- hmppphh!" Inanti merasakan di dalam tubuhnya, dan dia merasakan cairan itu menetes keluar bersamaan dengan Alan yang menancapkan kejantanannya semakin dalam.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Tbc.


__ADS_2