
🌹VOTE YA GAISSS… AJAK YANG LAIN BACA INI JUGA YAAKK🌹
Sambil memasak makan malam, Inanti menatap Alan yang sedang bermain bersama Nadia. Bukan hanya bermain, Alan juga memandikannya di beranda balkon yang luas.Â
Alan membeli kolam anak, di mana dia bisa membuat Nadia berenang di sana menggunakan pelampung leher.
"Mas, itu gak bakalan pegel lehernya?"
"Enggak, Yank. Sengaja biar Nadia pinter renang," ucap Alan degan manik terpaku pada bayinya.
Dia berenang dengan sangat riang, Nadia tertawa berulang kali merasa air cipratan mengenai wajahnya.
Melihat itu, Inanti ikut senang dan bahagia.
"De…. Besok Papa berangkat, dede jangan nakal ya di rumah. Jagain Mama biar gak kangen sama Papa."
Dan tanpa disadari, kalimat itu membuat Inanti sedih dan mengingatkan Alan akan meninggalkannya.
Dengan mencoba menahan tangis, Inanti bertanya, "Besok jam berapa, Mas?"
"Pagi, Yank. Jam sepuluhan lah biar oke."
"Itumah siang masuknya, Mas."
"Iya siang deh."
"Sama Karl?"
"Iya, Sama Andria juga sama Rizki. Oh ya, Yank. Mereka mau nengok ke sini liat Nadia katanya besok sebelum ke bandara. Boleh?"
Kening Inanti berkerut. "Mereka temen kamu, masa aku larang."
Akhirnya Alan menengok ke arah istrinya. "Gak papa? Kamu gak papa?"
"Enggak, kalau mau mah ke sini aja. Asal niatnya baik, gak macem macem."
"Aku masih nyimpen basoka di saku celana kok kalau mereka macam macam."
"Terserah kamu deh," ucap Inanti fokus pada masakannya, yang mana membuat Alan terkekeh.
Alan kembali fokus pada Nadia di sana. "Udahh yukkk… Papa pilihin bajunya yuuuu, yang mahal."
Merasa disindir, Inanti berucap, "Iya pilihin aja sama Papa, yang ada tambang emasnya sekalian."
"Ha ha ha, baper amat, Neng."Â
Nadia tertawa di sana. "Eh, Anak Papa ketawa. Mama lucu ya, De? Yuk ah udah, nanti Papa gendong dede yuk."
Saat hendak dibawa, Nadia merenggut tidak mau.
"Gimana ini, Yank? Gak mau keluar dia."
"Kan….. aku bilang apa. Renangnya pagi aja."
"Ini gimana, Yank?"
"Bujuk lah, kan kamu ahlinya."
"Tau aja sih, Cantik."
__ADS_1
Alan kembali mencoba menggendong Nadia yang menangis.
"Yank….," keluh Alan kesulitan.
"Paksa aja, Mas. Takut masuk angin kalau nurutin kemauannya."
Alan menarik napas dalam sebelum membawa Nadia keluar.
Lalu…. Jeritan terdengar seketika, bayi Nadia menangis kencang. "Tuuuutttt… ada kereta, De! Liat… huaaaaa ayo digendong Papa… ha ha ha."
Inanti menggeleng tidak percaya, suaminya menjadi orang gila baru saat bersama anak mereka.
"Ya ampun."
🌹🌹🌹
"Nan, udah ada minyaknya?" Tanya Madelle dari balik telpon.
"Ada, Mah, makasih ya."
"Iya, diurut ya biar uratnya gak murengkel lagi."
"Iya, Mah."
"Abang ngapain?"
"Lagi nidurin Nadia, Mah."
"Oh ya udah atuh, Mamah mau sholat isya dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Inanti terkejut saat melihat Alan yang sedang memegang botol minyak.
"Ini dari Mamah, Yank? Yang buat pijat dada kamu."
"Simpen dulu, Mas. Nanti aja dipakenya."
"Sekarang aja," ucap Alan dengan raut wajah tengil. "Aku yang pakein."
Wajah Inanti memerah membayangkannya.
"Cieee… mukanya merah. Ngebayangin ya? Pasti suka geli gitu ya, Yank?"
"Ih apaan sih! Enggak, apain ngebayangin gitu," ucapnya enggan mengaku.
"Udah ngaku aja, Yank. Tapi pelan aja ya, takut kamu geli tar bangunin Nadia."
"Mas ih enggak gitu," ucap Inanti segera mengalihkan perhatian dengan menengok Nadia.
Dia membelakangi Alan, sampai Inanti sadar tidak ada lagi suara suaminya.
"Mas?"
"Di sini, Yank."
Inanti mendekat ke asal suara. Alan ada di walk in closet sedang berkemas.
Hal itu membuat jantung Inanti berdetak kencang tanpa alasan. "Aku udah siapin baju kamu, Mas."
__ADS_1
"Enggak, ini aksesorisnya lupa, Yank."
"Apa lagi?" Inanti ikut membatu berkemas.
"Udah kali, gak cukup ini."
"Mau cukup gimana, orang kamu susunnya gak bener, Mas," ucap Inanti kembali membongkarnya. "Gini nih."
"Duh…. Untung punya bini terampil, baik, cantik, bisaan bikin anak lagi. Iya kan, Yank."
Inanti hanya diam, dia menahan semua ledakan emosi yang membuatnya menangis. Besok tidak ada lagi pria tengil di depannya yang selalu memanjakannya.
Karena bagaimana pun, Alan selalu membuat Inanti bahagia dengan caranya sendiri, memberikan warna hidup baru.
Dan Inanti belum puas berduaan dengan Alan. Dia belum membicarakan perihal ayahnya, tentang Vanessa dan juga masa depan mereka. Inanti masih ingin Alan di sini.
"Yank?" Tanya Alan saat sadar istrinya berbeda. "Kenapa? Mau aku peluk."
"Berapa lama di sana?"
"Belum tentu, Yank. Kita liat pasar dulu."
"Mau masar di sana? Di sini juga ada pasar."
"Bukan gitu maksudnya, Sayangku. Aduhhh…, perlu ya belajar lagi? Belajar bikin anak aja belum kelar."
Dan diamnya Inanti sebagai jawaban ketengilannya membuat Alan heran.
"Yank? Kenapa sih?"
Dan saat memasukan jam ke dalam tas, Inanti meneteskan air mata.
"Loh loh, kok nangis? Yank? Kenapa? Tadi pagi karena Delisa?"
"Kamu tau?" Tanya Inanti dengan suara serak.
"Iya? Karena dia?"
"Bukan ih."
"Terus kenapa? Udah jangan nangis. Cerita sama aku, kenapa? Kamu sakit? Apa gimana ini? Yank?"
Dan lama Inanti terdiam sampai akhirnya berkata, "Jangan lama lama di sana."
Saat itulah Alan sadar apa yang terjadi. Dia segera membawa istrinya ke dalam pelukan. "Gak papa, Sayang. Aku bentar kok di sana. Langsung pulang lagi ke sini."
Tangisan Inanti terisak di dada suaminya, dia diam, hanya tangisnya yang terdengar.
"Udah sholat isya belum?"
Inanti menggeleng.
"Sholat yuk, aku yang imamin kamu," ucap Alan mencium puncak kepala istrinya. "Udah jangan nangis."
Inanti masih diam.
"Abis itu aku ngaji buat kamu ya, biar tidurnya nyenyak. Mau?"
🌹🌹🌹
__ADS_1
TBC