
🌹VOTE YA GAIS🌹
🌹IG MAMA ADALAH : @RedLily123🌹
"Yank, aku berangkat nih," ucap Alan yang sudah siap dengan pakaiannya. Dia hendak pergi ke kantor. "Yank….?"
"Bentar, Mas," ucap Inanti yang memberi sentuhan akhir di masakannya untuk sarapan sang suami.
Alan yang menunggu Inanti memakaikan dasi untuknya memilih keluar dari kamar dan mendekati Nadia yang sedang berjemur. "Aduuhhhh… anak Papa pake kaos sama diapers doang, anget ya, De?"
Nadia yang tertidur dengan memakai penutup mata itu semakin pulas, apalagi sambil dijemur di bawah sinar matahari pagi yang menghangatkan tubuh.
"Utuk utuk utuk anak Papa cantik paripurna mirip Papa. Sun dulu, De. Muachhhh! Kena pipinya! Lagi, De. Muachhh! Kena lagi."
Inanti menggeleng menatap heran, orang orang sekeren apa pun akan bertingkah konyol.
"Sarapan dulu, Mas. Nanti aku pakein dasi."
"Bentar, Nadia mau deket mulu sama Papa nya."
"Mana ada, itu kamu yang mau deketan sama dia terus."
"Iri aja punya bini," gumam Alan dengan ketengilannya, dia berdiri. "Sini peluk dulu dong, biar gak iri lagi."
"Ih gak mau."
"Kok gak mau?" Alan heran dengan wajah tengil. "Oh, gak mau peluk? Maunya kuda kudaan aja nih?"
"Enggak, Mas. Kamu udah wangi, tar pelukan bau bawang mau. Nanti kamu disangka makan di warung nasi, mau?"
"Kalau tukang dagangnya kamu mah mau aja kalau aku sih."
"Enggak ada begituan, udah makan sini."
"Muachhh," ucap Alan mencium lewat udara. "Tanggkep dong, Yank, itu ciumannya."
Inanti yang malas, dia berlagak seolah mengambil sesuatu dari udara kemudian memasukannya ke dalam saku.
"Kok di sakuin, Yank?"
"Buat nanti kalau kangen," ucap Inanti menirukan suara Alan bahkan gayanya.Â
Niatnya hanya mengejek supaya suaminya tau betapa menyebalkannya hal itu. Namun, Alan menyalahartikan. Dia mengira Inanti sangat mendambakannya. "Cieee… yang kangen suami. Sini atuh, peluk aja sini. Dicium juga aku ridho, Yank. Atau aku gak ke kantor aja ya? Main kuda kudaan mau?"
"Ih… apasih, Mas. Udah jangan aneh aneh deh kamu. Sarapan, kerja, cari duit yang banyak terus setor."
"Kiss dong."
Inanti tahu hal ini tidak akan berakhir sebelum mencium suaminya. Inanti mendekat dan mengecup bibir Alan.
CUP.
"Tuh udah, jang-- hmmpph!"
Alan malah kembali membungkamnya dengan ciuman. Saat terlepas, Inanti memukul dada suaminya. "Tuh! Kamu mah gitu!"
__ADS_1
"Kan kangen udah beberapa hari gak makan jatah, Yank."
"Masih kapok."
"Sekali nanti mah," ucap Alan membujuk.Â
Memang napsunya tidak terkendali saat bersama Inanti. Bukan hanya karena Inanti adalah wanita pertama, tapi juga karena dia sangat mencintainya.
"Nanti malem kuda kudaan ya."
"Vulgaaar ih! Jangan kuda kudaan napa."
"Sunah rosul atuh. Ya? Nanti malem ya?"
"Liat nanti aja," ucap Inanti menuangkan nasi.
"Kok gitu? Aku besok ke Jambi loh."
"Gak masalah buat aku."
"Yakin, Yank? Liat aja. Kamu bakal klepek klepek kekurangan oksigen karena aku gak ada."
🌹🌹🌹
Keseharian Inanti saat ini seperti ini, dia mengurus rumah dan merawat diri untuk suaminya.
Besok Alan akan berangkat, Inanti akan merindukannya. Dia tau betul hal itu akan terjadi.
Semua akan berubah, dan Inanti harap rasa sayang Alan padanya tidak. Tidak ada yang abadi di dunia, sekalipun itu perasaan. Cinta bisa jadi benci, dan benci jadi cinta. Allah maha membolak balikan perasaan, dan hanya kepadanya Inanti meminta.
Selesai mengaji, Inanti menutup al-Quran. Dia tidak melepas mukena, melainkan malah tiduran di samping Nadia yang sengaja ditidurkan di karpet.Â
Nadia tersenyum, tangannya terangkat seolah ingin memegang wajah ibunya. Inanti mendekatkannya. "Dede nanti kalau udah gede Mama ajarin ngaji, oke?"
Nadia tersenyum lebar sampai mulutnya mengeluarkan liur, yang mana membuatnya tertawa.
"Bi Idah?"
"Iya, Bu?" Bi Idah masuk. "Ada apa, Bu?"
"Bibi lagi ngapain?"
"Ngurus kebun, Ibu mau apa?"
"Kalau udah selesai bikinin es madu ya, Bi. Buat bibi juga bikin."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Di cuaca yang panas ini, Inanti ingin sesuatu yang segar. Dia mengambil ponsel saat berdering. Itu dari Madelle.
"Hallo, Assalamualaikum, Mah?"
"Waalaikum salam. Nan, minggu depan kita mulai kan?"
"Iya, Mah. Sorean kan?"
__ADS_1
"Iya. Mamah udah bilang sama bapaknya Alan, jadi nanti bisa kita belanja dulu."
"Iya, Mah."
"Lagi ngapain sekarang?"
"Abis ngaji mau nyantai dulu, Mah."
"Udah makan?"
"Udah, Mah. Tadi Inan masak goreng cumi."
"Nanti sore ada kurir ke sana kirim minyak bubut. Itu bagus banget, Nan. Mamah yang bikin. Kan katanya kalau enenin Nadia suka sakit, pijit pijit biar enakan. Mamah juga dulu pake itu."
"Diurut pinggirnya, Mah?"
"Iya, Mamah tulis kok cara penggunaannya."
Inanti sangat terharu. "Makasih, Mamah."
"Hehe Mamah juga mau sholat dhuha dulu deh. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Inanti memejamkan mata, dia menarik napas merasa bahagia memiliki mertua yang sangat baik.
"Bu?"
"Simpan di luar aja, Bi. Saya mau nonton TV di luar."
"Bukan, Bu. Itu ada tamu."
Inanti mengerutkan kening. "Siapa, Bi?"
"Non Delisa."
Inanti terkejut. "Udah masuk?"
"Belum, Bu."
Inanti membuka mukena, dia memakai pashmina kemudian keluar.
Awalnya ragu, Inanti diam sebentar menatap layar monitor yang memperlihatkan Delisa menekan bel di sana.
Inanti membukanya, dia datang ke arah pintu.
"Ada apa, Kak?"
Dan yang mengejutkan lagi, Inanti tidak melihat wajah sombong Delisa. Yang ada hanya air mata di pelupuk mata.
"Gue mau minta maaf sama lu. Tolong bilangin sama Alan jangan buat gue turun jabatan."
"Hah?" Inanti tidak mengerti.
Yang mana membuat Delisa menangis. "Alan yang punya saham paling gede. Dia adain rapat buat nurunin jabatan gue. Pliss, Nan, maafin gue. Gue tau gue salah."
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC.