Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Operator


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih emak vote ya anak anak kesayangan emak.🌹


🌹Jangan lupa juga ya buat follow igeh emak di @REDLILY123.🌹


🌹Selamat membaca, emak sayang kalian sekali.🌹


“Udah nih kangen kangenannya?” Tanya Oma Asih saat melihat Vanessa turun untuk sarapan. “Udah dari zaman kapan Oma nungguin kamu.”


“Abis dia gak mau tutup telpon masa, Oma. Apalagi tadi mau video call, tapi aku tolak. Orang belum mandi.”


“Bucin banget dia, tapi gak mau ngaku ya kalau dia itu kangen.”


Vanessa hanya tersenyum, begitulah sifat kekanak kanakan sang suami. Begitu seperti anak kecil, dan remaja yang baru jatuh cinta.


“Oma masak apa?”


“Masak obor.”


“Hah? Masa obor dimasak?”


“Opor maksudnya, ngerti napa, Van. Oma tuh udah tua. Giliran suami kamu aja yang kek bocah kamu ngertiin, Oma enggak.”


“Eh, kok jadi gini sih?” tanya Vanessa heran. “Maaf, Oma. Nanti kalau pengajian Oma boleh pinjem kerudung aku ya.”


Oma berdehem sebelum akhirnya mengangguk. Membuat Vanessa tertawa dan segera mendekat pada bibi pembantu. “Biar saya bantu, Bi.”


“Hati hati, Nyonya jangan angkat yang berat berat.”


“Gusti… ini cuma sayur, Bibi,” ucap Vanessa sambil tertawa.


“Ayo makan bareng, Bi,” ucap Vanessa.


“Nanti saja, Nyonya.”


“Eh apaan nanti,” ucap Oma Asih. “Sini bareng aja, lagian saya punya banyak pertanyaan.”


“Baik, Nyonya Besar.”


Karena permintaan Oma Asih adalah perintah, tidak ada yang bisa menolaknya. 


Namun saat bibi pembantu hendak duduk, dia mendengar suara telpon rumah berbunyi. Jadi dia segera datang untuk mengangkatnya. “Hallo, Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam. Bi, Vanessa udah sarapan?”

__ADS_1


“Baru aja mau, Tuan.”


“Oh iyakah? Yaudah, tolong jangan biarin dia lakuin hal hal berat ya, Bi.”


“Baik, Tuan.”


“Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam.”


Bibi pembantu itu segera kembali.


“Siapa, Bi?” tanya Oma Asih.


“Tuan Judi, Nyonya. Beliau menanyakan Nyonya Vanessa sudah sarapan apa belum.”


Oma Asih menatap malas Vanessa, sedangkan Vanessa malah tertawa tidak karuan.


“Bucin banget sih, Van.”


“Ahahaha, gak tau mesti gimana lagi.”


“Coba kerjain napa, Van.”


“Jangan diangkat seharian.”


“Nanti pulang hgak bawa duit dong?”


“Iya juga ya, jangan deh.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Saat Oma Asih sedang memakai ciput, dia kembali mendapat telpon dari Judi. Yang mana membuatnya memutar bola mata kesal. “Hallo?”


“Oma, Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam, cucu kesayangan. Ada apa?”


“Eheheh, Vanessa kemana ya?”


“Dia bilang tadi mau mandi, mau siap siap pengajian.”


“Pengajian yang di rumah samping itu?”

__ADS_1


“Iya itu.”


“Jalan kaki?” tanya Judi.


“Maunya sih terbang, tapi gak ada otak kalau jawab gitu.”


“Oma lagi galak ya? Kenapa Oma?”


Oma menarik napas dalam, yang benar saja. setiap satu jam sekali Judi terus menelpon karena khawatir dengan sang istri.


“Udah kan cuma mau nanyain itu doang?”


“Vanessa to⸻”


“Jangan angkat yang berat berat? Jangan kecapean? Iya gak akan.”


“O⸻oke,” ucap Judi yang terkejut. “Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam.”


Oma sudah selesai, dan dia ingin ke lantai atas menemui Vanessa. Oma menaiki tangga pelan, sampai si bibi pembantu melihatnya.


“Aduh Nyonya, saya ngilu litanya. Mari saya bantu.”


“Nah gitu dong, Bi.”


Si bibi mengantarkan Oma Asih sampai depan pintu kamar.


“Makasih, Bi,” ucap Oma lalu mengetuk pintu kamar Vanessa. “Van! Ini Oma!”


“Masuk, Oma.”


Oma masuk dan melihat Vanessa yang sedang berdandan. “Udah gak usah cantik cantik, wajah udah bule gitu nanti banyak yang jatuh cinta kan bahaya.”


Vanessa malah tertawa. “Orang yang ada di sana Cuma ustadz, udah tua juga.”


“Jangan salah, si Judi mau yang tua atau yang muda kalau udah cemburu dia gak bisa liat apa apa.”


Vanessa malah tertawa mendengarnya.


Dan ketika Oma baru saja duduk, ponselnya kembali berbunyi. Membuat Oma menarik napas dalam kemudian mengangkatnya saat tahu itu dari Judi. “Assalamualaikum, Jud? Kamu itu pergi ke luar kota buat sidang atau lagi magang jadi operator hah?”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2