
🌹VOTE YEE GAISH🌹
Selepas sholat subuh, Alan dan Inanti kembali terlelap di atas karpet mengingat ranjang begitu kotor dan berantakan bekas semalam bergadang dan bercanda tawa.
Alan bangun lebih dulu mendengar telponnya berdering. Dalam setengah sadar, dia mengangkatnya. "Siapa ini?"
"Siapa ini?" Tanya Madelle di sana kesal. "Abang bangun ih! Katanya mau bakar bakar di sini."
"Nanti sore aja, Mah. Inanti masih tidur, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Tapi, Bang, ad--"
Alan menutup telpon dan kembali memeluk istrinya, beberapa kali dia mencium punggung sang istri.
"Yank?"
"Hemm?" Inanti membuka matanya sesaat sebelum menutupnya lagi. "Berangkat sekarang?"
"Nanti aja sorean lah, lagi mau berduaan dulu."
"Kasian Nadia," ucap Inanti dengan suara seraknya. Tapi dia malah kembali terlelap saat berbalik menghadap suaminya lalu memeluknya.
"Pindah kamar yuk, yang ini udah berantakan, Yank."
Semalam Alan dan Inanti tidak memadu kasih, melainkan bercerita semalaman. Kemudian disusul dengan perang bantal yang membuat busa bantal keluar dan mengotori.
Jam dua malam, baru Inanti terlelap setelah menceritakan pengalamannya saat kecil sering berjualan ke sekolah.
Yang mana membuat Alan semakin bersyukur memiliki istri setangguh Inanti, meskipun cara mendapatkannya sangatlah salah.
"Yank…., Kita belum bikin adek buat Nadia loh," ucap Alan masih menagih.
Inanti menjauhkan wajahnya dari leher sang suami. "Gendong."
"Ke kamar lain?"
__ADS_1
Inanti mengangguk.Â
"Tapi seriusan kan?"
"Iya ih," gumamnya masih malu malu.
Dan sebelum membawa istrinya ke dalam gendongan, Alan mencium bibir Inanti dalam. Lidahnya masuk dan menjilat bibir istrinya yang kenyal.
"Hmmppphh!" Inanti berteriak dalam ciuman saat suaminya tiba tiba menggendongnya dan meletakannya di depannya.
Alan berpindah kamar, dia menendang pintu untuk masuk ke kamar lain.
"Ini kamar bayi, Mas?" Tanya Inanti melihat keseluruhan ruangan yang berwarna pink, juga ada ranjang bayi di sana.
"Iya, aku buatin untuk Nadia. Tapi kan gak ikut," jawab Alan menidurkan istrinya di ranjang luas. "Boleh kan, Yank?"
Inanti mengangguk dan mencium bibir suaminya.
🌹🌹🌹
"Mah! Laper nih, Bang Alan sama Mba Inan lagi bikin adeknya Nadia kali! Mau makaaaaann!" Teriak Ayaza yang melihat alat pemanggang sudah memanskan kalkun. "Mah!"
"Mau makan."
"Ya makan aja."
"Kalkunnya belum mateng."
"Ya tunggu aja sampe mateng."
"Gimana mau mateng orang apinya kecil gitu! Mamah ih!"
"Papaaahhh! Nih Nadia gendong dulu!" Teriak Madelle memanggil suaminya.
Dan saat itulah Riganta yang sudah tampan dan wangi dengan rambut yang terlalu rapih. "Astagfirullah, Pah. Itu rambut rapih banget."
__ADS_1
"Kemaren gak diiket malah dijambak Nadia," ucap Riganta yang kini mengikat rambutnya ke belakang.
Memang, Riganta memiliki rambut gondorong. Saat dirinya mulai pensiun dan menyerahkannya pada Alan, Riganta memanjangkan rambut.
"Wangi banget sih, pake parfume Mamah ya?" Tanya Ayaza pada Riganta.
"Nadia suka nempel sama Mamah kamu, makannya Papah pake parfume nya."
Setelah menyerahkan Nadia pada suaminya, Madelle pergi ke halaman depan untuk menghubungi Alan.
Namun, putranya tidak mengangkat, yang mana membuat Madelle kesal.
"Ke mana sih anak itu? Kok gak dateng dateng? Jangan jangan….." Madelle diam membayangkan hal buruk terjadi. "Apa Inanti jadi gak berbentuk? Ya Allah lindungilah menantu hamba."
Tidak lama setelah itu, mobil Alan masuk ke halaman. Madelle sudah siap siap dengan kemarahan yang akan dia semburkan.Â
Namun, kemarahannya hilang saat Inanti keluar dengan wajah sumringah.
"Maaf, Mah. Lama ya? Mas Alan tadi ngantri abis beli madu buat Papah."
"Serius, Nan? Beli madu? Bukan main kuda kudaan?"
Seketika wajah Inanti memerah. "Eng… enggak, Mah."
"Gak usah malu, Yank," ucap Alan yang membawa botol madu.Â
"Apasih, Mas."
"Tuhkan, Nan. Lama gara gara si Abang ya? Mamah kan udah bilang tabok aja pake tabung gas kalau masih aja nambah."
"Enggak kok, Mah."
"Bukan Abang yang nahan." Alan dengan percaya diri membuka kancing atasnya dan memperlihatkan bahunya yang terdapat bekas cakaran. "Liat, Mah. Keren kan? Inanti yang buatin tattoo cakaran buat Abang."
"Mas ih!"
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC.