
🌹Votee ya ghais, seriusan Emak gak nyangka kenapa novel novel receh emak pada banyak yang suka? Huhuhu terharu, kok bisa ya pembacanya lebih dari 10 juta? Bagaimanapun, itu rezeki Emak. Rezeki datang dari mana saja, termasuk dari kalian para pembaca yang selalu memberikan support. Terima kasih sekali, Emak sayang kalian.🌹
🌹Oh ya, ajak yang lain juga buat baca ini yak.🌹
🌹Follow juga ya ig Emak, muehehehehe : @RedLily123🌹
🌹Selamat membaca🌹
Tante Metry mengerutkan keningnya melihat ibunya sedang sibuk berbicara dengan pelayan di sana, dan itu membuat Tante Metry panasaran hingga mendekati Oma Asih. “Ibu…..”
“Met, akhirnya kamu pulang. Sini Ibu mau ngomong.”
Tante Metry mendekat, dia melihat ada desain sebuah kamar yang dipenuhi dengan beberapa titik boneka, mainan anak. Seperti perpaduan antara kamar orangtua dan anak anak.
“Apa ini, Bu?”
“Kamara masa depan Judi sama Vanessa lah, ini buat bayi bayinya nanti. Ibu siapinnya emang nanti kalau mau lahiran, tapi ibu exited banget pilih pilihnya.”
“Ibu….,” ucap Tante Metry lembut. “Ayo ngomong bentar, ininya simpen dulu.”
Tante Metry memberikannya pada pelayan dan menyusuhnya menjauh. Kemudian dia menarik pelan tangan Oma Asih hingga duduk di ruang bersantai dekatjendela. “Bu, jangan buru buru. Vanessa kan.. Ibu tau kondisinya.”
“Insyaallah sembuh, Met. Ibu tau kok.”
__ADS_1
“Iya, tapi…. Ibu kan juga pernah ngerasain pertama kali rumah tangga. Mungkin ada bagusnya jika mereka…. Tinggal terpisah dari kita.”
Tante Metry memang berharap Judi dan Vanessa terpisah dari mereka, bukan karena mengusir, hanya saja seharusnya memang begitu.
Sebelum Oma Asih menjawab, Tante Metry segera berkata, “Kan sekarang ada aku yang temenin Ibu, kasian Judi dia kan udah nikah. Kalau masih lajang sih gak papa pulang pergi sering ke Asia Tenggara, lah inikan udah nikah, Bu. Judi banyak kerjaan di sana, kalau maksa tinggal di sini kasian Vanessa. Ditinggal terus suami.”
Tante Metry pikir ibunya akan marah, tapi jawabannya ternyata tidak terduga. “Iya sih, Ibu juga pikir begitu tadi. Harusnnya mereka bareng bareng terus.”
Tante Metry menghela napas lega.
“Coba hubungi Mile, tanya seberapa banyak kerjaannya di Indonesia.”
“Mau apain, Bu?”
“Bulan madu harusnya mereka, jalan jalan di Indonesia ke tempat tempat yang Indah.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Mas, ayo….”
“Van, wudhu dulu doa dulu napa biar anaknya sholeh,” ucap Judi menahan Vanessa saat perempuan itu hendak menciumnya.
Mendengar kalimat itu, baru Vanessa mengangguk. “Oke, OTW.”
__ADS_1
Dan meninggalkan suaminya yang kebingungan di sana. Judi memegang jantungnya yang berdetak kencang, dia tidak menyangka Vanessa seagresif itu.
Dan ketika keluar dari kamar mandi, Vanessa menatap Judi. “Sana giliran kamu, aku mau pemanasan dulu.”
“Baca doa.”
“Iya ini mau searching.”
Dan Judi mencoba untuk tenang, dalam kenyataannya dia gugup dengan sikap Vanessa yang sudah lebih dewasa. Dan detik ini, mulai sekarang, Judi akan menerima apapun keadaan Vanessa. Perawan atau tidak, asalkan Vanessa mau berubah dan berjalan bersamanya menuju keridhoan, Judi yakin akan selalu bersamanya.
Oleh karena itu, dia tidak ragu untuk memulainya.
Judi mencium bibir istrinya, membaringkannya di atas ranjang. Dan ketika melakukan pemanasan itu, Vanessa yang tadinya agresif berubah menjadi malu malu.
Kini berbalik Judi yang menjadi ganas. Bagaimanapun Vanessa wanita pertama baginya, dia memperlakukannya dengan sangat hati hati.
Ketika mendengar suara lenguhan dan desahan istrinya, itu semakin membuat Judi menggila. Kulit bersentuhan dengan kulit, ******* dan menggigit satu sama lain.
Sampai akhirnya Judi siap, dia mulai mengarahkan.
Satu hal yang membuatnya tersadar, Judi menatap istrinya yang memejamkan mata dengan gigi yang menggigit bibir bawahnya.
‘Dia masih perawan,’ ucap Judi dalam hati.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
To Be Continue……