
🌹VOTE🌹
Perjalanan menuju Depok membuat Inanti kembali gelisah. Dia takut akan kembali menghadapi kerabat Alan. Untuknya sendiri, dirinya sudah tahan banting. Tapi jika menyangkut Nadia, jika mereka meremehkan dan membenci anaknya, jelas Inanti akan sangat sedih.
"Nan?"
"Hem?"
"Jangan ngelamun, tar dimasukan kuntilanak. Nanti siapa coba ya ribet, kan suami kamu."
"Kalau aku dimasukan kuntilanak, aku bakalan bikin kamu takut."
Alan malah tertawa kencang, yang mana membuat Nadia menangis kencang karena terbangun dari tidurnya.
"Ih, Mas! Kamu berisik tau!"
"Ha ha ha, lagian siapa yang bakalan takut sama kamu, Nan? Yang ada aku malah cium kamu terus."
"Otak kamu tuh ngeres ya."
"Kalau ngeres gak normal, Sayang."
"Ngeres kamu kebanyakan."
"Ya kan buat kamu doang ngeresnya juga. Ya kali aku mesumin orang pinggir jalan."
"Adaaaaw, pusing aku debat sama kamu. Jangan noel!" Ucap Inanti mencegah Alan kehilangan fokus menyetirnya, pasalnya pria itu terus mencari kesempatan untuk bersentuhan sampai tidak bisa fokus.
"Mas, fokus!"
"Aku gak bisa fokus kalau kamu di samping aku."
"Aku turun gitu?"
"Baperan amat sih bidadari surga."
Inanti memilih diam, dia fokus pada Nadia yang menyusu padanya.
"Enak ya Nadia."
Inanti tidak kehilangan akal, dia mengeluarkan sebuah susu dari dalam tas. "Aku bawa ini buat kamu, Mas."
"Niat banget sih."
"Udah makannya fokus, nanti dikasih susu!"
"Susu kamu tapi."
"Mas!"
"Ha ha ha ha." Alan tidak bisa menahan kuasa untuk tertawa kuat melihat Inanti yang memerah layaknya tomat. "Udah sih, lagian pernah liat juga. Jangan malu malu gitu sama Mas Alan yang gantengnya paripurna."
"Mas kalau gak fokus aku cubit nih."
"Cubit aja nih, pake bibir tapi."
"Ya Allah."
Inanti memilih diam pada akhirnya.Â
Sisa perjalanan Inanti memilih mengabaikan godaan Alan dan terus memintanya untuk fokus.
Sampai sesuatu mengganggunya. "Mas, kita tidur di mana nanti?"
"Di rumah Eyang aja."
__ADS_1
"Gak di hotel?"
"Enggak, Sayang. Gak papa, aku janji kalau mau ke mana mana aku beyeng kamu kok."
Sebenarnya Alan ingin tahu apa yang akan dilakukan kerabatnya saat melihat Inanti setelah kemarahannya.
"Mas…"
"Gak papa, Nan. Mereka gak akan berani, aku gak akan ninggalin kamu."
"Awas aja kalau kamu pergi lagi."
"Enggak, Nan."
"Pokoknya aku mau kamu tolak semua panggilan."
Sampai mobil berhenti, sampai di kediaman Eyang Sekar.
"Mas, kok masih banyak mobil di sini?"
"Kerabat Eyang belum pulang."
"Lah terus?"
"Terus gimana, Sayang? Masa aku usir?"
🌹🌹🌹
Inanti keluar dari mobil, dia menggendong Nadia.Â
"Mang, ambilin barang," ucap Alan pada penjaga di sana.
"Baik, Den."
Inanti mengerutkan kening, dia menggandeng pada Alan. "Deden?"
Inanti mengerucutkan bibir, dia masuk ke dalam dengan ragu. Dan ada beberapa orang yang berjalan di dalam rumah gedong ini.
