
🌹jangan lupa kasih emak vote y anak anak kesayangan emak🌹
🌹follow juga igeh emak di : @redlily123🌹
🌹emak sayang kalian, selamat membaca🌹
Judi menarik napasnya dalam, dia sudah mulai terbiasa diabaikan oleh istrinya. Tapi pantang mundur, Judi terus mendekat supaya dia bisa menggapai hati sang istri lagi.
Sekarang adalah bagian pengajian untuk mengenang empat puluh hari kepergian ayah mertuanya. Pengajian ini dilakukan sore hari sehabis ashar oleh ibu ibu pengajian dan dilanjut nanti sehabis maghrib oleh bapak bapak.
Judi melihat istrinya yang begitu sibuk mengatur tata letak barang. Membuat Judi berinisiatif membawakan segelas air.
Judi mendekat pada istrinya. "Sayang, minum dulu," ucap Judi menyodorkan segelas air.
Vanessa menerimanya.
"Minumnya sambil duduk."
"Iya."
"Sini duduknya deket aku."
Dan hal yang mengejutkan, Vanessa mendekat dan duduk di samping suaminya. Judi pikir istrinya akan kembali menghindar karena kesal.
Perlahan pula, Judi menggenggam tangan istrinya. "Istirahat dulu, ada yang bisa aku bantu gak?"
"Kardus itu udah diangkutin?"
"Beres, ada yang lain?"
"Aku mau pindahin ini sih."
"Biar aku aja," ucap Judi.
"Tapi Mas kan gak tau bagusnya diletakin di mana itunya."
"Ya maka dari itu, kamu yang ngatur, aku yang mindahin."
Akhirnya Vanessa mengangguk.
__ADS_1
"Jadi mau dipindahin kemana?"
"Coba ke bawah tangga, soalnya itu halangin orang lewat."
Judi melakuknnya, dia memindahkan meja hias itu ke bawah tangga.
"Di sini?"
Vanessa menatapnya sambil berfikir. "Gak cantik deh, Mas. Pindahin ke sini bisa gak?"
Judi kembali mengangkat meja jati itu dengan sedikit kesusahan. "Di sini?"
"Eh, di sini deh."
Kembali lagi, Judi memindahkannya dengan penuh kesabaran. "Di sini?"
"Iya, udah. Makasih," ucap Vanessa sambil bergegas pergi mengecek hal lainnya.
Oma Asih yang melihat Judi kelelahan itu tertawa, dia mendekat dan melihat cucunya penuh keringat. "Mau minum?"
"Minum, Oma. Mau minum," ucap Judi yang kelelahan.
"Cape?"
"Gak papa kalau Vanessa seneng, tadi aja aku pegang tangannya dia gak lawan."
"Ya iyalah, udah mau tiga hari masa marahin terus," gumam Oma Asih. "Tapi jangan paksa ya kalau Vanessa masih kesel sama kamu."
"Gak papa, udah jadi temen sama sofa di luar kamar."
Oma Asih tertawa mendengarnya.
"Di kamar kan banyak."
"Takut Vanessa butuh sesuatu, jadi stay aja di sana."
🌹🌹🌹
Malam hari, semuanya telah selesai. Vanessa begitu kelelahan dengan apa yang telah dilakukan. Bukan hanya lelah fisik, tapi juga hatinya yang kembali terluka akibat beberapa tetangga yang menyampaikan bela sungkawanya.
__ADS_1
Sudah malam, Vanessa kembali ke kamar. Dan seperti biasa, Judi datang hanya untuk mengambil pakaiannya, dia selalu mandi di kamar mandi lain.
"Mau mandi?" Tanya Vanessa.
"Iya," jawab Judi yang berkeringat dan lelah, jadi dia menjawabnya dengan singkat.
Saat Judi keluar tanpa melakukan kontak mata, hati Vanessa terasa sangat sakit. Hormon kehamilannya menambah, dia merasa dirinya diabaikan begitu saja.
Ketika malam semakin larut, Vanessa menunggu Judi masuk kamar lagi. Tapi ternyata tidak.
Padahal Judi membukakan pintunya agar suaminya bisa masuk.
Dan hal itu membuat air mata Vanessa berlinang, rasa kesalnya membuncah semakin besar. Dan Vanessa tidak tahan.
Jadi dia keluar kamar dan mendapati Judi yang sedang bermain ponselnya di sofa.
"Sayang? Ada apa? Kamu butuh sesuatu?"
Vanessa hanya berdiri diam dengan mata memerah.
"Hei ada apa?" Tanya Judi menggenggam tangan istrinya. "Kenapa?"
"Kok Mas begitu?"
"Gitu gimana?" Tanya Judi yang kaget.
"Kalau aku lagi marah itu jangn dimarahin lagi, jangan dicuekin!" Teriak Vanessa dalam satu tarikan napas sambil menangis. "Nyebelin."
"Lah kok nangis? Siapa yang marah sama kamu?"
"Mas yang marah, ngomongnya dikit dikit banget."
Judi tertawa, dia berdiri dan memeluk istrinya. "Sayang, aku gak bermaksud begitu. Maaf ya. Jangan marah lagi, jangan nangis. Udah kasian baby nya."
"Pokoknya aku mau soto yang pake daging sapi."
Perlahan Judi menatap jam, dia menelan ludahnya kasar.
🌹🌹🌹
__ADS_1
To be continue