
🌹VOTE YA.🌹
🌹My Ig : @Redlily123🌹
Madelle membuka matanya, dia menguap lebar dan menatap terkejut tidak adanya Nadia di sampingnya.Â
"Nadia?" Madelle keluar dari kamar dengan cepat, dia tidak mendapati siapa pun. "Inanti? Alan?"
"Iya, Mah?" Inanti mendekat meski dengan langkah perlahan, dikarenakan masih merasakan sakit. "Mamah bangun?"
"Alan mana? Nadia kok nggak ada?"
"Mas Alan bawa Nadia ke beranda balkon, lagi mandiin Nadia di sana."
Madelle bergegas melihat, dan benar saja Alan di sana memandikan putrinya. "Bang, kok gak bilang bilang sih Nadia dibawa?"
"Mamah ngorok."
"Ngarang! Mana ada Mamah ngorok, durhaka kamu, Bang. Orang Nadia juga tidur di samping Mamah."
"Nadia bangun, dia liatin Mamah yang langka pake banget."
Madelle menggeleng tidak percaya. "Astaga, harusnya Mamah gak namain Abang dengan nama Alan."
"Hah? Emang kenapa?"
"Gak papa, Mamah mau pulang ya. Assalamualaikum," ucap Madelle pamit pada Alan di sana.
"Mamah pulang sekarang?" Tanya Inanti.
"Iya, Nan. Papahnya Alan udah nunggu di bawah. Mamah pulang ya."
Inanti hendak mendekat untuk salam, tapi Madelle menghentikan. "Udah udah, biar Mamah yang ke sana. Kaki lagi sakit juga."
Madelle mendekat, dia membiarkan Inanti salam padanya, kemudian dia memeluknya. "Nanti banting si Abang pake galon kalau masih mepet ya, Nan."
"Hah? Tar benjol, Mah."
"Gak papa, dia mah benjol juga ganteng. Ya 'kan?"
Inanti tersenyum.
"Udah ah, Mamah pulang ya. Kalau ada apa apa hubungi Mamah, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
__ADS_1
Madelle keluar, dia mengecek ponselnya yang menampilkan pesan kalau suaminya sudah menunggu di caffe bawah.
"Mas?" Madelle mendekat saat sampai di sana. "Ayo pulang."
Dan saat itu pelayang datang. "Pesanan anda, Tuan."
Itu membuat Madelle duduk.
"Loh, katanya pulang."
"Minum dulu lah, mubadzir ini minuman. Nanti nangis loh, Mas."
Riganta kembali duduk, dia lebih banyak menatap ponsel.
"Mas, kok gak liatin aku?"
"Ada ilernya."
"Ck." Madelle mengusap pipinya di mana ada bekas air liur di sana. "Tadi gimana sama Ayahnya Inanti?"
"Dia gak mau Inanti tau."
"Tapi kan seenggaknya kita bilang."
"Nanti kita disukusikan lagi sama Alan. Yuk ah pulang, udah kangen nih."
🌹🌹🌹
Nadia sangat rewel, membuat Inanti tidak sempat mengaji. Setelah sholat dia menggendong bayinya dan menimangnya keluar dari kamar menuju balkon.
"Liat, Sayang… tuh, ada bintang. Liat, tuh…. Bintangnya kelap kelip."
Nadia masih saja menangis, membuat Alan yang berada di ruangan kerjanya keluar. "Kenapa, Yank?"
"Gak tau, Mas. Dikasih mimi gak mau, popok udah diganti."
"Panas gak?" Tanya Alan memegang kening bayinya. "Tapi dingin kok."
"Hey…, Nak. Liat jari Mama."
"Sini biar aku yang gendong."
"Kamu kan lagi kerja, Mas."
"Gak papa, kerja mah bisa nanti. Uang aku kan banyak, segudang juga lebih. Mana abis tujuh turunan. Sini, Anak Papa. Mau sama Papa ya?"
__ADS_1
Alan mengambil alih Nadia. Dan benar saja, putri mungilnya langsung diam perlahan lahan.
"Tuh, mau sama yang ganteng katanya, Yank."
Inanti cemberut, membuat Alan mengusap pipi istrinya. "Kamu istirahat aja kalau capek, Nadia aku bawa ke ruang kerja. Jangan rindu ya, Sayang."
Dan itu membuat Inanti semakin kesal.
Pasalnya dia ditinggalkan sendirian di sana, Alan tidak mengajaknya masuk ke ruang kerjanya. Dan Inanti sedikit cemburu, dia tidak pernah diajak masuk kecuali dirinya sendiri yang ke sana.
Apalagi melihat Alan yang terus mencium Nadia, entah kenapa dia sedikit iri dengan bayinya.
"Sudahlah, Nadia udah anteng," gumam Inanti masuk ke kamar.
Dia naik ke atas ranjang dan mencoba memejamkan matanya. Namun, dia tidak bisa terlelap. Tidak ada pelukan hangat dari Alan atau pun gombalan panas darinya.
Inanti akhirnya kembali berdiri, dia hendak menuju ke ruang kerja.
"Mas?"
"Iya? Sini, Sayang. Kenapa? Gak bisa bobo ya belum olahraga sama Mas Alan?"
"Apa sih ih." Inanti memalingkan wajah dari ekspresi jahil suaminya. Dia mendekati Nadia yang ditidurkan di sofa. "Kok diem sih ditidurin di sini?"
"Siapa pun yang deket Mas Alan gak bisa berkutik, Sayang. Kamu juga gitu."
"Udah beresin kerjaannya biar bisa cepet tidur."
"Cieee… mau tidur bareng ya? Mau coba pengaman gergaji?"
"Mas ih!" Inanti duduk di atas karpet untuk menatap wajah Nadia yang menyamping.
Menatap wajah putrinya yang begitu cantik.
"Cantik banget kan, Yank? Kayak aku."
"Kamu mah ganteng."
"Asyiikk… diaku ganteng sama bini. Cenat cenut tau hati aku."
"Dasar," guman Inanti, dia memainkan tangan Nadia dan menciumnya.
Dan sebuah hal sederhana yang membuatnya tersenyum saat melihat putri kecilnya menguap lebar.
Dan saat itu Alan memeluk istrinya dari belakang. "Aku sayang kamu, Nan. Sayang juga sama anak kita, buah hati kita."
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC.