
🌹VOTEEE YEEE GHAISSSTRONG🌹
🌹Ig emak beranak dua ini : @Redlily123🌹
Tante Metry tersenyum melihat interaksi Oma Asih dan Vanessa. Mereka sedang membongkar daster yang dipilihkan Oma Asih untuk Vanessa. Dan sialnya, daster daster itu bergaya ibu ibu sekali. Saat Tante Metry ingin memilihkan, Oma Asih malah marah saat itu. Yang membuat Vanessa kini menatap satu per satu pakaian itu dengan bingung.
Sampai keberadaannya disadari oleh ibunya.
"Metry, ngapain di sana?"
Seketika senyuman Tante Metry memudar. "Lagi liatin kalian lah."
"Sana kerja, nanti Ibu makan apa kalau kamu gak kerja."
Suara ketus Oma Asih sudah biasa bagi Tante Metry, dia mengambil tas nya.
"Van, Tante berangkat dulu ya. Ibu mau pesen apa?"
"Ibu gak mau pesen apa apa, gak mau nyusahin sama yang namanya anak. Asal nanti kalau gajian jangan lupa aja jasa ibu."
Tante Vanessa menggeleng tidak aneh. "Berangkat ya, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Oma Asih sendirian.
Membuat Oma Asih mengerutkan kening menatap Vanessa yang tidak menjawab. "Jawab dong, Jah."
"Oh iya lupa, Waalaikum salam," ucap Vanessa lalu kemudian fokus melihat lihat daster.
"Ini untuk aku semua, Oma?"
"Iyalah, Ijah. Biar kamu gak seksi seksi amat, nanti Judi gak pangling liat kamu seksi."
"Tapi masa pake daster beginian, Oma."
"Dibalik pria sukses, ada wanita berdaster."
"Masa iya, Oma?"
"Udah, sana pake dulu. Nanti Oma ajarin masak."
"Serius, Oma?"
"Cepetan sana, Ijah!"
__ADS_1
"Siap, Oma," ucap Vanessa bergegas pergi menuju ke kamarnya untuk ganti baju.
Sejak kecil tidak pernah diperhatikan, ayahnya gila kerja, ditambau ibu tiri melahirkan anak anak baru. Tidak ada kasih sayang untuk Vanessa, tapi orang yang melihatnya dari luar, menyangka dia adalah anak orang kaya yang bahagia dengan segala kemewahannya.
Padahal, semua itu tidak benar. Vanessa dimanjakan dengan uang, bukan kasih sayang.
Setelah selesai berganti, Vanessa turun. Dia memilih salah satu daster bertangan pendek yang selutut. "Nyaman juga," ucap Vanessa. "Biarpun tidak bermerk, lumayan."
Oma melihat itu tersenyum. "Nah seperti itu baru cucok meong."
"Cantik, Oma?"
"Cantik sih enggak, tapi seenggaknya Oma gak ngerasa ini rumah jadi tempat wanita kucing garong," ucap Oma Asih berjalan menuju dapur. Dia memberi isyarat agar Vanessa mengikuti.
"Kamu bisa masak apa?"
Vanessa diam.
"Gak bisa, Jah?"
"Enggak, Oma," jawab Vanessa.
"Loh loh, Metry bilang kamu lulusan teknik sama administrasi publik. Bisanya apa? Buat kursi bisa?"
Vanessa diam, nyatanya dia tidak bisa apa apa. Vanessa bodoh dalam mata pelajaran, karena dia selalu mengandalkan uang untuk memperbaiki semuanya. Semua tugas tugas selalu dikerjakan orang lain, dia hanya perlu memberi uang.
Vanessa diam, dia bingung menjawab apa. Karena yang dia tahu hanya merk sepatu, tas dan pakaian pakaian mahal.
"Oma mau gak ajarin aku masak?"
Oma berdecak. "Coba masak mie."
"Itumah bisa, Oma."
"Kreasikan mie. Oma kasih bahannya terigu sama telur. Terserah mau digimanain. Tapi bahan utamanya itu."
🌹🌹🌹
"Ada apa, Mile?" Tanya Judi saat sekretarisnya datang.
Dia lelah setelah memeriksa berkas yang dikirimkan dari Indonesia. Ada beberapa hal yang janggal, membuat Judi ingin pergi ke sana segera.
"Rumah anda ditawar di Indonesia dengan harga 150 millyar, Tuan."
__ADS_1
Judi diam, dia memang menjual rumah mewahnya di Indonesia. Menimang sebentar, apakah dirinya akan kembali ke sana atau tidak.
Pertimbangannya ada di kedua orangtuanya yang dimakamkan di sana. Judi tentu saja ingin kembali ke sana.
"Apa anda akan melepaskannya, Tuan?" Tanya Mile lagi.
"Berikan saja," ucap Judi pada akhirnya. "Dan beli sebuah apartemen di kawasan elite, dengan posisi strategis."
"Di dekat tempat tinggal lama anda, Tuan?"
Judi menggeleng. "Di Bandung saja," ucapnya entah mengapa.
Padahal letak makam kedua orangtuanya berada di Jakarta.
"Dekat tempat Nyonya Vanessa?"
"Agak jauhan sedikit."
"Baik, Tuan."
Setelah Mile pergi, Judi diam sebentar. Ini sudah waktunya pulang, tapi dia masih diam dan menimang apa yang akan dilakukannya dengan Vanessa untuk jangka waktu yang lama.
Judi teringat Vanessa selalu meminta tidur bersamanya. Membuatnya bergumam, "Apa dia pernah melakukan itu sebelumnya?"
Pertanyaan itu berulang kali membuat Judi menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh berburuk sangka. "Tidak masalah masa lalunya, asalkan di masa mendatang dia menjadi lebih baik."
Itu prinsip Judi. Lebig baik mantan preman daripada mantan ustadz.
Judi akhirnya memutuskan pulang. Dan saat diperjalanan, Judi melihat ada seseorang bertubuh mungil dan memakai jilbab. Mengingatkannya pada Inanti.
Judi menggeleng. "Pikirkan istrimu, Judi," ucapnya pada diri sendiri.
Dan ketika sampai di mansion. "Assalamualaikum," ucap Judi.
"Waalaikum salam," jawab Oma Asih ketus.
Membuat Judi mengerutkan kening. "Oma? Kenapa cemberut begitu?"
"Judi! Istri kamu itu pisau yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Oma harap dia membuat goreng mie dengan bahan yang Oma sediakan, tapi dia malah membuat brownies mie."
🌹🌹🌹
TBC
__ADS_1
Si Biang Kerok