
🌹Jangan lupa kasih vote ya anak anaknya emak.🌹
🌹Maaf lambat, kan sekarang anak anak mulai sekolah lagi, emak rempong harus ngenter anak anak. Apalagi ada yang bayi yang harus disusui.🌹
🌹Follow igeh emak dong, ngarep jadi selebGram nih. @RedLily123.🌹
Selama perjalanan dalam mobi, Vanessa lebih banyak diam. Dia sedih harus mengantarkan Oma Asih dan Tante Metry ke bandara. Padahal dia sangat senang jika Oma Asih mau tinggal bersamanya di rumah yang besar itu.
Sampai akhirnya terdengar suara isak tangis, Judi yang menyetir dan duduk di samping istrinya itu tertawa. “Yank, kok nangis sih?”Â
Tangan Judi terulur mengusap kepala istrinya. “Oma, nih cucunya nangis gak mau di tinggal.”
Oma Asih yang sibuk memakan combro di belakang itu terdiam sesaat. “Van, beneran nangis?”
“Hiks… hiks… hiks…”
“Nih, nangis makin keras nih, Oma,” ucap Judi kembali menggoda.
“Van, nanti kan Oma juga balik lagi ke sini kalau kamu hamil.”
Kemudian Vanessa menjawab dalam tangisannya. “Kalau aku gak hamil gimana? Hiks… Oma gak bakalan tinggal di sini?”
“Eh, jangan gitu,” ucap Tante Metry menyimpan ciloknya. “Ucapan itu do’a loh, Van. Kamu harusnya berdoa biar cepet hamil, biar Oma nanti nemenin kamu di sini.”
“Hiks… hiks…”
Oma Asih mengangguk. “Iya. Terus kan kita masih bisa video call, nanti bisa kabarin Oma kalau ada apa apa.”
“Kan beda,” ucap Vanessa menaikan nada bicaranya.
“Kok nge-gas sih? Judi, nih istri kamu nge-gas sama Oma.”
Judi kembali tertawa dibuatnya. “Ahahahaha, udah dong, Sayang. Kan ada aku, nanti juga Oma ke sini lagi. Kalau enggak di jadwal aja, Ma, biar sebulan sekali ke sini.”
__ADS_1
“Bisa tuh, asal dikasih ongkos,” ucap Oma pada Judi.
“Beres lah, gampang sama boss mah.” Kemudian Judi kembali mengusap rambut istrinya dengan satu tangan. “Yank, udah dong. Kan tetep ada aku yang nemenin.”
“Kan kamu suka kerja. Aku ngapain di rumah?”
“Kan udah punya mesin jahit baru.”
“Gak mau main sama mesin ih… hiks… hiks…”
Ketiga orang di dalam mobil menahan tawanya gara gara Vanessa yang terus menangis.
🌹🌹🌹🌹
“Udah jangan nangis, kamu jelek,” ucap Oma Asih sambil mengusap pipi Vanessa. Oma Asih memberikan tatapan pada Judi untuk merangkul istrinya.
“Udah tuh jangan nangis, Van.”
“Nah tuh denger,” ucap Judi. “Kalau mereka tetep di sini, kasian Tante Metry ninggalin anak sama suaminya.”
“Van,” paggil Tante Metry. “Gak mau peluk nih?”
“Tanteeeeee.” Vanessa berhambur ke pelukan Tante Metry.
Oma Asih yang merasa terharu itu menyeka air matanya, yang mana malah membuat Judi tertawa dan bertanya, “Oma kelilipan?”
“Tuman kamu, anak nakal. Sini salim dulu sama Oma.”
Judi melakukannya, meskipun dia masih tengil, tapi kasih sayangnya pada keluarga selalu nomor utama. Dia mencium tangan Oma Asih kemudian memeluknya. “Oma hati hati ya di jalan.”
“Iya, kamu jaga hati jaga pikiran jaga daya tahan tubuh.”
“Oma lagi ngiklan vitamin-C?”
__ADS_1
“Tau aja sih,” bisik Oma Asih yang masih memeluk cucunya. “Nanti pesen ya.”
“Dari Belanda ke Indonesia mahal di ongkir.”
“Lah kamu kan kaya.”
“Iya deh iya.”
Sampai akhirnya perpisahan pun terjadi. vanessa melambaikan tangannya saat Oma Asih dan Tante Metry berjalan menjauh sampai akhirnya hilang di belokan setelah pemeriksaan.
“Udah, Yank, jangan nangis.”
“Aku sendiri masa di rumah.”
“Kana da aku.”
“Kamu sering kerja.”
Judi diam sesaat, dia merangkul pundak istrinya sambil berjalan menuju mobil.
“Kan kasian suami sama anak Tante Metry ditinggal mulu, Yank. Nanti jadi Neng Toyib yang gak pulang pulang. Untung aja Tante Metry bawa terasi buat hadiah pulang.”
“Aku juga jadi Neng Toyib tiap hari, kok kamu gak bawain hadiah?”
“Kamu mau terasi, Yank?”
“Kok terasi sih? Tau ah,” ucap Vanessa berjalan lebih dulu.
“Yank! Yank! Kan Tante Metry bawain terasi buat suaminya, kamu mau? Sekarang mau ke pasar dulu nggak beli terasi nih?”
🌹🌹🌹🌹
To Be Continue
__ADS_1