Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Petuah yang dipertanyakan


__ADS_3

🌹VOTEEE YEEE GAIS🌹


"Mas?"


"Hmmm?" Alan yang memejamkan mata sambil memeluk Inanti dan menyandarkan kepala di dada istrinya. Dia sangat nyaman melakukannya. Mendengarkan degub jantung istrinya yang membuatnya tenang.


"Mas? Aku mau mandi."


"Nanti aja, Yank."


Tangan Inanti terangkat mengusap rambut suaminya yang acak acakan. "Rambut kamu panjangan, gak mau dipotong gituh?"


"Suka yang gondrong gak?"


"Enggak ah, kayak dulu aja ya."


Alan diam, pikir Inanti suaminya suka rambut yang gondrong. "Mas suka rambut panjang?"


"Suka, kalau itu punya kamu."


"Ish." Inanti kesal. "Nanti ini dipotong kan?"


"Iyalah, biar disayang istri."


Dan di saat moment seperti ini, Inanti rasa sangat cocok untuk berbagi cerita tentang ayahnya yang dipenjara karena mencuri untuknya.


"Mas?"


"Iya, Sayang?" 


Sambil mengusap rambut Alan, Inanti berkata, "Mas… ayah aku dipenjara lagi."


Alan diam sesaat, pasalnya dia janji pada ayahnya Inanti tidak akan memberitahu keberadaannya. Mertuanya itu sangat malu menghadapi putrinya, apalagi dia sudah bahagia. Dia menyesal telah menjauhkan Inanti dari suaminya dulu, dia menyesal telah mengambil keputusan sepihak dan malah membawa petaka.


"Katanya karena dia maling lagi," lanjut Inanti. "Tapi aku belum tau dia di mana, Ayah gak mau aku tahu. Padahal seharusnya gak boleh gitu 'kan Mas?"


Kini Alan menjauhkan pelukannya, dia mensejajarkan kepala dengan istrinya lalu mengusap pipi istrinya. 


Air mata Inanti berlinang mengingat kejadian itu, ayaynya memang pernah jahat padanya, tapi dia juga menyesali perbuatannya seperti Alan.


"Seharusnya gak gituh. Pasti Ayah kesepian, gak ada yang berkunjung ke sana, memberinya semangat. Kenapa dia gitu ya, Mas?"


"Dia bilang dia malu sama kamu, Nan."


"Huh?" Inanti membalas tatapan suaminya. "Mas ketemu sama ayah aku?"


"Aku cari kamu ke mana mana, sampai aku dapet berita dia dimana."


Kalimat Alan itu membuat Inanti terkejut. Inanti ingin marah karena Alan tidak memberitahunya, tapi Inanti yakin ada alasannya.


"Kenapa Mas gak ngasih tau aku?"


Alan bingung.


"Mas!"

__ADS_1


"Nan, dia minta sama aku buat rahasiain ini dari kamu."


"Tapi seharusnya kamu bilang dong sama aku," ucap Inanti dengan air matanya yang berlinang. "Seenggaknya kamu bilang sama aku."


"Yank…. Tunggu dulu," ucap Alan saat Inanti hendak pergi. "Aku janji sama dia buat gak kasih tau kamu. Dan sekarang aku lagi berusaha buat bebasin ayah kamu, Sayang. Sidangnya masih berlangsung."


Inanti diam, dia bertanya dengan suara pelan. "Kamu bantu dia?"


"Iyalah, dia mertua aku, ayah dari istri tercinta aku juga. Kenapa aku gak bantu? Cuma aku gak bisa kasih tau dia dimana, amanatnya gitu, Sayang. Maaf."


Inanti menarik napas dalam, dia kembali memeluk Alan. 


"Jangan marah ya, Sayang. Iya aku salah."


Inanti menggeleng. "Maaf marah marah, abis kesel," gumamnya.


Alan terkekeh. "Lagi PMS ya?"


Dan saat itulah Inanti sadar, sebulan kemarin dia tidak haid.


🌹🌹🌹


Inanti menatap suaminya yang bermain dengan putrinya. Beberapa kali Alan tertawa.


"Yank, liat Yank. Udah guling guling tengkurap."


"Lah, emang."


"Kok kamu gak bilang sama aku?" Tanya Alan sedikit kesal.


"Kan biar kejutan ya, De."


Nadia tertawa, dia mulai bisa merespon lawan bicara. "Kayaknya udah gedenya cerewed kayak kamu deh, Yank."


"Siapa yang cerewed?"


Alan malah terkekeh tengil, dia berguling guling bersama bayinya.


Berbeda dengan Inanti yang membongkar koper. Ada tiga koper di sana, berbagai isian seperti baju dan oleh oleh.


"Ini yang di tas ijo buat Mamah sama Papah?"


"Iya, Yank. Kalau koper abu itu baju kotor semua."


"Haduhhh, melaundry," gumam Inanti yang didengar Alan.


"Tenang, Yank, nanti aku sawer pake duit, Mau?"


"Yang angka nol nya banyak."


"Asiaaaapp ya, De. Sun Papa sini."


Inanti tersenyum melihat kebersamaan ayah dan anak yang saling tertawa, dan bicara seolah mereka tahu apa yang dibicarakan.


Banyak sekali barang bawaan Alan. Yang pertama Inanti membereskan baju kotor sebelum membuka oleh oleh.

__ADS_1


Dia membawa sekeranjang besar cucian.


"Butuh bantuan gak?" Tawar Alan.


"Enggak, Mas."


"Duhhh… wonder women nya Mas Alan. Kuat banget."


"Halah, angkat galon aku bisa tuh."


"Wow, hulk banget si sayang."


Inanti berdecak, dia mengangkat keranjang itu ke bagian belakang untuk dicuci.


Karena Nadia ada yang mengasuh, Inanti mencucinya sekarang, mumpung panas.


"Yank…." Alan menyusul sambil menggendong Nadia.


"Ya?"


"Besok aja dicucinya sama Bi Idah."


"Gak papa, mumpung panas tau."


"Tar kecapean dong buat nanti malam."


"Nanti malam apaan?" Tanya Inanti heran.


Pertanyaan itu membuat Alan mengerucutkan bibir. "Masa gak peka ya, De? Gak kangen gitu sebulan?"


"Kamu baru juga nyampe."


"Besok gak ngantor kok."


Inanti menengok, dia menatap Alan yang memelas.


"Yang kotor udah ini doang?"


"Udah, Yank."


"Tupperware mana?"


Saat itulah Alan menperlihatkan ekspresi melongo, lupa pertanyaan yang akan meledakannya muncul juga.


"Mas?"


"Iya?"


"Bekas pie mana?"


"Di kantong itu."


Inanti memeriksa kantong yang ada di meja. "Kok ini tutupnya doang? Box nya mana? Kamu gak makan sama box nya kan, Mas?"


"Enggak, itu….. ehe he he."

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC


__ADS_2