Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Sebuah Ujian


__ADS_3

🌹VOTEE YHEE GHAISS🌹


"Bu, gimana ini? Dia gak mau ke rumah sakit."


"Telpon si Judi," ucap Oma Asih yang sedang bermain catur dengan salah satu pelayannya.


Tante Metry sedikit kesal, pasalnya Oma Asih terlihat tidak peduli dengan kesehatan Vanessa yang sekarang kembali memucat. Wajahnya seperti tidak bernyawa, dan dia terlihat menahan sakit.


"Ibu kok malah maen catur sih?"


"Kamu kan tau, Metry. Kalau Ibu lagi berfikir ya harus maen catur. Ibu tuh bingung harus ngapain lagi. Udah telpon Judi, suruh dia perintahin istrinya keluar."


Tante Metry menghela napas, dia melakukannya. Menelpon Judi sambil naik ke lantai dua.


"Hallo, Assalamualaikum, Tan. Kenapa?"


"Waalaikum salam. Jud, Vanessa sakit, tapi dia gak mau ke dokter. Kamu bujuk ya."


"Sakit apa, Tan?" Tanya Judi terdengar panik.


Tante Metry bingung. "Tante juga gak tau dia sakit apa, tapi kayak nahan sakit perut gitu. Makannya harus dibawa ke dokter biar tau. Kamu bujuk ya."


"Iya, Tan. Tolong kasih kantong air panas dulu ya, biar mendingan. Sekarang aku telpon."


"Iya ini juga mau kasih ini. Telpon sekarang ya, Jud. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Tante Metry mengetuk pintu kamar Vanessa sebelum masuk. "Van? Udah mendingan?"


"Udah, Tan."


"Jangan bohong kamu, Van. Tante liat kamu masih kesakitan gitu pegang perut," ucap Tante Vanessa memberikan kantung air panas.


Vanessa segera memasukannya ke dalam pakaian.


"Makasih, Tan."


"Ke dokter ayok."


"Enggak ah, ini maag paling juga."


"Mana ada maag kesakitan gitu. Kamu jangan nahan sakit, Van."


"Enggak kok, Tan. Aku ba--"


Kalimat Vanessa terpotong saat mendengar ponselny berbunyi.


Tahu itu dari Judi, Tante Metry segera berdiri. "Tante keluar dulu ya bawa jamu, nanti kalau ada apa apa panggil aja."

__ADS_1


"Oke, Tan."


Setelah pintu tertutup, baru Vanessa mengangkatnya. "Hallo Assalamualaikum, Mas. Kenapa?"


"Waalaikum salam, kamu sakit?"


"Maag aja, sama cape semalem bikin kue sama Tante Metry."


"Periksa ke dokter ya sama Tante Metry."


Vanessa ragu dengan perintah suaminya. "Ke luar rumah?"


"Iya, Tante Metry yang anter. Aku udah minta kok sama dia, jangan rewel, Jah."


Vanessa mendengus, dirinya masih menjadi Ijah. "Tapikan….."


"Masih mau jadi Ijah?"


"Iya deh iya," ucap Vanessa menarik napas dalam. "Aku pergi, gak papa?"


"Iya sama Tante Metry nanti."


"Tapi kalau pulang beliin oleh oleh yang banyak, terus beli sprei baru ya yang warnanya gelap. Di sini putih semua, kan kita mau wik wik."


Di sana Judi berdehem.


"Iya."


"Kita jadi kan?"


"Apaan?"


"Wik wik lah, apalagi? Jadi kan?"


"Iya, Ijah."


"Aseeeekkk."


🌹🌹🌹🌹


Tidak seperti perkiraan Vanessa, ternyata dari rumah Oma Asih menuju ke pusat kota lumayan jauh. Vanessa ingat dirinya tidur saat dalam perjalanan ke rumah Oma Asih untuk pertama kalinya.


Karena Vanessa masih meringis kesakitan, Tante Metry meminta supir untuk ke klinik dokter terdekat. 


"Kok gak ke rumah sakit, Tan?"


"Ini dokter bagus kok, rumah sakit masih agak jauhan. Yuk."


Tante Metry menuntun Vanessa keluar, dia dengan sabar membantu keponakannya melangkah.

__ADS_1


Dan saat masuk ke dalam klinik, Tante Metry meng-handle semuanya.


Meskipun para perawat itu berbicara bahasa Inggris sebelumnya, Vanessa tidak menjawab. Dia terlalu fokus dengan rasa sakitnya hingga para perawat bicara bahasa Belanda dengan Tante Metry yang bicara.


Saat duduk menunggu, Tante Metry melihat pada Vanessa yang sepertinya sudah membaik. "Baikan?"


"Lumayan, Tan."


"Gak sakit lagi?"


"Enggak, cuma cenat cenut aja sih. Tapi Vanessa mau minta tolong."


"Minta tolong apaan? Segala ada pendahuluan aja, tinggal ngomong."


"Tante yang ngomong ya, aku males ngomong Inggris. Tante terjemahin aja."


"Yaela gitu aja? Iya nanti Tante bantu."


Seperti perkataannya, saat masuk ke dalam Tante Vanessa menjelaskan apa yang dirasakan keponakannya sesuai ucapan Vanessa.


"Dia minta periksa kamu, Van."


Vanessa berdiri dan diperiksa. Pemeriksaan yang cukup panjang hingga akhirnya menuntun pada penjelasan yang panjang pula.


Rasa sakit yang kembali terasa membuat Vanessa malas mendengarkan. Tapi yang dia lihat Tante Metry terlihat terkejut, ketakutan dan putus asa. Percakapan Bahasa Belanda antara Tante Metry dan dokter membuat Vanessa bingung.


Ketika keluar, baru Vanessa bertanya. "Kenapa katanya, Tan? Yang simple aja, jangan panjang kayak dokter tadi."


Tante Metry masih diam.


"Tan? Aku kenapa?"


"Ambil obat dulu yuk," ucap Tante Metry, dia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Tante? Aku harus tau dulu, aku kenapa?"


"Kata dokter rasa sakitnya bukan masalah kok."


"Terus? Kenapa wajah tante syok gitu? Sakit ini karena maag?"


"Nanti juga ilang, ini nggak selamanya.'


"Iya, tapi penyebabnya apa?"


Tante Metry menelan ludahnya kasar, dia tidak bisa menyembunyikam fakta ini selamanya. "Van, ada masalah sama rahim kamu."


🌹🌹🌹


TBC

__ADS_1


__ADS_2