Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Kalender Maaf


__ADS_3

🌹VOTE DONG, HA HA HA HA HA🌹


Suara bel membuat Inanti bergegas membukanya. Namun sebelum pintu dibuka, Alan tiba tiba datang dan menarik tangannya.


"Kenapa?"


"Jangan langsung dibuka. Sini," ucap Alan menarik Inanti ke bagian dalam apartemen.


"Lihat dulu di monitor, tekan ini."


Dan munculah sosok pria yang ada di depan pintu.


"Kalau mau ngomong sama yang ada di depan, tekan ini," ucap Alan lalu mempraktekannya. "Siapa itu?"


"Saya Karl, Tuan. Saya membawa emas yang anda pesan."


"Baik."


Kemudian Alan menatap Inanti. "Nah, kalau mau buka tapi males ke pintu, tekan ini. Tuh kan langsung ada orang OTW mau masuk."


Inanti mengerutkan keningnya, dia merasa lupa akan sesuatu. "Astagfirulloh, kerudung."


Alan yang sama lupa itu melihat Inanti masuk ke dalam kamar. Dia belum terbiasa dengan itu, melihat Inanti yang kelayapan di apartemennya.


"Tuan?"


"Mana emasnya?"


"Ini, Tuan."


Karl melihat meja makan Alan yang dipenuhi makanan. Apartemen ini tidak sepi seperti kuburan lagi.


"Apa, Karl?"


"Tidak, Tuan. Untuk besok, sa--"


"Untuk besok kau yang ambil, Pergi."


Karl mengangguk, dia segera pergi dari sana saat melihat Alan menatapnya tajam.


Setelah pintu tertutup, Alan membalikan badan. "Inanti….."


Panggilnya dengan suara merayu.


"Naaaan…. Tau gak?"


"Tamunya udah pergi?"


"Udah," ucap Alan membuat Inanti keluar kamar. "Kerudung kamu kemana emang?"


"Di cuci."


"Semua?"


Inanti diam.


"Kenapa dicuci semua?"


"Ya kamu malah beliin saya lingeri sama celana dalam bolong, orang butuh buat nutupin aurat!"


"He he." Alan malah nyengir. "Besok kita OTW lagi yuk."


"Ogah, males!"


"Nan, tunggu dulu. Nih, Mas Alan beli ini buat kamu."


"Apaan sih ih!" Inanti melepaskan paksa tangan Alan yang mencekalnya. Tapi Alan malah menariknya kembali agar duduk.


"Liat saya beli ini buat kamu."


"Apaan sih?!" 


"Ini."


Mata Inanti melotot saat Alan mengeluarkan mas batangan yang begitu besar berjumlah puluhan.


"Ya Allah, kamu maling?"


"Nan, bener aja saya maling, saya beli lah. Katanya kamu mau mas batangan."


"Siapa bilang begitu?!"


"Tadi di mall."


"Enggak."


"Bilang."

__ADS_1


Sampai Inanti ingat, dia terdiam seketika.


"Nah, inget kan? Nih mas batangan, nyogok biar kamu nempel sama saya."


Inanti kehabisan kata kata, dia menutup wajahnya dan menyandarkan diri di sofa. "Udah gak usah terharu gitu, saya tau saya baik plus ganteng kok."


"Sinting kamu, siapa yang mau mas beneran?"


Dan kalimat itu membuat Alan diam. "Atau jangan jangan, Mas yang kamu mau itu Mas Batangan punya saya? Iya, Nan?"


"Enggak ya allah! Kamu gak waras, Alan."


"Nanti ya abis makan malam, cemilannya mas batangan punya saya."


Seketika Inanti minggat dari sana sambil bergumam, "La illaha illaloh, Ya Allah tolong ambil setannya."


Alan segera menyusul. "Naaannnn…."


"Apaan ih?"


"Mau makan, udah dong jangan marah marah mulu."


🌹🌹🌹


Saat makan malam, Alan terlihat menikmatinya. Membuat Inanti menelan ludahnya kasar mengingat apa yang pernah Alan lakukan padanya.


"Mau minum, Nan."


Dan Inanti kembali menuangkan air untuk Alan. Sebenci bencinya Inanti pada Alan, dia tetap melayaninya dengan baik. Hanya untuk masalah pelayanan bathin, mungkin agak lama. Inanti belum siap.


"Besok saya gak kerja kok."


"Kuliah?" Tanya Inanti.


"Enggak, di rumah aja sama kamu."


"Hih, gak perlu. Sana pergi aja."


"Gak mau, maunya nempel terus."


Inanti berdecak, dia menyelesaikan makannya dengan cepat.


