Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Ramalan


__ADS_3

🌹Vote ya ghaissss🌹


🌹Jangan lupa follow ige emak yaaa : @Redlily123🌹


Wajahnya terlihat tenang, seolah semuanya baik baik saja. Itulah yang Vanessa lakukan sekarang, dia membiarkan semuanya mengalir begitu saja tanpa memaksa. Jika ini memang keadaannya, maka dia akan terima dan menaklukannya selagi mampu.


Vanessa jalan jalan di sekitaran perkampungan belakang kantor polisi supaya dia dekat dengan ayahnya. Melihat lihat perkampungan di sana memang membuat Vanessa menelan ludahnya kasar, ini sangat kumuh. Apalagi saat berjalan semakin jauh, membuat Vanessa sendiri begidik malas.


Ada banyak rumah rumah bertuliskan dikontrakan, tapi tidak membuat Vanessa tertarik. Bukan karena jelek, tapi lingkungannya membuat Vanessa tidak nyaman. 


Dia terus berjalan melangkah lebih dalam lagi dimana mulai jarang rumah dan lebih sepi. 


Hingga akhirnya matanya menatap ada rumah dengan pohon besar di sampingnya memiliki tulisan dikontrakan. Melihat lingkungan sekeliling sangat kondusif, setiap rumah di sekitarnya berjarak kira kira dua puluh meteran. 


Dengan banyak pepohonan di sekitarnya, membuat rumah itu terlihat teduh. Karena tidak ada tulisan kontak yang bisa dihubungi meyakinkan Vanessa kalau ada seseorang di dalam sana.


Membuat Vanessa datang dan mengetuk pintunya, dia berdehem dengan mempersiapkan senyuman terbaik. 


Dan keluarlah seorang nenek tua bertubuh gemuk dengan kacamata yang hendak dia pakai.


“Assalamualaikum, Nek,” ucap Vanessa saat melihat nenek itu memakai kerudung yang meyakinkannya kalau dia adalah muslim.


“Waalikum salam, Neng, ada apa? Mari masuk.”


Vanessa masuk, dia melihat keadaan rumah untuk yang pertama kalinya sangatlah bersih.


“Sebentar ya.”


“Gak usah ambil minum, Nek, duduk saja.”


Vanessa sedikit ngeri dengan keadaan tubuhnya yang sudah tua renta melebihi Oma Asih. Melihatnya mengingatkan pada Oma Asih kembali, dia menarik napas dalam.


“Ada keperluan apa?”


“Oh iya, kenalkan saya Vanessa.”


“Panessa?”


“Vanessa, Nek. Pake huruf V.”


“Iya, Panessa.”


Vanessa menggeleng malas menanggapi, dia kembali tersenyum. “Iya, saya lihat di depan ada tulisan di kontrakan. Saya mau tanya tanya perihal itu, Nek.”


“Oh boleh,” ucap nenek tua itu. “Apa yang ingin ditanyakan?”

__ADS_1


“Mungkin nenek bisa menjelaskannya bagaimana jika saya mengontrak di sini?”


“Jika neng mengontrak di sini maka Neng akan tidur di rumah ini.”


Vanessa terkejut. “Maksudnya fasilitasnya, harganya dan yang lainnya, Nek.”


“Harganya murah, hanya 500 ribu perbulan. Tapi nenek juga tinggal di sini. Sebenarnya nenek tidak punya penghasilan, jadi nenek ingin menyewakan salah satu kamar di sini.”


“Ah, jadi rumahnya terbagi dua?”


Nenek itu mengangguk, ini sebabnya para pengontrak jarang ada yang mau apalagi berdua dengan nenek tua seperti ini.


Untuk Vanessa sendiri tidak masalah, dia hanya butuh tempat berlindung. Lagipula tempat ini bersih. “Nenek tidak punya anak?”


“Ada di Kalimantan, tapi sudah tidak berkomunikasi.”


“Oh iya, kalau sehari hari biasanya nenek dari mana makan?”


“Nenek jualan sayuran yang nenek tanam di belakang.”


Vanessa semakin suka, nenek ini bisa membantunya juga. “Ini KTP saya, Nek.”


“Nenek kesulitan membaca, sudah nenek percaya. Jadi mau ngontrak di sini?”


“Iya, Nek.”


“Boleh, Nek.”


“Panggil saja Ami, orang orang memanggil nenek seperti itu.”


“Baik, Ami.”


🌹🌹🌹


Setelah melihat lihat ke sekiling, Vanessa semakin betah. Meskipun ini rumah tua, tapi sangat bersih. Entah bagaimana cara Ami yang sudah tua membersihkannya, tapi ini membuat Vanessa nyaman.


Kamarnya juga bersebelahan dengan Ami, dirinya berada di kamar depan. Memang bersih dan tersorot cahaya matahari dengan baik, hanya saja ranjangnya masih kuno dengan menggunakan kasur kapuk.


Karena kasihan melihat Ami yang memiliki bahan di dapur seadanya, Vanessa berniat memberikan uang mengontraknya sekarang.


Dia menyusul Ami yang berada di dapur sedang membuatkan the.


“Ami ngapain? Buat teh?”


“Iya, buat Neng yang udah perjalanan jauh.”

__ADS_1


“Panggilnya Vanessa aja, Mi.”


“Gak enak diucapnya sama Ami, udah Neng aja.”


Vanessa akhirnya mengalah. “Ami ini uang kontrak bulan ini, makasih ya udah mau nerima Vanessa di sini.”


“Sama-sama, Neng. Semoga betah ya.”


“Emang Ami gak takut ya kalau ada orang jahat yang ngontrak di sini, Mi? takutnya macem macem gitu mau ambil barang barang.”


Ami menggeleng. “Ami serahkan semuanya sama Allah, yang penting berusaha.”


Vanessa tersenyum, dia bahagia Tuhan membimbingnya kembali untuk tinggal bersama orang yang dekat dengan-Nya. Setidaknya ini selalu membuat Vanessa ingat akan Tuhan.


“Biar Vanessa aja yang bawa, Mi.”


“Gak papa, Neng beres beres aja.”


“Udah sini.” Vanessa mengambil alih baki itu dan melangkah mendahului menuju kamarnya, dia belum selesai beres beres.


Ami menyusul ke dalam, dia senang memiliki teman di rumahnya. 


“Neng the dari mana?”


“Dari Bandung, Ami.”


“Ke sini kerja?”


“Iya,” jawab Vanessa sambil memasuk masukan pakaiannya ke dalam lemari.


“kerja dimana neng kalau boleh tau?”


“Itu dia, Ami. Belum nemu kerjanya.”


“Coba sini tangannya Ami lihat.”


“Kenapa, Ami?” vanessa menyerahkannya, memperlihatkan telapak tangannya. “Ami bisa baca masa depan?”


“Bukan membaca masa depan, hanya menerawang dari garis tangan.”


“Terawang, Mi,” ucap Vanessa senang. “Nanti gimana nasib saya ke depan?”


“Ami gak bisa bilang dengan detail, tapi…….” Ami memakai kacamatanya dan mengusap garis tangan Vanessa. Merasakan garis garis yang ada di dalam telapak tangan Vanessa. “Tapi Ami merasakan ada pria setia yang akan menemani Neng sampai kapan pun.”


🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2