
🌹VOTE YA GAIS, CAPE MAMAK.🌹
"Kenapa buru buru?" Tanya Riganta pada istrinya yang mendorong troli. Dia mengajak pulang dari makan malam para pemilik saham, bahkan sebelum acara dimulai.
Dan mereka malah pergi ke pusat perbelanjaan.
"Elle?"
"Mas, aku gak mau yah Inanti kenapa napa sama Alan. Setengah hari ditinggal aja bisa bisa Inanti gak bisa jalan, ini gimana semalaman."
"Kok mikirnya gitu?" Tanya Riganta yang menggendong Nadia.
Membuat Madelle menatap sinis. "Aku liat kamu ya, pasti nurun sama anak kamu. Udah jail, tengil, mesum, banyak bercandaan, mana modusnya segudang lagi."
"Tapi kan sama kamu doang, Sayang. Coba tanya yang lain, mereka gak akan percaya."
"Itu dia, Mas. Aku takut Inanti terkejut dengan sikap asli Alan yang hanya ditunjukan padanya, gimana kalau Inanti nyangka Alan punya kepribadian ganda?"
"Itu sih kamu dulu sama aku."
Madelle berhenti sesaat untuk membeli sebuah tas air hangat.
"Buat apa?"
"Buat Inanti lah."
Madelle membeli banyak barang untuk menantunya, sampai sampai Riganta harus merogoh uang sebanyak 10 juta untuk satu troli kecil belanjaan.
"Itu apa sih? Kok pada mahal?"
"Cowok mana tau beginian. Pokoknya nih, Mas, kalau anak kamu bikin menantu aku sakit, aku puter kupingnya terus mau ceramahin dia."
"Iya, terserah kamu aja." Riganta lebih fokus pada Nadia di pangkuannya.
Mereka kembali naik mobil.
"Tapi….."
"Kenapa?" Tanya Madelle.
"Aku cuma bisa anterin kamu, aku perlu pergi. Ada yang penting."
Madelle melihat tatapan suaminya. "Mas…? Kenapa?"
"Sekretarisnya Alan udah nemuin keberadaan ayah nya Inanti."
"Jadi… Alan tahu di mana ayah nya Inanti?"
__ADS_1
Riganta mengangguk. "Mereka bahkan udah ketemu."
🌹🌹🌹
"Mas, awas gosong lagi," ucap Inanti memperingati Alan yang sedang memasak untuk mereka.
Sesekali Alab melihat istrinya yang berbaring di sofa melihat televisi.
"Makannya kamu ganti gaya, jangan kayak di film Titanic gitu, gak tahan aku nya, Yank."
"Dasar mesum," gumam Inanti memilih duduk.
Dia melihat acara anak anak yang sangat membuatnya terhibur. Langkahnya masih terbatasi, Inanti masih merasakan sakit dan kemerahan di kewanitaannya.
"Nadia hari ini kan, Mas?"
"Iya hari ini. Kenapa emang? Kamu mau nya besok ya? Biar kita berduaan terus. Iya kan?"
"Apasih, enggak ih, Mas."
"Gak papa, Yank, kan aku juga punya kamu."
"Enggak ih gak gitu," ucap Inanti mengerucutkan bibirnya. Dia ingin sekali melihat Alan masak apa, tapi dia tidak bisa beranjak demi kesembuhan pangkal pahanya. Karena saat berjalan, bagian yang lecet itu kembali bersentuhan. "Mas, masak apa?"
"Steak sama bakso panggang, ditambah salad panggang."
"Nan?"
"Hmm?"
"Liat wajah aku."
Inanti menengok kembali ke arah suaminya. "Kenapa?"
"Aku bule loh."
"Astaga," gumam Inanti kemudian lanjut menonton TV.
Bukannya dia ingin bermanja, bermalasan dan mempersulit suami dengan tidak mengabdi sepenuhnya. Sifat keras nya terbentuk karena semua sikap jahat orang orang di sekitarnya. Air yang ada dalam dirinya mengeras menjadi batu setelah membuat batu keras milik Alan luluh.
Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk sikap kita. Kita tidak bisa terus tersenyum di saat tangan terluka dan penuh darah. Inanti lelah menjadi yang terbaik untuk orang lain. Yang dia inginkan saat ini hanya kebahagiaan dirinya, anak anaknya, dan suaminya yang senantiasa menggenggam tangannya.
"Nan? Lamunin apa sih?"
"Huh?"
Alan melewatinya.
__ADS_1
"Mas, mau ke mana?"
"Ada yang pencet bel pintu, kamu gak denger? Lagi mikirin Mas Alan ya? Cieee…."
"Geer banget dasar."
Alan melihat monitor yang memperlihatkan Karl di luar sana, membuatnya segera membuka.
"Tuan, ini pesanan anda."
"Bagaimana dengan pekerjaan?"
"Keluarga anda meminta ganti rugi karena diundurkan secara tidak hormat."
Alan terkekeh dingin. "Om Guntur?"
"Iya, Tuan. Apa yang harus saya lakukan?"
"Coba berikan apa yang dia inginkan."
"Baik, Tuan."
Setelah Karl keluar, Alan berbalik dan berkata, "Nann…. Sayang…. Tau gak?"
"Gak mau tau."
"Gergaji nya datang loh. Mau coba gak?"
"Mas ih gak mau pake begituan, gak pake aja udah lecet apalagi pake. Gak mau pokoknya gak mau," rengek Inanti saat Alan menindihnya di atas sofa.Â
Tangan Alan menahan tubuhnya agar tidak menjepit sang istri.
"Mau kiss."
"Nanti makanannya gosong lagi."
"Enggak, udah aku matiin kok kompornya."
Inanti diam, membuat Alan melanjutkan kalimatnya, "Aku yang kiss ya?"
Dan baru saja saat Alan akan mencium istrinya, bel kembali berbunyi. Layar monitor masih bisa terlihat dari sana.
Kening Alan berkerut melihat Madelle ada di sana. "Kenapa Mamah datang sekarang?"
🌹🌹🌹
TBC.
__ADS_1