Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Menembus Hujan


__ADS_3

🌹VOTEE YEE GAISSS🌹


Inanti membuka matanya, sudah hampir satu bulan dia menempati rumah barunya.


Karena setelah subuh kembali tidur, Inanti bangun saat jam enam pas. Dia mengusap pipi suaminya yang juga masih terlelap.


"Mas?"


"Hmmm?"


Alan menjawab tapi tidak juga membuka matanya.


"Mas? Mau sarapan apa?"


"Apa aja," jawab Alan dengan mata masih tertutup rapat.


Inanti tersenyum, dia memberikan ciuman di pipi suaminya sebelum beranjak dari tempat tidur.


Melihat Nadia, bayinya ternyata sudah membuka mata mencari keberadaan ibunya.


"Hallo anak cantik Mama, mau nemenin Mama masak?"


Nadia merentangkan tangannya, membuat Inanti menggendong Nadia dan membawanya ke kotak bermainnya di dekat ruang televisi yang bersebelahan dengan pintu kaca.


Inanti membuka pintu kaca karena kotak bermain Nadia yang luas memiliki pagar pembatas. Di dalamnya juga ada banyak mainan. "Dede main di sini ya. Mama mau masak dulu buat Papa."


Nadia yang seolah mengerti itu mulai mengambil beberapa mainan untuk dia mainkan.


Saat sedang memasak sarapan, Alan mencium aroma masakan yang enak. Alan keluar mencari keberadaan putrinya.


"Deee?" Tanya Alan mencari keberadaan Nadia. "Mana dede Nadia, Yank?"


"Tuh lagi maen."


"Eh, anak Papa udah bangun?"


Inanti menggelengkan kepala saat melihat suaminya yang menguyel nguyel wajah Nadia sampai bayi mereka merengek.


"Jangan digituin, Mas. Nanti nangis tuh."


"Ihhhh gemesh gemesh," ucap Alan terus melakukannya.


Inanti menghela napas dalam saat Nadia menangis kencang.


"Uhhh, anak Papa sayang. Sini Papa gendong yuk."


"Tuh kan kata aku apa, Mas."


"Soalnya kan nanti siang mau dibawa main sama Mbah Kung sama Mbah Uti nya, Yank. Jadi gak bisa berduaan sama anak kita."

__ADS_1


"Oh, jadi gak mau berduaannya sama aku aja?"


Alan yang masih mencoba menenangkan Nadia itu tersenyum, dia menimang bayinya sambil mendekat pada Inanti dan memberi ciuman di pipi istrinya. "Sayang sama kamu, Yank."


"Tau ah."


"Mama kesel, De. Tuh Mama nya marah, De," adu Alan pada bayinya. Dia kembali menggendong Nadia menuju ke halaman belakang. 


"Mas, nih sarapannya. Sini Nadia nya sama aku."


"Enggak," ucap Alan. "Kamu kalau aku kasih Nadia pasti gak makan, jadi….., nanti kalau Nadia nya udah anteng kita baru sarapan ya."


Inanti tersenyum dan membiarkan suaminya menenangkan Nadia yang masih merengek.


Saat itu terdengar suara ketukan pintu.


"Siapa, Yank?"


"Bentar aku periksa." Kening Inanti berkerut melihat di sana ada Madelle. Inanti segera membukanya. 


"Assalamualaikum."


"Waalikum  salam. Mamah kok ke sini sekarang?"


"Mau ajak Nadia sarapan di tempat baru Eyang Kung nya. Mana dia?"


"Sama Mas Alan."


"Mamah? Kok ke sini?"


"Jahat kamu, Bang. Mau ajak Nadia lah."


"Tapi Nadia belum mandi."


"Gak papa lah, emang kamu gak mandi jelek. Nadia mah gak mandi juga cantik."


Alan berdecak kesal, dan hebatnya Nadia langsung diam ketika digendong Madelle.


"Tuh, dia mah gak mau sama kamu, Bang. Bau katanya belum mandi."


"Abang udah mandi, ini liat rambutnya masih basah. Tadi subuh mandi."


"Tapikan tidur lagi, dahdiran lagi itu bibirnya."


"Mana ada dahdiran!"


Madelle berdecak. "Udah ah, Mamah mau bawa Nadia dulu ya. Besok baru dipulangin. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."

__ADS_1


🌹🌹🌹


Inanti melihat cuaca mendung, dia ingat suaminya sedang berada di mesjid untuk sholat ashar. Karena Nadia bersama Madelle dan Riganta sedang bermain, Inanti memutuskan untuk menjemput Alan.


Dengan membawa payung, Inanti keluar rumah. Dia beruntung berada di lingkungan yang baik. Banyak komunitas orang orang bercadar yang ramah dan membuat Inanti senang bertetangga.


"Assalamualaikum, Ukh. Mau ke mana?"


"Waalaikum salam," jawab Inanti saat berpapasan dengan orang di jalan. "Mau jemput suami di mesjid. Kayaknya mau hujan. Abis nganterin less?"


"Iya, Nadia juga kalau udah gede bisa di sana."


Beberapa saat mereka bercakap cakap sampai Inanti melanjutkan langkah. Ketika di pertengahan jalan, gerimis melanda, membuat Inanti membuka payung yang dibawanya dan memakai itu.


Jaraknya tidak jauh, tapi Inanti mengkhawatirkan suaminya. Berjalan satu menit saja sampai, dari rumahnya pun terlihat.


Entah apa yang dilakukan Alan hingga lama berada di mesjid. Saat datang ke sana, Inanti tidak mendapati siapa pun kecuali Alan yang baru keluar dari mesjid.


"Mas… kok lama? Ngapain aja?"


"Abis ngomong ngomong tadi sama Pak RW, aku rencana mau memperluas mesjid."


"Memperluas gimana? Kan pinggirnya itu ada perum."


"Perumnya belum ada yang beli. Jadi aku ambil."


"Ciee… bagus banget," ucap Inanti. "Kopiah kamu mana, Mas?"


"Ya Allah lupa di dalem, tunggu bentar."


Dan saat Alan masuk, hujan badai terjadi. Ada seorang ibu ibu dan anaknya berteduh di halaman mesjid. Mereka terlihat khawatir dengan keadaan. Membuat Inanti mendekat, "Permisi, Bu. Mau ke mana?"


"Ini, Neng, mau ke puskesmas keliling," jawab Ibu yang menggendong anak perempuannya.


Membuat Inanti tersenyum. "Silahkan pakai payung saya, Bu."


"Lah, Neng gimana?"


"Rumah saya deket kok, Bu. Gak papa."


Ibu itu ragu ragu menerimanya. "Makasih, Neng."


Inanti mengangguk dan melihat ibu itu menjauh.


Dan saat dia berbalik, Inanti mendapati Alan menaikan alisnya. 


"Deket ya, Yank?" Tanya Alan sambil membuka sorbannya.


Inanti terkekeh, dia mendekat dan memeluk Alan saat pria itu membentangkan sorban lalu menembus hujan bersama sama.

__ADS_1


🌹🌹🌹


TAMAT.


__ADS_2