
🌹VOTEEE OYEEE OYEEEE🌹
"Udah mendingan?" Tanya Judi yang masih mengusap punggung Vanessa. Tidak ada jawaban dari istrinya. "Kok sumilangnya lama amat sih?"
"Kamu gak tau gimana rasanya jadi perempuan. Sakitttt…. Aaahhhhh…. Gitu suaranya."
Judi menggeleng tidak percaya dan terus mengusap punggung istrinya yang mencoba terlelap di malam hari yang hujan ini.
"Makannya makan malam, kan udah dibilangin dari tadi."
"Gak ngaruh," ucap Vanessa dalam lelapnya.
Judi berdecak. "Mana ada tenaga, biar gak sakit lagi. Yuk makan."
"Ogaaahhhh aaaaaahhhh, kan aku lagi diet."
Judi diam, dia memikirkan sesuatu sampai akhirnya sebuah ide terbesit di pikirannya. "Aku lebih suka cewek bohay berisi, bukan yang cungkring."
Seketika Vanessa berbalik, dia menatap manik suaminya. "Kalau tubuh indah ini?"
Vanessa menurunkan selimut yang memperlihatkan dadanya yang dibalut bra. Belahan dadanya terlihat jelas di sana.Â
Judi mencoba untuk tidak tergoda. "Gak suka, Ijah. Terlalu kerempeng."
"Tapikan pantat sama dadanya gede. Ini montok loh, mau pegang?"
"Gak lah, lebih suka yang pipinya chubby."
Vanessa berdecih, dia kembali tengkurap membelakangi Judi untuk berfikir. Vanessa kesal kenapa pria brondong itu tidak mengatakannya sejak awal. "Suka yang perutnya berlipat gituh?"
"Gak gitu juga, Jah. Yang berisi lah. Ini kan liat, emang sih dada sama pantatnya montok, tapi liat bagian lagi kering banget."
"Yaudah kalau kamu maksa, aku mau makan," ucap Vanessa pada akhirnya. Karena sebenarnya dia juga lapar tapi menahannya.
"Mau makan di sini aja?" Tanya Judi.
__ADS_1
Vanessa mengangguk, membuat Judi turun ke bawah setelah menutup kembali tubuh Vanessa yang hanya memakai pakaian dalam dengan selimut.
Ini sudah jam sepuluh malam, Dan Vanessa belum bisa tidur karena mulas.
Saat sedang memasak nasi goreng, Oma Asih keluar karena mencium aroma enak.
"Subhanallah, aroma enak apa ini?"
"Oma?" Tanya Judi kaget. "Oma mau?"
"Mau lah, masa mau dong. Tuangin ke sini, Oma capek tadi ngurus istri kamu," ucap Oma Asih mengambil piring untuk meminta nasi goreng. "Dia mau makan? Nyuruh kamu?"
Mendengar nada Oma Asih, Judi segera menjelaskan, "Iya, Vanessa lagi sumilang lagi. Makannya aku buatin, Oma."
"Duh, Oma khawatir."
"Kenapa?" Tanya Judi memberikan sepiring nasi goreng.
"Katanya yang sumilang itu susah loh punya anak."
"Amit amit," ucap Judi santai. "Jangan bicara kayak gitu, Oma. Bisa jadi doa loh."
Kenyataannya, Judi tidak suka saat ada orang lain ikut memanggil nama Vanessa dengan sebutan Ijah. Karena itu hanya panggilannya untuk mendidik istrinya.
"Oma, aku tidak suka jika Oma memanggilnya Ijah."
Oma Asih yang sedang menyuap itu menatap Judi sebentar. "Baiklah, Oma akan memanggilnya Vanessa."
"Terima kasih Oma."
🌹🌹🌹
Vanessa terbangun saat mendengar suara orang mandi, dia mengerutkan kening melihat ini sudah jam enam pagi.
Vanessa berusaha bangun untuk menyiapkan pakaian Judi sebelum kembali berbaring.
__ADS_1
Saat keluar, Judi mendapati kemeja yang sudah disiapkan. Dia memakainya tanpa berpikir panjang Â
Dan saat itu mata Vanessa terbuka menatap Judi yang kesulitan memakaikan dasi. Membuatnya terpaksa bangun dan mendekat. "Dasar bocah, ikat dasi aja belum becus," ucapnya membantu Judi memakaikannya.
Sambil menguap lebar, Vanessa menyimpulkan dasi di leher suaminya.
"Bisaan banget ngiketnya, sering?" Tanya Judi mencoba tidak melukai perasaannya jika menyindir lebih dalam.
"Sering, dulu sering iketin dasi papa aku," jawab Vanessa santai. "Tapi pas dia nikah lagi udah enggak, kan ada istri baru."
"Waktu kamu kelas berapa?" Tanya Judi yang membereskan rambut istrinya yang berantakan di bahu.
"Masih kecil, kelas empat SD waktu itu."
"Punya adik dong?" Tanya Judi formalitas, sebenarnya dia tahu seluk beluk silsilah keluarga Vanessa. Tapi Judi lebih suka melihat keterbukaan istrinya.
"Punya dua, cewek semua. Nyinyir lagi, soalnya emaknya titisan biang gosip."
"Ngomongnya di saring, Ijah."
"Emang iya, benci aku sama mereka. Kalau ada udah aku cekik tuh, serasa jadi Cinderella tau akutuh, Mas Sayang."
Judi berdecak. "Mana ada Cinderella bar bar."
"Cinderella memang harusnya bar bar. Kalau dia manusia, setiap benturan dan benturan dari orang lain membuat dia terbentuk menjadi karakter baru. Tapi karena Cinderella dalam dongeng alien, jadi gak aneh kalau baik terus."
Judi terasa pusing mendengarnya, dia memilih mengalihkan perhatian. "Emang lama gini ngiket dasi?"
"Enggak lah, ini ditambah unsur kesengajaan."
"Hah?"
Vanessa menggigit bibir bawahnya, dia mendekatkan dadanya dengan milil Judi hingga menempel. "Empuk kan? Tuh dada aku montok, katanya suka yang montok montok."
"Istigfar, Ijah. Jangan mulai lagi."
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC.