Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Merah Seksi


__ADS_3

🌹Wajib pada Vote yeee🌹


🌹Ajak yang lain baca ini yeee🌹


🌹My Ig is : @Redlily123🌹


"Kamu yang buka ya, Mas. Aku mau ganti baju dulu," ucap Inanti melesat ke kamar untuk memakai kerudung.


Alan menghela napas berat saat bel terus berbunyi. "Astaga, Mamah."


Terpaksa dia membuka kunci sehingga mereka masuk.


"Assalamualaikum." Madelle dan Riganta bersamaan.


"Abang! Oleh oleh buat Abigail mana?"


"Yang buat Ayaza mana? Abang beli yang Ayaza pesen kan? Ayaza udah nemenin Mbak Inan loh."


"Heh! Kalau masuk tuh salam dulu, Mak Lampir," ucap Madelle pada anak anaknya.


"Udah diwakili kan tadi sama Mamah ya, Za?"


"Hooh, nyinyir banget sih. Eh, mana oleh oleh nya, Bang?"


"Diem napa," kini Alan yang bersuara. "Nadia udah tidur."


"Yah gak seru. Bangunin, Mah!" Teriak Abigail.


"Assssiiiaaaapp."


"Eh, Mamah mau ngapain?"


"Bangunin Nadia lah."


"Abang baru nidurin dia."


"Bodo amat," ucap Madelle. "Nan? Kamu di dalam?"


"Masuk aja, Mah," ucap Inanti yang selesai berganti baju.


Dia melihat kedatangan mertuanya yang memakai konde dengan kebaya merah. "Mamah abis acara apa sih? Kartini?"


"Ngaco kamu kartinian di tanggal segini. Enggak lah, itu di situs kebudayaan," ucap Madelle melangkah menuju box bayi secara perlahan dan… "Aduuhhhh cucunya Mbah Nti bangun, mau digendong ya?"


Seketika Nadia yang tadinya bergerak hendak hanya berpindah posisi kini menangis kencang akibat teriakan Madelle sang nenek.


"Jangan nangis, Sayang. Mau Mbau Uti gendong iya? Sini…. Uh….."


Inanti tersenyum di sana, tapi melihat Nadia yang menangis kencang sampai wajahnya merah membuatnya tidak tahan untuk mengambil alih. Inanti tahu anaknya kesal karena baru tidur beberapa menit.


Karena itulah Inanti mendekat. "Biar Inan kasih mimi dulu, Mah."


"Gak perlu, Mamah tau caranya biar diem." Dan saat itulau Madelle menggendong Nadia dengan cara lain, yang mana membuat cucunya diam. "Nah…  kan… enak, Nak? Iya? Digendong gini enak?"

__ADS_1


"Kok bisa, Mah?"


"Bisa lah, nanti Mamah ajarin ya. Mamah mau bawa Nadia ke Mbah Kung nya, biar dia happy."


"Papah lagi badmood, Mah?"


"Iya, ban bocor. Terus Mamah bilang panggil tukang aja, dia malah gagayaan mau ganti sendiri. Kan di dekat jalanan turun tuh, ban barunya malah melesat gelinding ke bawah, eh Papah nya Alan ngejar ngejar."


"Ya ampun," gumam Inanti menahan tawa.


"Tawa aja, Nan. Asal di sini. Tadi Mamah sama si kembar ketawa di sana. Malah bikin dia badmood, makannya nginep di sini, biar deketan sama cucunya."


Inanti mengangguk paham. "Ada asi kok di kulkas, Mah. Kalau mau bawa Nadia tidur di kamar tamu sama Mamah sama Papah."


"Siipp."


Saat Inantu keluar hendak menyalami mertua dan saudara iparnya, hanya ada Alan di sana. "Mas? Kemana yang lain?"


"Papah istirahat, si kembar ke sini mau ngerampok doang. Nadia bangun?"


Bertepatan dengan itu, Madelle keluar kamar putranya sambil membawa beberapa mainan Nadia. "Ih, Mamah, kok dibangunin sih?"


"Diem kamu, Bang. Jatah oleh oleh Mamah mana?"


"Ada tuh. Itu Nadia mau dibawa kemana?"


"Mau tidur sama Mbah Uti sama Mbah Kung nya. Udah awas, kamu ngalangin banget, Bang."


🌹🌹🌹


"Yank…..," ucap Alan yang sudah terbaring di atas ranjang. "Sini bobo."


"Nadia udah tidur belum ya, Mas?"


"Mamah punya anak empat, udah ahli dia mah. Sini, mending tidur sama Mas Alan."


"Gak bisa tidur, gelisah aku, Mas."


Dan saat itu, Inanti yang mondar mandir mendengar suara pintu terbuka. Dia segera keluar setelah memakai kerudung.


Ternyata di sana Madelle sedang membuat roti isi.


"Mah?"


"Eh, kok belum tidur, Nan? Khawatir sama Nadia?"


"Udah tidur, Mah?"


"Belum, lagi ngegebugin Mbah Kakung nya."


"Hah? Digebugin, Mah?"


Madelle tertawa. "Lagi main main mereka, anteng kok. Tenang aja, Mamah ahlinya."

__ADS_1


Madelle yang mengerti Inanti belum ngantuk juga membuatkan roti isi untuk menantunya. "Nih, makan ini."


"Mamah bikin buat siapa?"


"Buat Mamah sendiri lah, ayok makan."


Sambil duduk berhadapan dengan terhalang di meja dapur, keduanya memakan sandwich.


"Si Abang udah minta jatah, Nan?"


Inanti mengangguk pelan.


"Udah haid belum? Kan ditinggal sebulan tuh."


"Itu dia, Mah, belum haid bulan ini. Tapi sekarang rasanya pegel pinggang, kayak mau haid gitu."


"Oh, Mamah juga gitu. Sebulan gak haid, terus besoknya haid. Nah, kalau beres langsung tancap, itu subur banget loh."


"Ah…, Inan maunya nanti aja, Mah. Kalau Nadia udah agak gede. Kasian dia."


"Mending sekarang aja kalau saran Mamah, biar cape sekalian."


Dan ketika sedang enak berbincang bincang. "Yank…..," panggil Alan keluar kamar.


Sampai Alan sadar di sana ada ibunya. "Mamah ngapain?"


"Makan lah, situ mau ngapain? Minta jatah."


"Tau aja," ucap Alan memeluk Inanti dari belakang.


Yang mana membuat Inanti malu, apalagi ini di depan mertuanya. "Mas."


"Sana, Nan. Kelonin dulu tuh bayi gede. Udah sana."


"Inan masuk dulu ya, Mah."


Inanti masih menjaga jarak saat Alan hendak merangkulnya.


Sampai di kamar, Alan berkata, "Aku kangen sama kamu, Yank. Katanya mau bobo bareng?"


Inanti diam sesaat, dia merasa ada sesuatu yang keluar dari dalam sana. 


"Yank?"


Inanti berbalik perlahan. "Merah gak, Mas?"


Saat itu tatapan Alan turun ke bagian belakang istrinya. "Itu merah… apa, Yank?"


"Euh… aku haid kayaknya."


Alan syok. "Besok beres, Yank?"


🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


Eh, ketipu sama judul? Awok awok awok, Nak, pikiran kalian ke mana?(~‾▿‾)~


__ADS_2