"Kok udahan, Nan?"


"Kenyang."


"Dulu kamu makannya banyak deh."


Alan yang menyadari kalimat Inanti jadi diam, padahal Inanti tidak mengatakannya seolah menyindir, lebih tepatnya keceplosan. Tapi Alan merasa sedih.


"Nan, besok sedot enen oke?"


"Bener deh, otak kamu perlu di cuci."


"Cuci sama kamu ya."


"Jangan nyahut kalau saya lagi ngomong sendiri!"


"Iya, enggak."


"Diem!"


"Oke, diem."


"Aaaaaa……" inanti meredam teriakan dengan memegang kepalanya, dia pusing dengan tingkah Alan.


Saat selesai mencuci piring, Inanti berbalik, dan alangkah terkejutnya dia melihat Alan ada di depannya. "Munduran, Alan!"


"Ampir nempel ya? Takut gepeng, Nan? Ya enggak lah, kan itu enen kamu itu mirip squishi."


Inanti menggeleng. "Cuci piring sendiri, saya mau buat sesuatu buat kamu."


Inanti mendorong Alan hingga dirinya bisa melangkah menjauh.


"Jangan bilang kamu mau siap siap pake lingerie."


"Diem!"


"Iya, diem."


"Ya Allah."


🌹🌹🌹


"Naaaannn…." Alan kembali mengetuk pintu kamar yang dikunci dari dalam. "Inan….."


"Diem!"

__ADS_1


"Nan, saya mau masuk, mau bobo sama kamu."


"Diem ih!"


Alan menarik napas dalam, sudah dua jam Inanti berada di sana mengunci dari dalam.


"Dosa loh gak nurut sama suami."


"Bodo amat."


"Nan… saya pu-- Astaga!" Alan terkejut saat Inanti membuka pintu tiba tiba, membuatnya hampir jatuh. "Kenapa kam--"


"Masuk."


Alan menurut, dia melihat Inanti terlihat begitu serius.


"Duduk di sini."


Sebelum duduk di karpet, Alan melihat Nadia dulu yang terlelap. "Popoknya udah diganti?"


"Udah, sini cepet."


"Iya, gak sabaran banget sih, Sayang."


"Diem."


Kening Alan berkerut melihat banyaknya kotak kotak yang Inanti buat dalam kertas karton. "Dapet darima karton ini?"


"Dari ruang kerja kamu."


Alan diam, sebenarnya itu bukan karton biasa. Tapi dirinya memilih main aman, toh uangnya masih banyak.


"Ini apaan?"


"Pokoknya kamu diem, saya yang ngomong. Jangan potong ucapan saya, atau saya jadikan emas batangan itu batu bata buat dinding."


Alan mengangguk paham.


"Di sini ada 240 kotak, yang dihitung berdasarkan 30 hari dikali 8 bulan kamu menelantarkan saya. Oke?"


Alan mengangguk.


"Saya gak bisa maafin kamu langsung. Makannya saya maafin kamunya nyicil. Kalau 240 kotak ini sudah saya gambarin bintang, berarti semuanya lunas."


"Satu hari satu bintang gitu?"


"Tergantung."


"Huh?"


"Kalau kamu bikin saya seneng, satu hari bisa empat bintang. Kalau kamu bikin saya kesel, satu hari kosong terus."


Alan menyeringai. "Pinter banget sih kamu, mau apa, emas lagi? Batangan asli atau batangan Mas Alan?"


Inanti menatap kesal Alan yang ada di depannya.


"Saya yang simpan kalender pemaafan ini, kalau udah terisi semua, baru saya kasih tau kamu."


"Lah, nanti saya gak tau dong udah berapa yang kamu isi."


"Mau dimaafin gak?"


"Iya, iya, galak banget punya bini," ucap Alan sambil terkekeh.


"Jangan noel noel, kamu juga baru boleh noel kalau bintangnya udah adaan semua."


"Berarti…….?"


Inanti memalingkan wajahnya.


"Kalau bintangnya udah penuh bisa main kuda kudaan?"


"Dasar Omes, saya ngantuk."


"Nan, jawab dulu dong."


"Bodo ah."


"Itu emasnya gimana?"


"Mau buat batu bata besok. Lagian beli emas banyak banget sih, gak mikir kamu."


Alan menyusul Inanti yang sudah naik ke ataa ranjang di sebelah Nadia.


"Yakan investasi jangan di dunia aja, di akherat juga. Nah, kalau suami mau investasi akherat, jawabannya investasi sama istri. Gituh, Nan."


🌹🌹🌹

__ADS_1


**TBC


Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha**


__ADS_2