
🌹VOTE DONG GAIS🌹
"Mas gak keluar?"
"Hah? Tadikan udah keluar di dalem kamu."
Seketika Inanti jengkel, dia mencubit tangan Alan yang memeluk lehernya.
"Aduh. Sakit, Nan. Kayak kepiting aja sih nyubit mulu."
"Lagian kamu jawabnya gak waras."
"Kan fakta, emang gak kerasa gitu tadi?"
Inanti bungkam, dia kesal setengah mati. Sebagai pelampiasan, dia memilih memakan keripik kentang dalam mangkuk yang dia pegang.
Mereka berdua tengah duduk di sofa setelah sarapan, sambil menonton berita dan makan cemilan. Inanti yang menyandar pada dada suaminya, lalu dibalas pelukan dari belakang oleh Alan membuatnya sangat nyaman.
"Enggak, Sayang. Aku di sini aja nemenin kamu, atau tepatnya nunggu kamu, mau gabrug kamu lagi soalnya," ucap Alan sambil makan keripik yang ada dalam pelukan istrinya. "Nanti mau kuda kudaan lagi, Yank?"
"Kamu gak jadi ke Sumatera?"
"Sumatera? Jambi, Sayang. Jauh banget jadi Sumatera."
"Iya itu."
"Kayaknya enggak deh, maunya sama kamu aja. Atau kali diundur jadwalnyau
"Oh iya, aku mau cuci sprei dulu."
"Mau kemana…?" Alan menarik istrinya kembali duduk saat hendak bergerak pergi. "Makan dulu."
"Udah mau panas, Mas. Sprei sama selimut kotor."
"Kita suruh aja orang di bawah, nanti bayar. Jangan nyuci, kamu kan katanya cape, jalan aja masih ngilu, udah diem aja."
"Masa dicuci sama orang, kan malu," ucap Inanti berbalik menatap suaminya.Â
Alan menatap heran. "Malu kenapa?"
"Eum… kan banyak itu nya."
"Apanya?"
Inanti diam sesaat.
"Yank?"
"Ada banyak yang lengket lengket, masa dicuci sama orang, Mas."
"Kan mereka profesional, Sayang," ucap Alan menyelipkan rambut panjang Inanti ke belakang telinganya. "Lagian aku bayar, suka dua kali lipat malah."
"Tetep aja kan…."
"Udah, sini nonton lagi," ucap Alan kembali memaksa istrinya bersandar, dia mengusap rambut Inanti sebelum menciumnya lama.
Dan itu membuat suhu tubuh Inanti memanas sesaat, dan berdampak pada giginya yang mengunyah pelan.
"Nadia katanya mau dianterin sore, tapi agak maleman."
Inanti merindukan bayinya. "Kita susul aja, Mas. Kasian kali dari kemaren mau enen."
"Kan Mamah juga bawa asi waktu itu, Yank. Mamah sama Papah ada acara di kantornya Papah, Nadia dibawa buat dipamerin."
"Oh… pantesan."
__ADS_1
Inanti kembali menatap acara tv di depannya, sebuah acara hiburan yang memperlihatkan seorang anak yang jatuh saat naik sepeda.
"Kamu gitu, Yank kalau ada motor nyerempet."
"Apa? Yang enggak lah, akutuh udah ahli naek sepeda, Mas," ungkap Inanti memamerkannya.
"Emang? Kamu bisa apa aja?"
"Dulu waktu Ibu sakit aku naek sepeda cari bapak, aku keliling Jakarta sampe ketemu loh. Itu ketemu juga jam 1 malem, Mas. Terus pas kuliah aku kan naek sepedah tuh, dari rumah jam 5 pagi, Mas. Terus gak telat."
Alan termenung, apa yang Inanti unggulkan jelas membuatnya diam. Semua itu bukan hal untuk dibanggakan, ada kesedihan yang membuat Alan selalu ingin membunuh dirinya sendiri.
"Tapi waktu itu aku liat kamu telat pas ospek hari ketiga, Yank."
"Ban sepedaku bocor, Mas."
"Kan bisa naik angkot, Sayang."
"Uangnya aku pake buat tambal sepeda, itu aja pake uang buat aku makan. Sayang sih…., tapi gimana lagi."
