Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Pelukan Jarak Jauh


__ADS_3

🌹VOTE YA GAISSSS🌹


Inanti diam memandang ponsel yang sedari tadi tidak berdering. Alan sudah pergi cukup lama, tapi belum memberinya kabar lagi. Itu membuat Inanti gelisah.


Untuk yang kesekin kalinya, dia mengirim pesan lagi.


ME : Mas, udah nyampe? Jangan lupa kabarin aku.


Sebanyak sepuluh pesan terkirim, dengan isi yang sama.


"Kok Mas Alan belum balas balas ya?" Inanti resah.


Sampai suara bel berbunyi, monitor memperlihatkan Madelle yang datang.


Inanti menidurkan Nadia di karpet. "Bentar ya, De," ucap Inanti membuka pintu.


"Asaalamualaikum, Nan?! Udah makan?"


"Belum, Mah."


"Nih, Mamah bawa rendang. Kata si Abang kamu suka masakan padang. Mamah yang buat kok."


Inanti menerima uluran kotak susun itu. Dia tersenyum bahagia. "Makasih, Mah. Mamah gak masuk dulu?"


"Enggak, Mamah ada urusan."


"Mau liat Nadia dulu?"


"Enggak deh, Nan. Takut nanti Mamah malah diem di sini terus."


"Yaudah, Mamah hati hati ya."


"Iya, Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Inanti menatap rantang di tangannya dengan senang, dia mendapatkan masakan enak buatan mertuanya.


Saat sedang memindahkannya ke dalam piring, Nadia menangis.


"Eh…., Dede kok nangis? Kenapa, Sayang? Hmmm? Kangen ya sama Papa? Mama juga sama," gumam Inanti menggendong Nadia dan duduk menyusui.


Tangannya mengusap kening bayinya. "Dede kata Papa jangan nakal, biar Papa cepet pulang. Nanti kita minta oleh oleh yang banyak ya. Dede mau apa?"


Nadia menatap manik ibunya dengan bibir yang sibuk meyedot.


"Anak Mama nanti kalau udah gede pinter kayak Papa ya, tapi cantiknya kayak Mama aja."


Sampai akhirnya Nadia terlelap, Inanti menidurkannya di dalam box bayi di sana. Sementara dirinya menyiapkan hidangan makan dengan lauk buatan mertuanya.


Sedang sibuk menata, bel berbunyi. Di sana ada Bi Idah membawakan kantong belanjaan.


Membuat Inanti segera membukanya. "Ya ampun, Bibi. Kan Inan bilang besok juga gak papa."

__ADS_1


"Enggak, Bu. Lagian saya juga lewat ke sini."


Inanti menerima pesanannya. "Bibi udah makan? Mau makan bareng!"


"Terima kasih, Bu. Saya sudah makan."


"Makasih ya, Bi. Mau masuk dulu nggak?"


"Ibu butuh bantuan saya?"


"He he, enggak. Ya mungkin Bibi mau istirahat dulu."


"Atau Ibu perlu saya temani?"


Inanti menggeleng. "Enggak, Bi. Soalnya nanti Mamah juga ke sini nemenin."


"Oh, baik, Bu. Kalau begitu saya pulang. Ibu butuh apa untuk besok?"


"Nggak ada, Bi. Makasih ya."


Bi Idah mengangguk. "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Inanti tersenyum, dia akan menyiapkan makanan untuk mertuanya saat menginap nanti malam. 


Saat terdengar dering pesan, Inanti berlari mendekat langsung dan membaca pesan yang masuk.


Mas Alan Ganteng : Iya, Sayang. Ini baru nyampe. Mau ke hotel dulu istirahat, abis itu nanti malem ada pertemuan sama bupati setempat. 


Inanti berguman, "Dia sibuk."


🌹🌹🌹


"Nan…., Maaf ya."


"Gak Papa, Mah," jawab Inanti pada mertuanya yang menelpon.


Madelle bilang dirinya tidak bisa datang karena ada urusan mendadak. Maka darinya dia menelpon pada Inanti untuk minta maaf.


"Mamah gak enak nih, udah janji sama si abang soalnya."


"Gak papa, Mamah. Lagian di sini kan gak sepi, di bawah rame rame aja. Kalau mau apa apa juga tinggal bilang Bi Idah atau Mang Asep."


Madelle menghela napas di sana. "Kalau Mamah suruh Ayaza ke sana gimana? Mumpung dia ada di sini."


"Gak usah, Mah," tolak Inanti, dia tidak ingin bersama adik iparnya sebab belum akrab sekali. Apalagi Ayaza pernah melontarka kata kata pedas, jadi mending jaga jarak.


"Ayaza lagi di Jakarta kok, lagi main sama temennya."


Apalagi sedang main, Inanti tidak ingin mengganggu kesenangannya lalu membuat Ayaza semakin membencinya.


"Enggak usah, Mah. Kasian juga ini udah malem. Lagian Inan juga mau tidur sama Nadia."

__ADS_1


"Yakin, Nan?"


"Iya, Mah."


"Iya deh. Besok Mamah ke sana sorean, mau dibawain apa?"


Inanti menimang sebentar. "Enggak usah, Mah. Banyak makanan kok."


"Skincare masih ada?"


Inanti mengangguk. "Ada, Mah."


"Yang buat perawatan malam suka dipake?"


Inanti diam, dia menggeleng. Dirinya tidak memakai itu, sebab Alan selalu memeped waktunya supaya terus berduaan.


"Enggak, Mah."


"Si Abang ganggu?"


"He he, iya."


"Etdah, besok lah skincare an sama Mamah. Udah dulu ya, Nan. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Dan keheningan melanda saat itu juga. Nadia sudah tidur, malam semakin larut. Inanti belum juga memejamkan matanya, bahkan sampai jam menunjukan pukul sebelas.


Dia mengaji sampai akhirnya tamat beberapa surat. Naik ke atas ranjang untuk bergabung bersama Nadia, Inanti belum juga memejamkan matanya.


Dia tidak merasa ngantuk sebab menunggu kabar dari suaminya. Alan hanya mengiriminya pesan tadi dan belum ada balasan lagi.


Sampai telpon berdering, Inanti segera mengangkatnya tahu itu suaminya.


"Mas?"


"Assalamualaikum, istriku."


Air mata Inanti mengenang, biasa di jam segini dia dan Alan selalu berduaan sambil bermesraan dan bercerita satu sama lainnya.


"Yank?"


"Waalaikum salam," jawab Inanti dengan suara serak menahan tangis.


Alan sadar itu. "Tidur ya, Sayang. Ini udah malem, aku ngaji ya buat kamu. Hapenya simpen, kamunya tidur."


Tanpa berkata lagi, Inanti menyalakan speaker ponsel di sampingnya.


Dan saat Alan mulai melantunkan ayat al-Quran, Inanti mulai memejamkan mata dengan Nadia yang terlelap lebih dalam mendengar suara ayahnya yang merdu.


Selama satu jam Alan mengaji. Setelah selesai, dia mengakhirinya dengan kalimat, "Selamat tidur, istriku Sayang. Selamat tidur, putri cantik Papa. I Love You."


🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2