
🌹🌹Vote dulu yaa ghaissstrong🌹🌹
🌹🌹Jangan Lupheeee follow igeh emak kampoeng ini : @RedLily123🌹🌹
Vanessa menunggu panggilan dari petugas untuk menemui ayahnya. Dengan koper besar di sampingnya, Vanessa tidak punya tujuan untuk pergi. Dia juga tidak punya keahlian untuk bekerja di mana pun.
Jadi, rencananya sekarang adalah mencari kontrakan kecil dan bekerja apa saja yang bisa menghasilkan uang. Namun, sebelum itu, Vanessa ingin menyelesaikan masalahnya dengan ayahnya. Dia juga berencana mengunjungi ayahnya setiap saat.
Kejadian ini mengingatkannya pada Inanti yang juga pernah memiliki ayah yang dalam penjara. Dan setiap saat Vanessa mengejeknya, dia juga mengajak temannya yang lain untuk ikut mengejeknya sehingga perempuan muda yang mengandung anak Alan itu menangis.
“Nona Vanessa.”
“Ya.” Vanessa berdiri.
“Ikuti saya.”
Vanessa melakukannya, dia diantar ke ruang untuk mengunjungi narapidana. Hanya kaca transparan yang memisahkan. Vanessa duduk lebih dahulu menunggu kedatangan sang ayah.
Baru beberapa menit menunggu, pintu ruangan di dalam sana. Ayahnya yang diantar oleh petugas lapas nampak terkejut melihat kedatangannya.
Ayahnya duduk dihadapannya dengan raut wajah datar.
Petugas itu menunggu di belakang ayahnya.
Saat itulah Vanessa mulai berbicara. “Papah….,” panggilnya dengan suara pelan.
Ayahnya diam saja, tentu dia ingat bagaimana putri kandungnya sendiri membuangnya dan meninggalkannya.
“Dimana suamimu? Kenapa dia tidak ikut?”
“Bagaimana kabar Papah?” tanya Vanessa mengalihkan perhatian.
“Minta pada suamimu agar membebaskan ayah secepatnya, jika tidak ayah akan benar benar mencoretmu dari kartu keluarga.”
“Dia tidak ada di sini, dia ada di Belanda tentu saja.”
“lalu untuk apa kau datang? Mengejek Papah? Hanya mengatakan kalau kau sudah bahagia dan meminta Papah untuk tidak mengganggumu lagi.”
“Bukan begitu, aku hanya merindukan Papah.”
“Hanya merindukanku? Kau rindu mengejekku?”
__ADS_1
“Aku ingin meminta maaf pada Papah atas apa yang aku lakukan, memang tidak seharusnya aku meninggalkan dan menelantarkan Papah begitu saja. Meskipun ini salah Papah karena korupsi demi wanita itu.”
Vanessa berdehem ketika melihat raut wajah masam ayahnya. “Maaf, Pah. Vanessa janji akan datang seminggu sekali dan membawakan makanan enak ya.”
“Papah tidak butuh makanan, Papah butuh keluar dari sini. Papah tau suamimu memiliki banyak uang, jadi minta dia memberikan pengacara terbaik.”
“Pah…., aku belajar dari suamiku kalau apa yang ditanam, maka akan dituai. Jadi tebuslah kesalahanmu di dunia ini, Pah, sebelum Allah yang memberikannya.”
Tanpa diduga, ayahnya malah tertawa terbahak bahak. “Lalu bagaimana denganmu? Kau tidak mendapatkan apa pun, mana karmamu?”
Vanessa menarik napas dalam, dia menatap petugas di sana kalau dia selesai berkunjung.
“Mau kemana kau?” tanya ayahnya melihat anaknya berdiri.
“Minggu depan baru aku bawakan makanan. Kalau sekarang tidak, sebenarnya aku lupa. Sampai jumpa lagi, Pah.”
Kemudian Vanessa keluar sambil membawa kopernya dan mencari tempat tujuannya.
Dan ketika tersandung batu di depan kantor polisi…, “Aduh, anjirrr.”
“Bilang apa, Neng?” tanya polisi wanita paruh baya di depan sana.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Judi terbangun, matanya melihat ke langit langit putih. Akhirnya dia bangun dari mimpi buruk dan tekanan batin yang menyerangnya.
Judi mendudukan diri, dia mengedarkan pandangan dan tidak mendapati siapapun di kamarnya. Ini bagus untuknya, Judi ingin sendiri dan mengandalikan dulu. Dia yakin sekretaris pribadinya sudah menyiapkan penerbangan ke Indonesia untuknya, dia juga yakin kalau Mile sudah melacak keberadaan Vanessa.
Judi berdiri, dia ke kamar mandi untuk berwudhu dahulu. Dia menatap pantulan dirinya dalam cermin, tidak menyangka Vanessa akan membawa dampak sebesar ini untuknya sendiri.
Saat keluar kamar, di sana sudah ada psikiater yang menanganinya saat kecil.
“Tan?”
“Udah baikan, Jud?”
“Mayan.”
“Udah bening kan pikiran?”
“Tante lagi males jadi psikiater?”
__ADS_1
“Kamu tau apa obatnya, Jud.”
Judi mengangguk. “Aku mau pergi kok, ini mau kemas kemas.”
“Boleh dong Tante bilang sama Oma kamu kalau kamu udah bangun?”
“Lima menitan lagi, Tan, baru bilang. Mau packing pakaian dulu.”
“Tante keluar ya, diitung diluar nyambil nurunin tangga.”
Judi hanya mengangguk, dia melangkah menuju walk in closet dan mengemasi pakaiannya yang baru mengingat pakaian bekas dari Malaysia itu kotor.
Belum juga lima menit, terdengar pintu terbuka. Judi sedang malas bicara.
Tapi berbeda dengan dugaannya, Tante metry di sana justru memberikan sebuah surat. “Ini dari Vanessa, kamu belum baca.”
Setelahnya Tante Metry keluar kmar.
Seketika Judi duduk untuk membacanya, dia menarik napas dalam sebelumnya.
Dan disana tertulis :
Mas judi, maaf aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu.
I think…., kamu udah tau apa alesan aku pergi. Ya, aku gak bisa ngasih kamu keturunan, dan sebaik baiknya wanita adalah yang memiliki Rahim yang hangat.
Jangan khawatir, aku pergi bukan untuk mengganggu Alan sama Inanti kok.
Kamu itu baik, dan kamu pantes jatuh cinta lagi. Inget, jangan mikirin bini orang mulu, mending cari bini yang bikin hati sreg gitu.
Tujuan kamu nikahin aku kan buat jauhin aku dari Inanti sama Alan, jadi don’t worry, aku janji gak akan ganggu mereka kok.
Nih ya, aku pergi karena sayang sama kamu, dedek kecil. Makannya awas aja kalau gak dapet cewek yang baik sama seksi oke.
Makasih udah mau didik aku jadi lebih baik, makasih udah ngenalin dunia indah dengan Tuhan.
Aku sayang kamu, Mas.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
TBC
__ADS_1