Alan tanpa basa basi masuk menaiki tangga menuju kamar. Dan Inanti sadar, orang yang melihat mereka terus saja menatap kira kira setengah menit sebelum akhirnya kembali menjalankan aktivitas.
"Udah, jangan dipikirin. Mereka liatin karena kamu cantik," ucap Alan seolah tahu pikiran istrinya.
"Hih, siapa juga yang mikir."
Alan terkekeh, dia menggandeng istrinya menuju ke dalam kamar.
Inanti menghela napas dalam mengingat kamar ini.
"Papa sama Mama dimana, Mas?"
"Di rumah sakit."
"Kamu ke sana kapan?"
"Kamu? Kita dong, Sayang. Nanti lah maleman, sekalian main keliling Depok yuk?"
"Kalau malem kasian Nadia, Mas. Angin."
"Kan kita pake mobil, Sayang. Lagian gak lama kok. Yaa? Gimana?"
Inanti menimang lama sampai akhirnya mengangguk menerima.
"Asek, aku ke kamar mandi dulu ya. Dede nya tidurin aja, Nan. Biar aku yang mandiin."
Inanti mengangguk, dia mencium Nadia berulang kali sebelum akhirnya menidurkannya.
__ADS_1
"Duh, enak ya jadi Nadia, bisa dicium kayak gitu."
"Mas? Kenapa masih di sini? Katanya mau mandi."
"Mau digituin sama kamu."
"Mas!"
"Iya, Sayang. Nanti ya maen kuda kudaan? Yaudah, aku mandi dulu nih. Jangan ngintip ya, nanti matanya belekan loh. Jangan rindu juga."
Inanti tidak bisa berkata kata.
Dia melihat Alan masuk ke kamar mandi. Sampai akhirnya terdengar bunyi shower dari dalam.
Inanti menghela napas, dia berbaring sambil menyalakan TV.Â
Lama menunggu giliran ke kamar mandi, tiba tiba saja ada yang mengetuk pintu. Inanti menegang, dia merasa de javu. Ingat semua yang pernah terjadi.
"Mbak Inan?"
TOK.
TOK.
TOK.
"Mbak Inanti?"
TOK.
TOK.
"Mbakkkk…..?"
Inanti akhirnya memberanikan diri. "Iya, sebentar."
Dia membuka pintu. Inanti terkejut melihat kedua putri tante Poppy di sana.
"Mbak Inan, kita buat pisang cokelat. Mbak coba ya, masih anget."
"Makasih."
"Mia buat es kuwut, seger loh, Mbak."
Inanti menerimanya lagi. "Makasih."
"Mbak kalau butuh apa apa panggil kita aja ya, ada di bawah kok. Oh ya, Mamah juga lagi buat klepon. Nanti kalau jadi mau dianterin atau Mbak mau turun?"
"Turun aja nanti sama Mas Alan."
"Oke, Mbak. Kita turun dulu ya."
Inanti menatap heran kepergian mereka. Dia kembali masuk dan menatap makanan enak di depannya.Â
Saat Alan keluar, Inanti bertanya, "Mas, kamu gak ancam mereka dengan jual ginjal mereka kan?"
Alan mengerutkan kening, dia malah mendekati Nadia lalu bergumam, "Mama ngigau, De? Barusan tidur? Matanya horror banget."
Lalu tidak lama kemudian terdengar lagi suara ketukan, Inanti membukanya.
"Tante Rini?"
"Lagi istirahat ya, Nan? Cuma mau ngasih ini. Salak nya enak banget, manis. Di makan ya, kalau butuh apa apa panggil aja. Oh ya, ini ada goreng kulit ayam bawa Om Guntur barusan. Mau makan gak? Tante bawain ke sini. Citra lagi bikin rendang, kamu suka nggak? Kalau enggak nanti disuruh masak yang lain."
Inanti diam, dia terkejut dengan semua sikap baik yang tiba tiba.
__ADS_1
🌹🌹🌹
To be continue