
🌹VOTEEE YAAA GEISSHH🌹
"Masa sih, Bang?" Tanya Madelle masih penasaran. Dia menyipitkan matanya menatap sang putra. "Bang! Itu mahal loh, masa kamu gak minta apa apa sama Mamah."
"Ikhlas, Mah. Mamah emang mau Abang gimana?"
"Yakali kan dulu kalau mau apa apa biasanya juga kasih Mamah apa gitu, terus nantinya minta yang aneh aneh."
"Mana ada begituan, gak ada," ucap Alan risih dengan Madelle yang bahkan mengikutinya mengambil bahan dalam kulkas. "Mamah ih munduran."
"Apa emangnya? Mamah penasaran doang, Bang. Mamah duga nanti mintanya bakal yang aneh aneh plus mendadak."
"Enggak ya Allah, Mah. Udah duduk, atau temenin Inanti di kamar."
Madelle berdecak, memang Inanti sedang memompa asi di kamar untuk dibawa bersama dengan Madelle nanti. Hingga membuat Madelle leluasa mendesak anaknya mengatakan apa keinginannya.
"Bang! Bilang mau apa ih! Mau punya adek lagi?"
"Apaan ade lagi? Alden aja masih bocah."
"Yaudah bilangnya sekarang. Kamu mah suka ngedadak, nanti bikin Mamah kewalahan lah."
"Mamah mau nebeng makan siang gak?"
"Ya nebeng lah," ucap Madelle menjauh, dia memilih keluar melihat balkon gazebo.Â
Kesal dengan Alan yang belum menyebutkan keinginannya, Madelle ke kamar setelah sebelumnya mengetuk. "Nan, Mamah masuk ya."
"Masuk aja, Mah."
Madelle kembali menutup pintu. "Tidur?"
"Tidur, ***** banget kayak bapaknya."
"Sama kayak Mamah deh."
"Eh?" Inanti merasa bersalah.
"Udahan haid nya, Nan?"
"Udah, Mah. Tinggal keramas nanti sore."
Madelle menimang apa yang diinginkan Alan karena memberinya kursi pijat. "Nan, mau cepet hamil?"
"Hah? Nadia aja masih kecil, Mah."
__ADS_1
"Mumpung masih muda, baru berapa taun?"
"Sembilan belas?"
"Ya Allah, muda banget ya. Si abang ulang tahun ke dua puluh sembilan. Mau kado apa? Mending testpack aja, isinya yang positive. Pasti dia bahagia."
Inanti diam. "Gimana ya, Mah….."
"Percaya sama si Abang, Nan. Dia pasti bakal jagain kamu."
"Emang kapan dia ulang tahun?"
"Tiga bulan lagi. Nah kan ada waktu tuh, Mamah bisa daftarin kamu buat promil."
Inanti masih berpikir diam.
"Gimana dikasihnya aja, Mah. Inanti gak KB kok, jadi kalau Allah kasih rezeki lagi, gak mungkin Inanti nolak."
🌹🌹🌹
Seorang pelayan datang menyusul Madelle untuk membawakan barang Nadia.
Alan yang menciumi Nadia tidak henti hentinya mencium putrinya sambil memeluknya.
"Udah, Bang. Siniin Nadia nya."
"Bang, Nadia nya siniin."
"Nanti bawa pulang lagi ya, Mah."
"Ya iyalah, kamu berduaan dulu sama Inan," bisik Madelle.
Sat ini Inanti sedang bicara dengan pelayan Madelle.Â
"Masih haid, Mah."
"Yakan mungkin tar malem enggak. Udah ah, mau pulang. Sini Nadia."
Madelle mangambil alih cucunya. "Uhhhhh, cucunya Mbah lucu banget sih."
"Hati hati, Mah. Pake supir kan?"
"Iya, besok ke rumah jemput sama mau makan makan."
Alan mengangguk.
__ADS_1
"Nan, Mamah mau pulang!" Teriak Madelle.
Alan dan Inanti mengantar mereka sampai di ambang pintu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Alan dan Inanti.
"Jalan yuk, Yank," ucap Alan saat kembali masuk.
"Aku belum mandi."
"Aku tunggu."
Inanti mengangguk, dia pergi ke kamar mandi untuk membasuh tubuh. "Mas?!" Panggil Inanti dari dalam kamar mandi.
"Kenapa, Yank?"
"Air panasnya gak nyala."
"Tadi ada pemberitahuan kalau ada perbaikan."
Inanti mengerucutkan bibirnya, dia terpaksa keramas dengan air dingin. Dinginnya air membuat Inanti menggigil kuat, giginya gemeltukan.
Saat selesai memakai handuk, Inanti keluar. Dia terkejut Alan ada di sana.
"Kok keramas, Yank? Udah beres haid nya?"
"Udah."Â
Saat itulah Alan tersenyum, yang mana membuat Inanti berkata, "Nanti aja, Mas. Abis isya ya? Biar keramas lagi pagi pagi."
Inanti tidak tahan mandi dingin. Tinggal bersama Alan dia terbiasa mandi air hangat.
Alan mendekat dan menyentuh kulit dingin istrinya. "Dingin, Yank? Mau dipeluk?"
"Mas….," Rengek Inanti.
"Nanti mandinya bareng aku, biar anget."
"Dua jam lagi maghrib loh."
"Lumayan dong, Yank. Dua jam bisa empat ronde."
🌹🌹🌹
__ADS_1
Tbc