
🌹Votee dong ya ghais🌹
🌹Jangan lupa ajak yang lainnya juga yak.🌹
“Kapan kita ke Raja Ampat, Mas?”
“Minggu depanan ya.”
“Kamu sekarang mau pergi?”
“Iya, kan kamu tau aku harus selesain ini dulu. Sendiri dulu di sini, tapi jangan ke mana mana.”
Vanessa yang sedang tiduran di atas ranjang itu mengangguk sambil berguling guling.
“Tutup itunya, Van.”
“Sayang ih, manggilnya Sayang dong.”
“Iya itunya tutup dong, masa keliatan gitu.”
“Bikin kamu mau lagi ya?”
“Van,” rengek Judi yang mana malah membuat Vanessa tertawa terbahak bahak.
Dia tidak tahan melihat wajah suaminya yang memerah akibat menahan hasrat. Dia sudah siap dengan pakaian rapi akan bertemu seseorang.
“Jangan kemana mana ya.”
“Iya, emang aku mau kemana sih?”
“Aku suruh penjaga hotel supaya kamu gak keluar.”
“Iya,” jawab Vanessa sambil memainkan ponselnya. “Tapi nanti beliin makanan ya.”
“Mau apa?”
“Apa aja deh, yang pedes pedes ya.”
__ADS_1
“Oke.”
Judi bergegas pergi ke kamar mandi dulu sebelum bersiap siap pergi, memang pusat pekerjaannya ada di sini. Sambil merapikan rambutnya, Judi berfikir untuk kembali tinggal di Indonesia. Tidak ada lagi yang harus dia khawatirkan, karena Vanessa adalah miliknya. Kini gilirannya untuk melindungi sesuatu yang berharga miliknya dan memberikan kebahagiaan.
“Kenapa liatin aku?” tanya Vanessa saat sadar diperhatikan. “Mau lagi ya?”
“Apaan ih enggak,” ucap Judi yang segera berpaling. “Aku berangkat ya.”
“Kiss dulu napa, Mas.”
“Takut kebablasan, Van.”
“Aku salim doang,” ucap Vanessa mendudukan diri dengan tangan terulur meminta pada Judi. “Sini mau salim.”
“Tahan tuh selimutnya.”
“Iya ini juga ditahan.”
Dan saat Judi memberikan tangan kanannya yang dibalas salam oleh Vanessa. Sebelum suaminya menarik tangannya, Vanessa menarik lebih dulu hingga suaminya menunduk dan dengan sekejab dia memberikan ciuman di pipi.
CUP.
Judi berdehem gugup, dia merasa keadaan terbalik tidak seperti pasangan pasangan pada umumnya yang mana biasanya pria yang mendominasi.
“Ya, Mas? Jangan seliweran, langsung pulang. Tar aku siapin yang anget anget.”
“Iya,” jawab Judi pelan.
“Gak mau kiss balik sama aku?”
“Gak lah nanti repot.”
🌹🌹🌹🌹🌹
Mile memperhatikan majikannya yang lebih banyak diam setelah pertemuan dengan beberapa orang penting.
“Apa ada yang mengganggu pikiran anda, Tuan?”
__ADS_1
Judi diam sesaat sebelum dia menghela napas. “Apa kau pikir ini saatnya aku dan Vanessa pindah ke Indonesia? Ke rumah yang aku beli sebelumnya.”
“Mungkin anda bisa mendiskusikan dahulu dengan Nyonya Vanessa.”
“Yang membuatku bingung adalah Oma Asih, apa yang harus aku lakukan padanya? Dia sudah tua dan ingin ada yang menemani.”
“Menurut saya, Nyonya Besar akan mengerti,” ucap Mile yang tahu kalau nenek dari majikannya itu juga akan pindah ke Indonesia dan tinggal bersama saudarinya.
“Pekerjaanku juga banyak di sini.” Judi menghela napas. “Bisakah kita berhenti di sebuah butik?”
“Tentu, Tuan.”
“Butik pakaian wanita.”
“Baik.”
“Dan, Mile….”
“Iya, Tuan?”
“Kau keluarkan semua perabotan di rumah yang aku beli. Sumbangkan saja ke panti asuhan.”
Tanpa bertanya, Mile menjawab, “Baik, Tuan.”
“Aku akan senang jika Vanessa sendiri yang mengurus rumah itu dan mendesain sesukanya.”
Mile mengangguk.
“Dan juga, bisa kau carikan dokter kandungan wanita?”
“Saya akan melakukannya, Tuan.”
Judi mengangguk, dia menatap kea rah jendela. Bibirnya tersenyum mengingat keberadaan Vanessa di sampingnya.
Namun saat berhenti di butik, tempat itu penuh. “Tempat ini penuh, Tuan. Mungkin saya bisa membelikannya untuk anda.”
“Tidak perlu, aku ingin memilih sendiri hijab untuk istriku.”
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
TBC