Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Penenang


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih vote emak sebelum membaca ya anak anak kesayangan emak.🌹


🌹Jangan lupa juga follow igeh emak di : @RedLily123.🌹


🌹Emak sayang kalian, selamat membaca ya kesayangan emak.🌹


🌹Karena tanpa kalian, emak hanya remahan renginang. Jadi, terima kasih sudah mau membaca karya receh emak ini ya.🌹


Judi menarik napas dalam merasa bersalah malah membuat istrinya yang bekerja, kini Vanessa sedang memasak sedangkan dirinya duduk di ujung sofa seperti anak yang sedang dikenakan hukuman.


“Sayang,” panggil Judi. “Apa perlu bantuan?”


“Tidak usah, ini akan segera selesai kok, Mas.”


Judi kembali cemberut. “Maaf ya, panci pink kamu jadi bolong.”


“Ganti, Judi. Gak usah minta maaf, ganti aja,” ucap Oma Asih yang ikut memasak membantu Vanessa.


Apalagi Judi tiba tiba ngidam ingin makan dengan sayur asem, semur ayam dan sayur lodeh. Yang mana membuat Oma malah bekerja semakin ekstra.


“Iya kok nanti mau diganti. Kita jalan berdua ya Sayang ya?”


Vanessa hanya mengangguk mendengar perdebatan keduanya.


“Lagian kamu aneh, Jud. Mau makan sayur lodeh sama sayur asem ini gimana ceritanya hah?”


“Nanti uang jajan Oma aku tambah kok.”


Oma Asih berdehem, seketika dia diam karena kalimat itu. “Mau nambah makan apa lagi?”


Judi tersenyum, merayu Oma Asih sangatlah mudah. Namun, merayu istrinya jauh lebih sulit. Yang mana membuat Judi berniat untuk ke atas untuk mengambil ponselnya dan melakukan pencarian di internet.


“Kamu mau kemana, Mas?”


“Ke atas sebentar kok.”

__ADS_1


Judi berlari menaiki tangga, dia melakukan pencarian di internet bagaimana cara menyenangkan sang istri. Di sana ada terdapat banyak pilihan seperti membelikan baju, berbelanja, perhiasan dan liburan.


Namun, setahu Judi hal itu tidak terlalu menyenangkan bagi istrinya. Perhiasan, pakaian dan liburan tidak manjur. Beberapa kali Judi melihat raut wajah Vanessa yang biasa saja, hanya tersenyum seperti biasa.


“Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya apalagi tadi melihat sang istri sepertinya cuek pada dirinya.


Ketika sedang melakukan pencarian, Judi mendapatkan pesan dari Mile yang memberi tahu kalau ada masalah di beberapa showroom miliknya. Ada sengketa keluarga yang membuat tempat usahanya terbawa bawa.


Judi segera menelpon Mile saat itu juga.


“Hallo, Tuan?”


“Mile, jangan bilang kita harus pergi ke luar kota besok.”


“Eum? Baiklah saya tidak akan mengatakannya.”


Judi memejamkan mata. “Apa yang harus kita lakukan?”


“Anda harus pergi keluar kota besok.”


Judi menangkapnya, dia melihat ada kesedihan di wajah istrinya. Saat makan, dia lebih banyak melamun dan bahkan tidak memperhatikan Judi yang memakan sayur lodeh dan sayur asem yang disatukan.


“Gimana rasanya, Jud?”


Sebenarnya rasanya aneh, tapi Judi tidak merasakannya. Dia hanya menatap istrinya. “Enak kok, Oma.”


“Besok mau Oma buatin tumis kangkung sama tumis genjer biar dikasih uang jajan lebih?”


“Gak usah gak usah,” ucap Judi masih focus pada sang istri.


Dan saat itulah Vanessa menyudahi kegiatan makannya. “Aku udah kenyang, Mas.”


“Yang cuci piring biar aku aja,” ucap judi menahan tangan sang istri saat akan membawa bekas makannya. “Aku janji gak akan ditinggal naik haji lagi kok.”


Vanessa tertawa, tapi tidak selepas biasanya. “Yakin nih?”

__ADS_1


“Iya, sayang. Serius biar aku aja. Kamu sana istirahat naik.”


“Iya, Van. Biar Judi aja.”


“Yaudah, nanti nyusul ya.”


Judi mengangguk, dia menatap istrinya yang menjauh. Dan saat mulai menghilang saat naik ke atas tangga, baru Judi bertanya pada Oma. “Vanessa kenapa, Oma? Kok keliatan sedih gitu?”


“Dia tadi ketemu sama temennya yang namanya Delisa.”


Seketika Judi paham, apalagi temannya itu pernah membawa dampak buruk baginya. Dan sekarang Judi merasa khawatir, apalagi istrinya sedang mengandung. “Dia gak ngomong yang aneh aneh kan, Oma?”


“Dia bikin Vanessa gak nyaman.”


Setelah mendengar itu, setelah makan Judi langsung membereskannya dan naik ke lantai atas. Dan di sana dia melihat istrinya yang sedang berbaring memunggungi, tapi Judi tahu kalau istrinya itu tidak tertidur.


Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Mereka memang makan malam agak telat karena insiden bubur.


Judi berdiam sejenak sebelum pergi ke kamar mandi, dia mengambil air wudhu dahulu sebelum memegang al-Quran kemudian naik ke atas ranjang.


“Sayang… sini tidur di pangkuan aku.”


Vanessa menoleh setelah menyeka air mata supaya suaminya tidak melihat.


“Sini tidur di sini.”


Vanessa tersenyum, dia melakukannya.


Dan saat suaminya mulai membaca ayat suci al-Quran, air mata Vanessa mulai menetes. Judi sadar akan tangisan penuh kediaman istrinya, dia segera mengusap kepala sang istri untuk menengkannya.


Malam itu, yang Vanessa dengar hanyalah suara angina dan lantunan halus yang menenagkan dari sang suami, serta usapan penuh kasih sayang.


Dirinya tidak perlu uang berlimpah, perhiasan dan juga liburan. Vanessa hanya membutuhkan imam yang bisa membawanya ke jannah, yang bisa menenagkan.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2