Alan kembali terdiam, dia tahu alasan Inanti pingsan saat itu.
🌹🌹🌹
Karena ada pekerjaan mendadak, Alan harus bergelut di ruang kerjanya. Meninggalkan Inanti yang cemberut di sofa.
"Ibu, mau dibuatkan cemilan?" Tanya Bi Idah yang datang dua puluh menit lalu.
"Buatin es kuwut ya, Bi."
"Bahannya saya beli dulu ya, Bu."
"Sama titip itu, Bi, tissue abis."
"Abis, Bu?" Tanya Bi Idah tidak percaya, lusa saja saat dia membersihkan masih banyak stok. "Baik, Bu."
Namun, dia perlu menemui Alan. Inanti benar benar bosan.
"Mas?" Inanti mengetuk pintu dari luar ruang kerja.
"Masuk, Sayang. Gak dikunci kok."
Inanti membukanya, dia menatap dari ambang pintu. "Mas…"
"Hmm?" Alan sedang fokus pada laptop. "Kenapa jalan sendiri? Kan kata aku panggil kalau mau digendong."
"Ada Bi Idah lah malu, masa digendong kayak bocah."
"Sini," ucap Alan mendekat lalu memangku Inanti agar duduk di pangkuannya. "Kenapa? Mau apa?"
"Ngerjain apa sih."
"Liat laporan dari Karl."
"Bahasa apa ini?"
"Bahasa China, Sayang. Kamu mau belajar?"
"Kamu bisa bahasa China?"
Seketika Alan tertawa sambil mengusap rambutnya. "Kamu gak tau lagi ngomong sama siapa, ini Mas Alan loh yang punya hotel, gelarnya banyak, baik lagi, untung jadi suami kamu ya, jadi yang ganteng jodohnya emang yang cantik. Bohai kayak kamu."
Inanti berdecak, dia menyandarkan punggungnya di dada Alan. "Kangen Nadia, Mas."
"Nanti maleman katanya, Sayang. Kan biar kita juga ada waktu berduaan."
__ADS_1
"Halah berduaan gimana, orang kamu nya juga sibuk."
"Cieee…. Yang mau berduaan sama Mas Alan. Kangen ya? Padahal baru beberapa menit, Yank."
"Tau ah."
Alan tertawa melihat tingkah istrinya. "Tapi, Yank…"
"Apa?" Inanti menengok suaminya yang memangku dirinya. "Kenapa, Mas?"
"Bintang kamu…. Udah abis semua?"
"Bintang?"
"Kalender maaf itu," gumam Alan sedikit takut menyinggung hal itu.
"Oh." Inanti menjawab dengan santai. "Udah. Tapi kalau kamu nyebelin lagi aku hapus lagi."
"Kapan penuh nya, Yank?"
"Tadi pagi."
"Abis kamu mandi?"
Inanti mengangguk, dia bingung melihat wajah Alan yang tengil. "Kenapa kamu?"
"Katanya kalau udah penuh boleh main kuda kudaan."
Inanti menatap tidak percaya. "Kan semalem udah, tadi subuh udah juga."
"Kan itu sebelum penuh, jadi beda lagi."
"Tap ---- Akkkhh!" Inanti melingkarkan tangannya di leher sang suami saat Alan memangkunya. "Mas ih! Nanti ada Bi Idah."
Dan benar saja, saa itu Bi Idah menekan bel. Dan Alan menjawab dari dalam lewat monitor kunci dari dalam. "Bi, pulang aja. Semua belanjaan buat, Bibi."
"Ba.. baik, Tuan. Tapi Ibu pesan tissue."
"Oh iya," gumam Alan. "Abis dipake semalam, Yank?"
Inanti membalasnya dengan anggukan.
Membuat Alan menjawab pada Bi Idah, "Simpan saja di depan pintu, saya dan Inanti ada urusan."
"Baik, Tuan."
Dan Alan menyeringai saat Bi Idah pergi.
"Mas, ih!"
"Kiss, Nan."
"Gak mau, turunin dulu!"
"Gak mau, mau dibawa ke kamar."
"Belum pake sprei."
"Di lantai, mau?"
"Aaaa… Gak mau, dingin."
Dan keduanya masuk ke dalam kamar sambil berdebat.
🌹🌹🌹
__ADS_1
TBC.