Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Semakin dekat


__ADS_3

🌹VOTE DONG GAISS, MAMA BEEGADANG BIKIN INI, WUA HA HA HA🌹


"Bisa kan, Mbak?" Tanya Alden lagi.


Meski pun umur Inanti jauh di bawahnya, Alden menghormati istri dari saudara tertua nya.


"Nanti diomongin, kamu tenang aja. Alan pasti dateng kok."


"Boleh minta nomor Mbak yang baru?"


Inanti mengangguk, dia menerima ponsel Alden dan menuliskannya di sana. "Udah."


"Siapa, Sayang?" Tanya Alan yang keluar membawa Nadia. "Alden? Ngapain ke sini?"


"Abang jangan gitu, Bang. Kas--"


"Keluar."


"Mas."


"Keluar dulu, Abang mau ngomong sama Mbak Inan."


"Tapi Abang bakalan ke sana kan?" Tanya Alden penuh permohonan.


"Keluar dulu."


"Mas…"


"Alden pulang, Mbak. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," ucap Inanti membiarkan Alden pergi. Kemudian dia menatap suaminya yang kejam. "Mas, biadab kamu usir adek kamu."


"Aku nya mau berduaan sama kamu dulu, Sayang."


"Hih," ucap Inanti malas melihat wajah Alan yang kembali tengil, tadi aja galak banget sama Alden. 


Inanti duduk di sofa kembali sambil memakan ayam yang belum habis. Nadia Alan tidurkan di sofa lain. Sofa yang bisa diubah bentuk menjadi box sehingga aman jika Nadia bermain di sana. Alan juga menggeser mainan gantung supaya bayinya bisa bermain sendiri.


Alan mendekati istrinya. "Nan…"


"Mas," ucap Inanti menatap Alan sesaat. "Kamu tau Eyang Sekar sakit?"


Alan diam sebagai jawaban.


"Mas, kamu ke sana lah… kasihan."


"Aku ga mau ngomong itu sekarang. Mau makan ayam dulu."


Kini Inanti yang harus mengalah, dia menarik napas dalam dan menyuapi Alan. Inanti tahu perubahan suasana pada hati Alan saat mengingat kejadian itu, dan Inanti mencoba memahami.

__ADS_1


"Mau minum, Nan."


"Bentar," ucap Inanti membawa air susu.dari kulkas.


"Kok susu sih?"


"Biar gak kepedesan lagi, Mas."


Alan mencobanya, dan setelah makan cemilan malam. Dia kembali menggendong Nadia. "Asi masih ada, Nan?"


"Ada di kulkas."


"Aku aja yang tidurin Nadia. Kamu beresin bekas mam ya, nanti aku kasih jatah."


"Halah, kemarin juga kibul."


"Kapan aku kibul?" Tanya Alan tidak terima. "Kapan, Nan?"


"Kemaren, katanya gocap."


"Oh yang itu…." Alan malah cengengesan. "Liat M-banking di ponsel kamu kenapa, Sayang."


Inanti mengerutkan keningnya. Dia mengambil ponselnya saat Alan masuk ke kamar. Dan Alangkah terkejutnya Inanti melihat saldo dalam sana.


Ini pertama kalinya Inanti melihat M-Banking dalam ponselnya.


"Masya Allah, ini nol nya kok banyak banget ya? Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh….. dua puluh? Eh, delapan belas? Ih kok banyak banget sih."


🌹🌹🌹


Inanti sedang menyusui Nadia yang terlelap, dengan pelukan dari belakang oleh Alan.


"Mas?"


Alan segera memejamkan matanya berharap istrinya menganggapnya tidur.


"Mas?"


Tidak ada jawaban. Membuat Inanti menarik dada nya ketika Nadia sudah benar benar tidur. Menutupi kaki bayinya dengan selimut sebelum akhirnya membalikan badan menghadap Alan yang juga memejamkan mata.


"Mas?"


Alan masih menutup mata.


Membuat Inanti mengagumi sesaat ciptaan Allah SWT. Tidak pernah sedekat ini, Inanti bahkan tidak bisa membayangkan semua rasa sakitnya akan berakhir dengan kehangatan dan pelukan dari pria yang selama ini tidak menginginkannya.


Alan memiliki alis yang hitam, hidung mancung dan rahang yang kokoh. Bibirnya tipis bergelombang. Dan Inanti tahu keindahannya akan berkali lipat saat Alan membuka mata. Dia memiliki tatapan setajam elang, mengintimidasi. Namun itulah kelebihannya.


"Mas… bangun dulu napa…"

__ADS_1


"Kenapa?" Akhirnya Alan membuka mata, dia menatap wajah cantik istrinya yang berhadapan dengannya.


"Mas… Besok jenguk eyang ya."


Alan diam.


"Mas gak boleh gitu, Eyang sakit loh."


"Aku masih marah sama Eyang, Nan. Lihat wajahnya aja amarah aku mau meledak."


"Karena aku?" Tanya Inanti. "Kejadian malam itu kan?"


Alan diam sesaat. "Kamu maafin Eyang?"


"Kalau Eyang minta aku kasih kok, kenapa enggak?"


"Dia udah jahat sama kamu," ucap Alan menundukan pandang.


"Mas…."


Alan kembali menatap manik istrinya.


"Bukannya apa ya, tapi kan aku juga kasih kesempatan sama kamu. Kamu yang sering jutekin aku, sering marah sama aku. Itu delapan bulan loh kamu gituih aku, aku kasih kamu kesempatan, maafin kamu juga. Masa Eyang enggak kamu kasih kesempatan, Mas?"


Alan tidak bisa berkata kata.


"Aku tau kamu masih kesal sama Eyang. Tapi dia Eyang kamu loh, yang sering gendong kamu waktu kecil, yang suka sisihin makanan enak buat kamu. Masa kamu gak mau maafin dia. Jenguk dia, Mas."


Alan menatap manik Inanti semakin dalam. Bertanya tanya terbuat dari apa hati istrinya hingga sebaik ini. 


Hingga tangannya menyentuh pipi Inanti perlahan. 


"Kamu mau kan, Mas? Jenguk Eyang."


Alan mengangguk perlahan, dia tidak bisa memalingkan tatapannya dari istrinya.


"Aku sayang sama kamu, Nan."


Tubuh Inanti menegang, dia mendapat pengakuan. Tidak ada wajah tengil, Alan sangat serius.


"Jangan tinggalin aku lagi, Nan."


Inanti mengangguk seolah terhipnotis oleh tatapan suaminya. Dan entah bagaimana, jarak diantara mereka memendek, mereka berdekatan.


Sampai Inanti tiba tiba merasakan sapuan hangat di bibirnya.


Alan menciumnya, untuk pertama kalinya lagi setelah sekian lama.


🌹🌹🌹

__ADS_1


To be continue..


__ADS_2