
🌹MY IGEH IS : @REDLILY123🌹
🌹VOTEE YEE GAISSS🌹
Judi kembali ke hotel, dia merebahkan dirinya di sana sambil melihat langit langit. Memang benar, keberadaan Vanessa membuatnya lebih dewasa.
Berbeda dengan ketika dia ingin mendapatkan Inanti, Judi menjadi konyol, aneh dan juga pecicilan. Tapi saat bersama Vanessa, Judi mendalami ilmu agama supaya bisa mengamalkannya pada sang istri.
"Mungkin ini hikmahnya," ucap Judi pada dirinya sendiri.
Karena penasaran belum ada kabar lagi, Judi menelpon Oma Asih.
Tidak menunggu beberapa lama, Oma Asih mengangkatnya.
"Hallo Assalamualaikum, Judi? Oma gak mau apa apa, koleksi tas Channel aja cukup, sama sepatu dari Versace ya."
Kening Judi berkerut. "Waalaikum salam. Iya, Oma. Siap, nanti dibeliin."
Oma Asih cekikikan di sana, membuat Judi berdehem. Bukan itu alasan utamanya menelpon.
"Oh ya, kenapa telpon?"
"Vanessa udah pulang?"
"Udah, dia lagi di kamer sama Tante kamu."
"Kenapa katanya, Oma? Vanessa sakit apa?"
"Belum ngasih tau sih, tadi mereka langsung naik aja."
Ada sedikit kecurigaan pada Judi, dia mengerutkan kening. "Kok? Sakit lagi?"
"Tanya aja gih sama Tante kamu, Oma kan lagi buat bubur buat Vanessa. Pake rempah, biar enak ditelen."
"Iya deh, makasih, Oma."
"Yoi, assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Judi berdiri setelah menutup telpon, dia turun ke bawah untuk berjalan jalan. Dia tidak menghubungi Tante Metry, Judi khawatir mereka mungkin sedang bicara sesama perempuan.
Saat turun, kebetulan di sebrang jalan ada pasar tumpah. Membuat Judi ingin melihat lihat ke sana.
Mungkin saja ada benda yang bisa dijadikan buah tangan.Â
__ADS_1
Namun belum lama melihat lihat, Judi masih penasaran dengan keadaan istrinya. Dia segera menghubungi Tante Metry.
"Hallo Assalamualaikum, Jud. Kenapa?"
"Waalaikum salam, Tan. Mau nanya Vanessa, aku chat dia tapi gak dibales bales, dia gak papa kan?"
"Ini baru pulang."
"Kenapa katanya? Kata dokter?"
Tanta Metry diam di sana, tapi terdengar suara seseorang sedang berdiskusi. Membuat Judi mengerutkan keningnya. "Tan, kenapa Vanessa?"
"Hah?"
"Istri aku kenapa?"
"Kenapa ya?"
"Lah, Tante yang nganter dia. Apa kata dokter."
Kenyataannya di sana Tante Metry sedang berdebat dengan Vanessa tentang memberitahukan hal ini pada Judi.
"Tan?"
"Coba aku mau ngomong, Tan."
"Hah? Vanessa nya ke kamar mandi. Nanti aja ya."
"Aku tungguin deh."
"Lama, nanti aja deh."
"Yaudah deh."
🌹🌹🌹
Tante Metry menarik napas dalam setelah selesai menelpon, dia menatap Vanessa yang sebelumnya bercerita.
Tante Metry tahu yang sebenarnya, Vanessa menceritakan secara mendetail sampai dia menangis sesegukan.
"Aku ini orang penuh dosa…. Tan…. Hiks… hiks…"
"Van, semua orang punya masa lalu."
"Tapi ini beda, Tan. Aku jahat, Judi nikahin aku buat lindungin cewek yang dia sukai."
__ADS_1
"Van…., Itu masa lalu inget." Tante Metry memegang tangan Vanessa. "Tante tau betul gimana cara Judi liat orang, dan dia liatin kamu itu penuh dengan kasih sayang, Van."
Vanessa diam. "Aku pendosa, Tan."
"Jadilah mantan pendosa, bukan mantan orang sholeh. Kamu mau kan berubah?"
Vanessa mengangguk sambil menangis. Membuat Tante Metry membawanya ke dalam pelukan erat dan mengusap punggungnya. "Itu masa lalu, kalau kamu mau belajar, Tante bimbing kamu, Vanessa. Jangan berhenti kayak gini."
"Aku… hiks…."
"Udah, jangan nangis."Â
Tante Metry juga bingung, jika dia menasehati sekarang rasanya bukan waktu yang tepat. Tante Metry ingin memberikan waktu untuk Vanessa sendiri.
"Pikirkan baik baik, jangan asal judge diri sendiri. Baca buku buku yang Tante kasih, kan banyak di sana musuh Nabi yang jadi sahabat."
Vanessa diam.
"Judi bentar lagi pulang, dia pasti ingin disambut dengan senyuman kamu."
Vanessa hanya terseguk seguk.Â
"Ini belum pasti loh, kenapa kamu putus asa, Van? Kamu pasti punya anak."
"Judu gak suka sama aku, Tan. Dia gak cinta sama aku. Dia nahan aku supaya aku gak ganggu kehidupan Inanti."
"Lalu? Kamu mau gimana?"
"Aku mau dia nikah sama orang yang dia suka."
"Inanti?"
Vanessa menggeleng. "Orang baru yang dia temui. Kalau Judi khawatir aku ganggu Inanti, aku gak akan lakuin itu, Tan."
"Van, kamu mulai ngaco. Kamu ini istrinya Judi, Tante sama Oma Asih sayang sama kamu. Udah, jangan mikirin yang aneh aneh, sekarang istirahatlah dulu."
Tante Metry mengusap kepala Vanessa sebelum keluar dari sana.
Meninggalkan Vanessa untuk berfikir jernih. Sayangnya, yang ada dalam fikiran Vanessa adalah hal lain.
Dia membuka kotak yang menyimpan paspornya. Sambil menangis, Vanessa berkata, "Sebaik-baiknya wanita adalah yang memiliki rahim yang hangat. Kamu pantes dapetin yang lebih baik, Judi."
🌹🌹🌹
TBC
__ADS_1